Jumat, 6 Februari 2026. Peringatan Wajib Santo Paulus Miki, Imam dan Kawan-kawan Martir. Jumat Pertama Devosi kepada hati Terkudus Tuhan Yesus. Kitab Putra Sirakh 47:2-11; Markus 6:14-29
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, hidup yang benar tidak selalu berakhir dengan tepuk tangan, tetapi selalu berakhir dalam kemuliaan di hadapan Allah. Kesetiaan sering lahir dalam kerendahan hati dan berbuah dalam pengorbanan.
Daud tidak menjadi besar karena ia kuat, melainkan karena ia tetap rendah hati ketika dipuji dan tetap setia ketika menang. Yohanes Pembaptis tidak mati karena kesalahan, melainkan karena keberaniannya menyuarakan kebenaran.
Sabda Tuhan hari ini menegaskan bahwa iman sejati tidak mencari aman, tetapi setia sampai akhir, apa pun risikonya. Dalam terang Jumat Pertama, kita diingatkan bahwa kesetiaan itu bersumber dari Hati Yesus yang setia mengasihi sampai terluka dan terbuka bagi dunia.
Dalam bacaan pertama, Putra Sirakh memuji Daud sebagai pribadi yang setia kepada Tuhan. Daud tidak mabuk pujian setelah mengalahkan Goliat, tidak membesarkan diri ketika namanya dielu-elukan, dan tidak menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk meninggikan ego. Ia tahu bahwa kemenangan adalah anugerah, bukan prestasi pribadi. Sikap inilah yang sering hilang dalam hidup kita sehari-hari.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jejak Kesetiaan dengan Tangan Kosong
Kita mudah lupa Tuhan ketika berhasil, mudah mengklaim jasa, dan sulit merendahkan hati. Devosi kepada Hati Terkudus Yesus mengajar kita untuk kembali pada sumber kerendahan hati sejati, yakni Hati yang lembut dan rendah, Hati yang mengakui bahwa segala sesuatu berasal dari kasih Allah.
Injil hari ini menghadirkan wajah iman yang lain, yakni keberanian membayar harga kebenaran. Yohanes Pembaptis berdiri teguh menyuarakan yang benar meskipun berhadapan dengan kekuasaan. Ia tahu risikonya, namun tidak memilih diam.
Herodes lebih takut kehilangan gengsi daripada mendengarkan suara kebenaran. Akibatnya, kebenaran dipenggal dan keadilan dikorbankan.
Di sinilah kita melihat betapa Hati Yesus terus terluka oleh penolakan, ketidakadilan, dan ketakutan manusia akan kebenaran. Jumat Pertama mengajak kita untuk menambal luka Hati-Nya dengan keberanian iman dan kesetiaan hidup.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Pertobatan Daud dan Penolakan Nazaret
Kesetiaan Daud dan keberanian Yohanes bertemu secara nyata dalam teladan Santo Paulus Miki dan para martir Jepang. Mereka mewartakan Kristus dengan rendah hati dan menghadapi kematian dengan iman yang teguh. Dari salib penderitaan, Paulus Miki berseru dengan iman yang tak tergoyahkan, ”Apakah dengan penyiksaan ini kalian sanggup merampas harta dan kemuliaan yang telah diberikan Tuhan kepada kami?”
Kesaksian ini lahir dari hati yang bersatu dengan Hati Kristus, Hati yang rela dilukai demi kasih. Dalam hidup sehari-hari, kesaksian itu kita hidupi ketika kita jujur meski dirugikan, setia meski tidak dihargai, dan tetap percaya meski harus menderita.
Saudara dan saudari terkasih, pada Jumat Pertama ini Sabda Tuhan meneguhkan kita untuk tinggal dekat dengan Hati Terkudus Yesus, sumber kekuatan, kesetiaan, dan keberanian sejati. Santo
Paulus Miki dan para martir mengingatkan kita pula bahwa iman yang berakar dalam kasih Kristus akan selalu meninggalkan jejak, meskipun harus dibayar mahal.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Air Mata Daud, Sentuhan Iman, dan Hidup yang Dipulihkan
Marilah kita mohon rahmat agar hati kita dibentuk seturut Hati-Nya, rendah hati dalam keberhasilan, berani dalam kebenaran, dan setia sampai akhir. Semoga hidup kita menjadi penghiburan bagi Hati Yesus dan kesaksian bahwa kesetiaan kepada Tuhan selalu berbuah kemuliaan kekal.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Kesetiaan sejati tidak diukur dari pujian manusia, tetapi dari keberanian hati untuk tetap benar meski harus terluka demi kasih.”
”Ketika hati kita bersatu dengan Hati Kristus, penderitaan tidak mematahkan iman, melainkan memurnikannya menuju kemuliaan yang kekal.”
Tuhan memberkati kita.






