BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kehilangan Menjadi Jalan Pulang kepada Tuhan
Selasa, 18 November 2025. Hari Biasa Pekan XXXIII. Peringatan Fakultatif Pemberkatan Basilika Santo Petrus dan Santo Paulus. Kitab Kedua Makabe 2Mak 6:18-31; Lukas 19:1-10
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARI dan saudara terkasih. Kita sering melihat seseorang yang tegas, berbicara dengan penuh wibawa, namun sesungguhnya sedang berada di persimpangan batin. Sebab di balik ketegasan dan wibawa seseorang, sering tersembunyi pergulatan yang menuntutnya untuk memilih antara jalan yang mudah namun menyesatkan atau jalan yang benar meski penuh risiko dan pengorbanan.
Ibarat seorang pelari yang harus memilih apakah ia akan memotong lintasan agar tiba lebih dulu, atau tetap setia berlari pada jalur yang benar meski lebih berat.
Pada akhirnya, setiap pilihan selalu ada harga yang harus dibayar dan tidak ada jalan yang benar-benar tanpa kehilangan.
Bacaan pertama memperkenalkan kepada kita sosok Eleazar, seorang tua yang dihormati karena kebijaksanaannya. Ia berada dalam situasi yang menguji integritasnya: apakah ia akan menghindari penderitaan demi keselamatan diri, ataukah ia akan mempertahankan martabat imannya?
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Iman yang Tidak Mau Dibungkam
Eleazar memilih kehilangan yang paling besar, yakni hidupnya sendiri demi sesuatu yang jauh lebih bernilai, yakni kesetiaannya pada Tuhan dan teladan moral bagi generasinya. Tindakan ini bukan sikap keras kepala, tetapi sebuah keputusan sadar bahwa hidup yang benar memang menuntut risiko. Ia memahami kesetiaan tanpa pengorbanan hanyalah ide, bukan iman yang hidup.
Dalam Injil, kita bertemu Zakheus, seorang pemungut cukai yang kaya namun dikurung oleh reputasinya sendiri. Ia ingin melihat Yesus, tetapi kerumunan dan keterbatasannya menjadi penghalang. Namun rasa ingin tahu rohani yang sering disebut Paus Fransiskus sebagai “ kerinduan yang membuat kita bergerak melampaui diri sendiri” mendorongnya memanjat pohon ara.
Tindakan yang sederhana, bahkan memalukan bagi kedudukannya, tetapi kerendahan hati itulah yang membuka pintu keselamatan. Zakheus kehilangan keangkuhan, tetapi ia mendapatkan kembali martabatnya sebagai anak Abraham.
Saudari dan saudara terkasih, kedua tokoh ini menggemakan satu kebenaran yang sangat relevan: tidak ada pilihan tanpa kehilangan, tetapi justru di dalam kehilangan itu kita menemukan nilai tertinggi dari hidup.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Membangun Damai di Tengah Dunia yang Runtuh
Eleazar kehilangan nyawa, tetapi menerima kemuliaan moral. Zakheus kehilangan gengsi, tetapi menerima kunjungan Tuhan. Mereka membuktikan bahwa kehilangan adalah jalan menuju pemulihan.
Yesus sendiri pernah berkata, “Barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku, ia akan mendapatkannya kembali.” Kehilangan yang dimaksud bukan selalu kematian, tetapi melepaskan hal-hal yang selama ini menahan kita, seperti kesombongan, kebiasaan buruk, kelekatan, pandangan sempit, atau cara hidup yang menjauhkan kita dari kebenaran.
Maka hari ini, marilah kita bertanya dengan jujur: Apa yang harus saya lepaskan agar Tuhan dapat lebih masuk dalam hidup saya? Apa yang harus saya tinggalkan agar saya memperoleh kembali mata hati yang jernih?
Semoga keberanian Eleazar dan kerendahan hati Zakheus menggerakkan kita untuk menanggalkan apa pun yang menghalangi perjumpaan dengan Kristus. Sebab dalam setiap kehilangan bagi Tuhan, selalu ada hidup yang diperoleh kembali, yakni hidup yang lebih bebas, lebih murni, dan lebih penuh rahmat.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Hening yang Membuka Jalan Rahmat
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Tuhan tidak meminta kita melakukan hal besar, tetapi cukup melepaskan hal kecil yang menguasai hati dan membebani jiwa.”
“Apa yang kita lepaskan demi kebenaran mungkin terasa menyakitkan, tetapi apa yang Tuhan kembalikan selalu lebih jernih, lebih murni, dan lebih hidup daripada yang pernah kita genggam.”
Tuhan memberkati kita.





