BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mengenal Kristus, Menghidupi Kesaksian
Sabtu, 02 Mei 2026. Peringatan Wajib Santo Atanasius. Uskup dan Punjagga Gereja. Kisah Para Rasul 13:44-52; Yohanes 14:7-14.
Oleh: Rd.Fidelis Dua
“SEKALI layar terkembang, pantang surut ke belakang.” Ungkapan ini menggambarkan keteguhan hati dalam menghadapi tantangan.
Saudari dan saudara terkasih, hidup kita hari ini tidak lepas dari berbagai tekanan: kebenaran sering dipertanyakan, iman mudah digoyahkan, dan kesetiaan kerap diuji oleh situasi yang tidak nyaman.
Tidak sedikit orang memilih diam atau menyesuaikan diri demi kenyamanan, daripada tetap berdiri dalam kebenaran. Akibatnya, iman bisa menjadi lemah dan kehilangan daya kesaksiannya di tengah dunia.
Dalam bacaan pertama, kita melihat bagaimana Paulus dan Barnabas mengalami penolakan ketika mewartakan Injil. Mereka tidak hanya ditolak, tetapi juga diusir. Namun, mereka tidak menyerah atau mundur. Justru dengan keberanian dan iman yang teguh, mereka tetap melanjutkan pewartaan, bahkan kepada bangsa-bangsa lain. Ini menunjukkan bahwa menjadi saksi Kristus memang tidak mudah, tetapi kesulitan bukan alasan untuk berhenti.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kristus, Jawaban Hati yang Gelisah
Bagi kita, ini menjadi panggilan untuk tetap setia mewartakan kebenaran, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga melalui hidup yang mencerminkan Injil, meski harus menghadapi tantangan dan penolakan.
Dalam Injil, Yesus berkata, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Sabda ini menyingkapkan bahwa Yesus adalah jalan untuk mengenal Allah secara nyata. Dalam diri Yesus, kita melihat wajah Allah yang penuh kasih, pengampunan, dan kebenaran. Maka, mengenal Yesus bukan sekadar tahu tentang-Nya, tetapi hidup dalam relasi yang mendalam dengan-Nya.
Ketika kita sungguh mengenal Kristus, hidup kita pun berubah dan menjadi kesaksian nyata tentang Allah. Di sinilah tersingkap kebenaran bahwa pewartaan yang sejati lahir dari relasi yang hidup dengan Kristus, bukan sekadar dari pengetahuan atau kewajiban.
Saudari dan saudara terkasih, semangat ini nyata terpancar dalam hidup Santo Atanasius, yang dengan teguh membela iman akan Kristus sebagai Putra Allah di tengah gelombang penentangan yang tidak ringan. Ia tetap berdiri kokoh, meski harus melewati pengasingan dan penderitaan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan tentang Siapa Kita, Tetapi Siapa yang Kita Wartakan
Dari Paulus dan Barnabas kita belajar untuk tidak gentar dalam mewartakan Injil; dari Yesus kita semakin disadarkan bahwa mengenal Dia berarti masuk dalam perjumpaan dengan Bapa; dan dari Santo Atanasius kita diteguhkan untuk setia menjaga iman dalam keadaan apa pun.
Karena itu, marilah kita melangkah dengan keberanian iman: tidak mudah goyah oleh tantangan, tidak mundur oleh kesulitan, tetapi tetap setia, sehingga melalui hidup kita, wajah Allah yang hidup semakin nyata di tengah dunia.
Petikan BUSA-H untuk kita:
”Iman yang sejati tidak diukur dari kenyamanan, tetapi dari keberanian untuk tetap setia ketika kebenaran ditolak dan hidup diuji.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Gereja yang Terus Dipanggil dalam Terang
”Ketika kita sungguh mengenal Kristus, kita tidak lagi takut mundur, sebab kasih-Nya memberi keberanian untuk tetap berdiri dan maju bersaksi.”
”Kesetiaan kepada Kristus tidak selalu membawa jalan yang mudah, tetapi selalu menuntun kita pada kebenaran yang memberi hidup dan harapan.”
Tuhan memberkati kita.#rd.fd@
Editor: Eginius Moa





