Rabu, 10 Juni 2026. Hari Biasa Pekan X. Kitab Pertama Raja-Raja 18:20-39; Matius 5:17-19

Oleh: RD. Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, salah satu kecenderungan zaman sekarang adalah memilih bagian yang kita sukai dan mengabaikan bagian yang tidak kita sukai. Orang memilih berita yang sesuai dengan pendapatnya, memilih teman yang sejalan dengan pikirannya, bahkan tidak jarang memilih nilai-nilai yang dirasa nyaman untuk dijalani.

Tanpa disadari, kebiasaan itu dapat merembes ke dalam kehidupan iman. Kita senang mendengar Sabda yang menghibur, tetapi kurang menyukai Sabda yang menegur. Kita mudah menerima ajaran yang sesuai dengan keinginan kita, tetapi cenderung mengabaikan ajaran yang menuntut perubahan hidup yang radikal.

Bacaan pertama hari ini memperlihatkan sebuah drama besar di Gunung Karmel. Nabi Elia berdiri di hadapan bangsa Israel dan mengajukan satu pertanyaan yang sangat tajam: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati?”

Persoalan utama bangsa Israel bukan karena mereka berhenti mengenal Tuhan. Persoalannya, mereka ingin memiliki dua pusat kehidupan sekaligus: Tuhan dan Baal. Mereka berusaha menyatukan dua kesetiaan yang tidak dapat dipersatukan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Janda, Garam dan Pelita yang Terlupakan

Menarik bahwa Elia tidak mengajak mereka memilih agama yang paling menguntungkan. Elia mengajak mereka menemukan kembali siapa yang sungguh menjadi pusat hidup mereka. Api yang turun dari surga bukan sekadar mukjizat yang mengalahkan para nabi Baal. Api itu menyingkapkan satu kebenaran: Tuhan tidak mau menempati salah satu sudut kehidupan. Tuhan ingin menjadi pusat seluruh kehidupan.

Pesan yang sama muncul dalam Injil hari ini. Yesus berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat dan kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya. Kata “menggenapi” menjadi sangat penting. Yesus tidak sedang menambah aturan baru atau mengganti aturan lama. Ia menghadirkan makna terdalam dari seluruh kehendak Allah.

Hukum Taurat tidak lagi dipandang sebagai kumpulan perintah yang terpisah-pisah, melainkan sebagai jalan menuju kasih yang utuh kepada Allah dan sesama. Karena itu, Yesus berbicara mengenai satu iota dan satu titik dalam Hukum Taurat.

Ia tidak sedang mengajarkan sikap legalistis yang sibuk menghitung aturan. Ia sedang menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Allah tidak dapat dijalani setengah-setengah. Iman bukan soal memilih bagian Sabda yang kita sukai lalu meninggalkan bagian lainnya. Iman adalah kesediaan untuk membiarkan seluruh hidup dibentuk oleh kehendak Allah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Pegang Tuhan, Pasti Bahagia

Sabda Tuhan hari ini sangat relevan bagi kehidupan kita. Tidak sedikit orang ingin mengikuti Kristus, tetapi tetap mempertahankan kebiasaan yang bertentangan dengan Injil. Ada yang rajin berdoa, tetapi sulit mengampuni. Ada yang aktif dalam kegiatan Gereja, tetapi mengabaikan keadilan. Ada yang tekun beribadah, tetapi menutup mata terhadap penderitaan sesama.

Padahal orang miskin, mereka yang tersingkir, korban kekerasan, para lanjut usia yang kesepian, anak-anak yang kehilangan perhatian, dan mereka yang merasa tidak dihargai adalah wajah-wajah kecil yang selalu mendapat tempat istimewa di hati Tuhan yang saat ini ada di sekitar kita.

Saudari dan saudara terkasih, kebesaran dalam Kerajaan Allah tidak diukur dari banyaknya doa yang diucapkan atau pengetahuan iman yang dimiliki. Kebesaran dalam Kerajaan Allah lahir dari kesatuan antara apa yang dipercayai, apa yang diajarkan, dan apa yang dihidupi.

Elia menantang bangsa Israel untuk berhenti bercabang hati. Yesus mengajak para murid untuk menghidupi kehendak Allah secara utuh.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ada Tempat Bagimu di Meja-Ku

Hari ini kita pun diajak bertanya kepada diri sendiri: apakah Tuhan sungguh menjadi pusat hidup kita, atau hanya salah satu bagian dari hidup kita? Allah tidak mencari orang-orang yang sempurna. Allah mencari hati yang utuh. Dan dari hati yang utuh itulah lahir kesetiaan yang mampu mengubah hidup dan dunia.

Petikan BUSA-H untuk kita #10/06/26@:

“Tuhan tidak menjadi salah satu bagian dari sudut hidup kita, melainkan seutuhnya menjadi pusat hidup kita.”

“Iman bukan soal memilih Sabda yang kita sukai, tetapi membiarkan seluruh hidup dibentuk oleh Sabda.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Persembahan dalam Keheningan

“Hati yang bercabang sulit menemukan damai, akan tetapi hati yang utuh mudah menemukan Tuhan.”

“Kebesaran dalam Kerajaan Allah lahir dari kesatuan antara apa yang dipercayai, diajarkan, dan dihidupi.”

Tuhan memberkati kita.#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan