BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Harta Hati,Pelita Hidup
Jumat, 19 Juni 2026. Hari Biasa Pekan XI. Kitab Kedua Raja-Raja 11:1-4.9-18.20; Matius 6:19-23
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih. Bacaan pertama hari ini diawali dengan suasana yang kelam, yakni sebuah kebenaran yang sering terlupakan: kegelapan tidak pernah mampu memadamkan terang yang dijaga oleh Allah.
Di saat banyak mata hanya melihat ancaman dan kehancuran, Allah sedang memelihara harapan yang tersembunyi.
Kita lihat peristiwa dalam kisah Yoas. Menarik bahwa Yoas diselamatkan bukan di istana, melainkan di Bait Allah. Tempat yang dianggap kecil dan tersembunyi justru menjadi ruang lahirnya masa depan sebuah bangsa.
Sering kali kita mencari jawaban di tempat-tempat yang tampak kuat dan megah, padahal Allah selalu bekerja dalam kesunyian hati yang setia.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Doa: Ruang Relasi, Bukan Transaksi
Bacaan ini mengajak kita bertanya: apa yang sedang kita pelihara di dalam hati? Ketakutan, ambisi, dan dendam seperti Atalya, atau harapan dan kesetiaan seperti yang dijaga di Bait Allah?
Injil hari ini membawa kita masuk lebih dalam lagi. Yesus berkata, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Harta yang dimaksud Yesus tidak hanya berupa uang atau kekayaan. Harta adalah apa pun yang paling kita hargai, paling kita pikirkan, paling kita kejar, dan paling kita takut kehilangan.
Harta seseorang dapat berupa kedudukan, popularitas, kenyamanan, citra diri, bahkan pengakuan dari sesama. Karena itu Yesus sebenarnya sedang mengungkapkan arah hati kita. Apa yang paling kita cintai akan menentukan ke mana hidup kita bergerak.
Lalu Yesus melanjutkan dengan sebuah ungkapan yang sangat mendalam: “Mata adalah pelita tubuh.” Dalam pemahaman Kitab Suci, mata bukan hanya alat untuk melihat, melainkan lambang cara pandang hati.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Yang Sunyi Yang Berkenan
Mata yang baik adalah hati yang mampu melihat segala sesuatu dalam terang Allah. Mata yang jahat adalah hati yang dikuasai iri hati, keserakahan, dan keinginan memiliki segalanya untuk diri sendiri.
Itulah sebabnya Yesus berkata, “Jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Ada kegelapan yang lebih berbahaya daripada tidak melihat. Kegelapan itu adalah merasa sudah melihat padahal hati sedang tersesat.
Seseorang dapat memiliki banyak pengetahuan, banyak pengalaman rohani, bahkan banyak keberhasilan, tetapi bila hatinya dipenuhi ambisi dan kepentingan diri, terang di dalam dirinya perlahan berubah menjadi gelap.
Saudari dan saudara terkasih, dunia saat ini sering kekurangan kejernihan hati. Banyak mata terbuka, tetapi tidak semua mampu melihat dengan bijaksana. Banyak orang sibuk mengumpulkan harta di luar dirinya, tetapi lupa menjaga harta yang paling berharga di dalam dirinya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menjaga Hati agar Tetap Menjadi Rumah Kasih
Yesus tidak pertama-tama meminta kita memiliki lebih banyak, melainkan melihat dengan lebih benar. Jika hati tertuju kepada Allah, kita akan menemukan terang untuk membedakan yang penting dari yang sekadar menarik, yang bernilai dari yang hanya memikat, yang kekal dari yang sementara.
Maka hari ini marilah kita menjaga pelita hati kita. Jangan biarkan iri hati mengaburkan pandangan. Jangan biarkan ambisi menguasai arah hidup. Jangan biarkan gemerlap dunia membuat kita kehilangan terang batin.
Harta terbesar seorang beriman bukanlah apa yang dimiliki di tangannya, melainkan terang Allah yang tetap menyala di dalam hatinya.
Petikan BUSA-H untuk kita #19/06/26@:
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Memiliki Tanpa Merampas, Mengasihi Tanpa Membalas
“Allah tidak bekerja di tempat yang megah, melainkan setia menjaga harapan di ruang-ruang yang tersembunyi.”
“Apa yang paling engkau kejar akan menentukan ke mana hatimu berlabuh dan ke mana hidupmu diarahkan.”
“Segala yang memenuhi pikiranmu perlahan akan membentuk hatimu; dan apa yang memenuhi hatimu akan menentukan arah seluruh hidupmu.”
“Jagalah mata hatimu tetap jernih, karena saat pandanganmu dikuasai kegelapan, seluruh arah hidupmu dapat kehilangan terang.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Melihat dengan Hati dan Tergerak dengan Kasih
“Kegelapan yang paling berbahaya bukanlah tidak melihat, melainkan merasa sudah melihat padahal hati sedang tersesat.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





