Kamis, 25 Juni 2026. Hari Biasa Pekan XII. Kitab Kedua Raja-Raja 24:8-17; Matius 7:21-29.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, ada satu keinginan terbesar dalam diri kita, yakni ingin dikenal, dihargai, dan diakui. Kita senang jika nama kita disebut, karya kita dipuji, dan kehadiran kita dianggap penting.

Namun adakah diri kita dengan seluruh hidup sungguh dikenal oleh Allah? Pertanyaan ini menolong kita membaca kejatuhan Yerusalem bukan hanya sebagai kisah sejarah, melainkan sebagai cermin batin bagi setiap hati yang perlahan menjauh dari Allah.

Kisah runtuhnya Yerusalem dan pembuangan Raja Yoyakhin memperlihatkan kenyataan yang menyedihkan. Sebuah bangsa yang pernah menerima begitu banyak anugerah perlahan kehilangan arah hidupnya. Yang runtuh bukan hanya kota dan tembok, melainkan kesetiaan hati.

Pembuangan ke Babel bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan akibat dari relasi yang retak dengan Allah. Kehancuran besar itu tidak terjadi dalam satu hari, melainkan lahir dari pembiaran yang berlangsung lama.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Nama yang Lahir dari Kehendak Allah

Sering kali hidup rohani kita juga menjadi letih, lesu, bahkan runtuh bukan karena satu kesalahan besar, melainkan karena kelalaian hati yang terus dibiarkan, hingga perlahan berhenti mendengarkan suara Tuhan dan mulai merasa dapat berjalan tanpa Allah.

Dari keruntuhan yang lahir karena hati menjauh dari Allah, Yesus mengantar kita pada peringatan yang lebih dalam: bukan cukup menyebut nama Tuhan, melainkan hidup sungguh dikenal oleh-Nya melalui ketaatan dan kasih.

Yesus kemudian mengucapkan salah satu kalimat yang menggetarkan, “Aku tidak pernah mengenal kalian! Enyahlah dari pada-Ku, kalian semua pembuat kejahatan!”

Kata-kata ini keras karena biasanya kita mengira masalah terbesar adalah tidak mengenal Allah. Namun Yesus justru berbicara mengenai keadaan yang lebih tragis, yakni Allah tidak mengenal kita. Tentu bukan karena Allah tidak mengetahui nama atau identitas seseorang.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mutiara yang Tidak Boleh Hilang 

Dalam bahasa Kitab Suci, mengenal berarti hidup dalam relasi yang mendalam. Dengan kata lain, ada orang yang rajin berbicara mengenai Allah, aktif dalam kegiatan keagamaan, bahkan melakukan banyak hal atas nama-Nya, tetapi hatinya tidak sungguh tinggal dalam kehendak-Nya. Bibir dapat menyebut nama Tuhan, tetapi hidup belum tentu berjalan bersama Tuhan.

Karena itu Yesus menutup sabda-Nya dengan gambaran rumah yang dibangun di atas batu. Batu itu bukan sekadar pengetahuan agama, melainkan kesediaan melaksanakan kehendak Allah dalam hidup sehari-hari.

Iman tidak diukur dari seberapa banyak Sabda didengar, melainkan seberapa jauh Sabda itu menjadi keputusan, sikap, dan tindakan.

Rumah di atas pasir tampak sama indahnya dari luar, tetapi tidak memiliki dasar yang kokoh. Banyak orang berusaha membangun citra yang kuat di hadapan sesama, namun lupa membangun fondasi batin di hadapan Allah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Balok dan Selumbar

Saudari dan saudara terkasih, ancaman terbesar bagi hidup beriman bukanlah kurangnya aktivitas rohani, melainkan jarak yang perlahan terbentang antara apa yang diucapkan dan apa yang dijalani.

Hari ini Tuhan mengundang kita bukan hanya menjadi pendengar Sabda, melainkan pelaku Sabda. Pada saat hidup kita sungguh dibangun di atas kehendak Allah, kita tidak hanya mengenal Tuhan, tetapi juga dikenal oleh-Nya. Dan tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada mendengar Tuhan berkata, “Aku mengenal engkau, masuk dan ] pokj,il/k?. tinggal dalam kasih-Ku.”

Petikan BUSA-H untuk kita #25/06/26@:

“Kegagalan terbesar hidup beriman bukanlah tidak mengenal Allah, melainkan hidup sedemikian jauh hingga Allah tidak lagi menemukan wajah-Nya dalam diri kita.”

Baca juga:BUSA-H  (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Kehilangan Dirimu Sendiri

“Rumah rohani tidak runtuh karena satu badai besar, tetapi karena fondasi yang lama dibiarkan rapuh.”

“Allah tidak mencari banyaknya kata yang menyebut nama-Nya, melainkan hati yang sungguh hidup menurut kehendak-Nya.”

“Menjadi terkenal di hadapan banyak orang tidak menjamin apa-apa; yang terpenting adalah tetap dikenal dalam hati Allah.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan