Sabtu, 08 Agustus 2026. Peringatan Wajib St. Dominikus,  Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam. Kitab Habakuk 1:12-2:4; Matius 17:14-20

Oleh: RD Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, “iman tidak selalu dimulai dengan jawaban, tetapi sering kali bertumbuh melalui pertanyaan yang dibawa kepada Allah.”

Tidak sedikit orang mengira bahwa bertanya kepada Tuhan berarti kurang percaya. Padahal Nabi Habakuk justru mengajarkan sebaliknya. Di tengah kenyataan bahwa kejahatan tampak menguasai dan ketidakadilan seolah dibiarkan, ia berseru, “Bagaimana mungkin Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat, dan berdiam diri bila orang-orang fasik menelan orang yang lebih baik?”

Pertanyaan itu bukan tanda hilangnya iman, melainkan jeritan hati yang tetap mencari Allah. Sebab iman yang sejati tidak mengingkari kenyataan hidup, tetapi tetap percaya bahwa Allah sedang berkarya, sekalipun cara dan waktu-Nya belum dapat kita pahami.

Dari pergulatan Habakuk itulah Injil memperlihatkan akar persoalan yang lebih dalam. Bahwa ketika para murid tidak mampu menyembuhkan seorang anak, Yesus berseru, “Hai kalian, angkatan yang tidak percaya dan sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kalian? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kalian? Bawalah anak itu ke mari!”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Kehilangan yang Kekal Demi yang Sementara

Lalu Yesus menghardik roh jahat itu dan anak itu pun sembuh seketika. Yesus pertama-tama tidak menegur karena para murid kurang mampu, melainkan karena mereka kurang percaya. Mukjizat bukan datang karena kehebatan manusia, melainkan karena iman yang bersandar kepada kuasa Allah.

Santo Dominikus memahami kebenaran ini. Ia tidak mengandalkan kepandaian berkhotbah semata, tetapi terlebih dahulu berlutut dalam doa, sehingga pewartaannya lahir dari hati yang dipenuhi Allah.

Betapa sering kita lebih mengandalkan kemampuan sendiri daripada mempercayakan persoalan kepada Tuhan. Padahal iman yang kecil, tetapi sungguh bersandar kepada Kristus, sanggup membuka jalan bagi karya rahmat-Nya yang lebih besar dan luar biasa.

Saudari dan saudara, marilah kita memelihara iman yang tekun, berani bertanya kepada Allah tanpa kehilangan kepercayaan, dan tetap setia berdoa meskipun jawaban-Nya belum tampak.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tabor Bukan Tujuan Akhir

Jangan biarkan keraguan menguasai hati, sebab Allah tidak pernah meninggalkan orang yang berharap kepada-Nya. Seperti Santo Dominikus yang mewartakan Kristus dengan doa, kebenaran, dan ketekunan, demikian pula kita dipanggil menjadi saksi iman yang meneguhkan sesama.

Sebab orang yang tetap percaya kepada Allah tidak hanya menemukan kekuatan untuk bertahan, tetapi juga menjadi jalan bagi hadirnya mukjizat kasih Tuhan dalam kehidupan banyak orang.

Petikan BUSA-H #08/08/2026

“Iman yang sejati bukanlah tidak pernah bertanya

BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih yang Tidak Pernah Menyerah

”Pertanyaan yang dibawa dalam doa bukan tanda lemahnya iman, melainkan jeritan hati yang masih berharap kepada Allah dan tidak pernah berhenti mencari wajah-Nya.”

”Mukjizat tidak lahir dari hebatnya kemampuan manusia, melainkan dari hati yang dengan rendah percaya bahwa tidak ada sesuatu pun yang mustahil bagi Allah.”

”Orang yang tetap bersandar kepada Kristus di tengah segala pergumulan bukan hanya memperoleh kekuatan untuk bertahan, tetapi juga menjadi jalan bagi hadirnya mukjizat kasih Tuhan dalam kehidupan bagi banyak orang lain.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan