Rokonstruksi Pasca Gempa, Yusuf Kala: Rakyat Disuruh Kerja Jangan Pangku Tangan 

Yusuf Kalla tibadi Masjid Perumnas Maumere, Jumat siang 28 Agustus 2026 menjalanui Shalat Jumat. (dewadet.com/eginius)

MAUMERE,dewadet.com-Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, Yusuf Kalla (84) mengatakan tahap rekonstruksi dan rehabilitasi pasca gempa harus melibatkan masyarakat terutama para pemilik rumah. Pola ini telah  dilakukannya dalam penanganan pasca Gempa Yogyakarta tahun 2006 dinilainya sangat berhasil.

“Suruh rakyat kerja. Jangan berpangku tangan. Itu dulu terjadi di Aceh (Gempa dan Tsunami Aceh 26 Desemer 2004), masyarakat banyak duduk pangku tangan. Itu tidak bagus untuk mereka. Ini tidak mungkin lagi terjadi,” kata Yusuf Kalla dalam kunjungan pengurus PMI Pusat ke Pos Satgas Penanganan Gempa Kabupaten Sikka, Jumat siang 28 Agustus 2026.

Mantan Menko Kesra di masa Presiden Megawati dan Wakil Presiden periode 2014-2019 mengatakan kedatangan ke Maumere bersama para pengurus pusat dan Ibu  Chatrin, perwakilan Palang Merah Internasional untuk melihat langsung dampak Gempa Flores bermagnitudo 7,7 pada Sabtu 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA.

“Nanti Pak Gubernur minta bantuan ke pabrik semen, pabrik seng. Kayunya ada di sini, cuman bangunanya yang roboh,” kata Yusuf Kalla dalam pertemuan dipandu Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago.

Baca juga:Yusuf Kalla Bagi Pengalaman Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta di Maumere  

Ia menegaskan bahwa gempa tidak mengilangkan akibatnya. Beda dengan tsunami akan menghilangkan semuanya.

“Saya kira dikasih waktu enam bulan harus selesai.Nanti PMI mungkin  kasih seng atau kasih apalah. Kirim ke s ini, dan semuanya beli di lokal. Jangan harap dari luar mahal ongkosnya,” saran Yusuf Kalla.

Dia mengingatkan bahwa rekonstruksi akan makan tempo. Sedangkan dalam masa tanggap darurat dibutuhkan tiga hal, makan, tenda dan kesehatan.

“Itu saja, Kalau dipenui tiga hal ini kita sudah penuhi tanggap darurat. Tapi setelah itu rekonstruksi tugas pemerintah. Karena biayanya besar,” katanya.

Baca juga:Peringatan Tsunami Gempa Flores Bekerja Cepat, 2 Menit 16 Detik

Menurut Yusuf Kalla, kondisi  dana pemerintah tidak sebesar beberapa waktu lalu.

“Maka warga harus bergotong royong. Mungkin cara paling bisa dilakukan seperti di Yogyakarta (27 Mei 2006). Pemerintah menyediakan bahan bangunan, bisa semen atau seng. Bisa minta juga sponsor atau sumbangan dari pabrik semen dan seng.  Pemilik rumah kerja sendiri,” saran Yusuf Kalla.

“Dalam kondisi sekarang itu, bagaimana memobilisir rakyat dari pada hanya di tenda. Yang penting atapnya dulu. Baru kita kita minta pabrik semen dan mereka dengan bantuan mahasiswwa Fakultas Teknik paling efisien. Daripada pengungsi duduk termenung saja, Kasih kan cash biaya harian untik kerja,” ujarnya.

“Maka kita bisa siapkan bahan. PMI bisa mobilisir bantuan.  Nanti bikin survey bahan atau material apa yang paling banyak dibutuhkan. Nanti bisa ditawarkan siapa yang akan bantu, peralatan dan siapa yang bantu ongkos kerja kepada pemilik rumah,” ujarnya lagi.

Baca juga:Sekolah di Sikka Dilabel Merah, Kuning dan Hijau Pasca Gempa Flores

Menurut Yusuf Kalla, konsep ini yang paling mudah dewasa ini. Beda dengan dulu waktu Tsunami di Aceh ada 50 negara masuk membantu. Diantara negara-negara itu membangun ini dan itu.

“Sekarang pemerintah  tidak buka bantuan luar negeri, karena kita sendiri bisa tangani,” ungkap Yusuf Kalla.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan