Jumat, 04 September 2026.  Hari Biasa Pekan XXII – Jumat Pertama Dalam Bulan.  1 Korintus 4:1-5; Lukas 5:33-39.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, kita tentu pernah melihat pakaian lama yang terus ditambal. Dalam kondisi tertentu, masalahnya bukan lagi sekadar bagian yang sobek, sebab seluruh pakaian itu sudah rapuh dan membutuhkan yang baru.

Demikian pula dalam hidup, ada saatnya kita tidak cukup hanya memperbaiki satu dua kebiasaan buruk, tetapi membutuhkan pembaruan yang lebih dalam. Ketika orang mempertanyakan mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa, Yesus menjawab dengan gambaran tentang mempelai, kain baru, dan anggur baru.

Mempelai mengingatkan bahwa iman pertama-tama adalah relasi yang hidup dengan Kristus. Kain baru menunjukkan bahwa Kristus tidak datang sekadar menambal kehidupan lama. Anggur baru menegaskan bahwa kebaruan yang dibawa-Nya membutuhkan hati yang bersedia diperbarui.

Pertanyaannya, apakah perjumpaan dengan Kristus sungguh mengubah hati dan cara hidup kita? Kita dapat mengaku percaya kepada Kristus, tetapi masih membawa cara hidup lama, mudah marah, sulit mengampuni, suka menghakimi, memelihara iri hati, dan menolak berubah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berlutut dalam Rahmat, Berdiri dalam Kerendahan Hati dan Kebenaran

Itu berarti kita sudah menerima Kristus, tetapi belum sepenuhnya memberi ruang kepada-Nya untuk membarui hidup kita.

Pada Jumat Pertama ini, kita diajak mendekat kepada Hati Yesus dan membiarkan Hati-Nya membarui hati kita.

Pembaruan itu harus dimulai dari kedalaman hati. Paulus mengingatkan, “Janganlah menghakimi sebelum waktunya.” Kita mudah menilai orang dari apa yang tampak, membicarakan kelemahannya, bahkan merasa mengetahui niat di balik tindakannya.

Padahal Paulus menegaskan bahwa Tuhanlah yang akan menerangi apa yang tersembunyi dan memperlihatkan apa yang direncanakan dalam hati. Sebelum sibuk mengadili hati orang lain, beranilah membiarkan Tuhan menerangi hati kita sendiri.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Terimalah Rahmat,Bagikan Kebaikan

Mungkin yang perlu diperbarui bukan pertama-tama orang di sekitar kita, melainkan cara kita memandang, berbicara, bereaksi, dan memperlakukan sesama.

Hati yang diperbarui oleh Kristus tidak menjadi buta terhadap kesalahan, tetapi belajar membedakan antara menilai suatu tindakan dan menghakimi pribadi.

Di sinilah Hati Kudus Yesus menjadi sekolah bagi hati kita. Hati-Nya mengasihi tanpa kehilangan kebenaran, mengampuni tanpa membenarkan dosa, dan tetap terbuka meskipun dilukai.

Belajar dari Hati-Nya berarti membawa kasih itu ke dalam perkara-perkara sederhana setiap hari. Ketika disakiti, jangan cepat membalas. Ketika melihat kelemahan orang lain, jangan menjadikannya bahan pembicaraan. Ketika berbeda pendapat, katakanlah kebenaran tanpa merendahkan. Dan ketika ada orang yang membutuhkan perhatian, jangan menunggu sampai diminta untuk peduli.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian ) Ketika Sabda Membaca Hati Kita

Devosi kepada Hati Kudus menjadi nyata ketika hati kita perlahan-lahan belajar mengasihi seperti Hati Yesus. Datanglah kepada Hati Yesus hari ini dengan hati yang lama, tetapi siap menerima hati yang baru.

Petikan BUSA-H #04/09/2026

”Menerima Kristus berarti memberi-Nya ruang untuk membarui hati, membentuk cara hidup, dan menjadikan kita semakin serupa dengan-Nya.”

”Biarkanlah Tuhan menerangi hati kita sendiri, sebab pembaruan yang sejati selalu dimulai dari keberanian melihat dan membenahi diri.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kabar Baik Harus Menjadi Nyata

”Hati yang menyerupai Hati Yesus bukanlah hati yang tidak pernah terluka, melainkan hati yang tetap memilih mengasihi meskipun pernah dilukai.”

”Datanglah kepada Hati Yesus dengan hati yang lama, tetapi pulanglah dengan keberanian untuk menerima hati yang baru.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Komentar

1 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan