BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Membiarkan yang Salah Menjadi Biasa
Senin, 07 September 2026. Hari Biasa Pekan XXIII. 1 Korintus 5:1-8; Lukas 6:6-11.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara yang terkasih. Pernahkah kita melihat noda kecil pada pakaian putih? Mula-mula tampak sepele, tetapi jika dibiarkan, noda itu semakin sulit dibersihkan.
Paulus memakai gambaran yang serupa dengan ragi yang sedikit, tetapi dapat meresapi seluruh adonan. Dalam Injil, persoalannya muncul dalam bentuk lain. Para ahli Taurat dan orang Farisi begitu sibuk mengamati apakah Yesus akan melanggar aturan Sabat sampai mereka tidak lagi melihat seorang manusia yang tangannya lumpuh dan membutuhkan pertolongan.
Karena itu Yesus mengajukan pertanyaan yang menembus hati, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan orang atau membinasakannya?”
Di hadapan penderitaan manusia, Yesus tidak memilih menjadi penonton. Kebaikan yang dapat kita lakukan hari ini jangan ditunda hanya karena hati kita sudah terbiasa untuk tidak peduli.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Sabda yang Mengubah Hati, Kasih yang Menjaga Kehidupan
Keberanian berbuat baik itu harus dimulai dari keberanian membersihkan hati. Paulus menegur jemaat Korintus karena mereka membiarkan dosa serius hidup di tengah komunitas dan bahkan menyombongkan diri.
Ia berkata, “Buanglah ragi yang lama, supaya kalian menjadi adonan yang baru.” Ragi lama dapat hadir juga dalam kehidupan kita sebagai kebiasaan yang mula-mula kita anggap kecil, lalu perlahan menjadi biasa.
Kita terus menatap layar HP ketika sedang berbicara dengan orang lain, membeli sesuatu yang belum tentu dibutuhkan hanya karena tergoda tren, membuang makanan tanpa merasa bersalah, membiarkan pekerjaan membuat kita tidak mempunyai waktu bagi keluarga, mengabaikan pesan atau telepon dari orang tua karena merasa sibuk, meneruskan pesan di media sosial tanpa memastikan kebenarannya, atau begitu terbiasa melihat penderitaan orang lain sampai hati kita tidak lagi terusik.
Bahaya terbesar muncul ketika kebiasaan itu tidak lagi kita rasakan sebagai sesuatu yang perlu diperbaiki. Kita mulai berdamai dengannya, membenarkannya, bahkan lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada menyadari apa yang sedang bertumbuh dalam diri sendiri.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Aturan Menuju Hati
Karena itu, Paulus tidak mengajak kita sibuk mencari ragi dalam hidup orang lain. Sabda ini pertama-tama mengajak kita memeriksa adonan kehidupan kita sendiri.
Maka hari ini, kenalilah satu kebiasaan yang perlu dihentikan dan ambillah satu langkah nyata untuk meninggalkannya. Pertobatan sering kali dimulai dari keberanian menghentikan hal kecil yang sudah telanjur kita anggap biasa.
Hati yang dibersihkan akan semakin bebas untuk melihat dan melakukan kebaikan. Itulah yang tampak pada Yesus. Di tengah tatapan orang-orang yang mencari alasan untuk menyalahkan-Nya, Yesus justru melihat orang yang membutuhkan pemulihan dan berkata, “Ulurkanlah tanganmu.”
Tangan yang lumpuh itu dipulihkan, tetapi tindakan itu sekaligus menyingkapkan hati orang-orang yang tetap tertutup meskipun telah menyaksikan kebaikan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Sekadar Ditambal, Tetapi Diperbarui
Di sinilah Sabda Tuhan menempatkan kita pada sebuah pilihan yang sangat konkret. Kita dapat terus mencari alasan untuk menunda kebaikan dan mempertahankan kebiasaan lama, atau membiarkan Kristus memperbarui hati kita agar tangan kita terulur kepada orang yang membutuhkan.
Pembaruan hidup Kristiani memang menyentuh manusia secara utuh dan mengarahkannya kepada pemulihan serta kehidupan yang baru. Buanglah ragi yang lama, ulurkanlah tangan untuk berbuat baik, sebab hidup berubah ketika kita berhenti berdamai dengan yang salah dan mulai berani melakukan yang benar.
Petikan BUSA-H #07/09/2026
”Jangan biarkan yang salah menjadi biasa, sebab hati perlahan kehilangan kepekaan ketika terus berdamai dengan sesuatu yang seharusnya diubah.”
“Pertobatan sering kali dimulai dari keberanian menghentikan hal kecil yang sudah telanjur kita anggap biasa.”
“Kebaikan yang dapat kita lakukan hari ini jangan ditunda, sebab kasih selalu menemukan alasan untuk mengulurkan tangan, bukan alasan untuk sekadar mengamat-amati.”
”Hidup mulai berubah ketika kita berhenti berdamai dengan yang salah dan mulai berani melakukan yang benar.”
Tuhan memberkati kita#rd.fd@





