BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Biarkan Prasangka Menutupi Hati
Rabu, 16 September 2026. Peringatan Wajib St. Kornelius, Paus-Martir dan Siprianus, Uskup-Martir
1 Korintus 12:31-13:13; Lukas 7:31-35.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARA dan saudari yang terkasih. Dalam kehidupan sehari-hari kita mudah menilai seseorang bukan dari kebenaran yang disampaikannya, tetapi dari apakah cara hidupnya sesuai dengan selera dan harapan kita.
Injil hari ini memperlihatkan sikap seperti itu. Yohanes Pembaptis datang dengan hidup asketis, orang berkata ia kerasukan setan. Yesus datang, makan dan minum bersama orang lain, mereka menyebut-Nya pelahap, peminum, dan sahabat orang berdosa.
Masalahnya ternyata bukan pada cara Yohanes atau cara Yesus, tetapi pada hati yang sudah tertutup sehingga apa pun cara Allah menyapa, selalu ada alasan untuk menolak-Nya.
Kita pun dapat melakukan hal yang sama. Nasihat yang keras kita anggap tidak berbelas kasih, teguran yang lembut kita anggap tidak tegas, orang yang berbeda kita curigai, orang yang tidak sesuai harapan kita mudah kita hakimi.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tetap Berdiri di Dekat Salib
Yesus sedang membongkar hati yang sibuk mencari kesalahan sehingga kehilangan kemampuan mengenali karya Allah. Karena itu, Ia menutup perkataan-Nya dengan mengatakan bahwa hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya. Hikmat Allah akhirnya dikenali bukan dari prasangka kita, melainkan dari buah yang dihasilkannya.
Lalu apakah ukuran yang menolong kita menilai dengan benar? Paulus menunjukkan jalan yang lebih utama, yakni kasih. Jemaat Korintus kaya akan karunia, tetapi karunia tanpa kasih sehingga kehilangan maknanya.
Orang dapat berbicara dengan indah, memiliki pengetahuan, bahkan mempunyai iman yang besar, tetapi tanpa kasih semuanya menjadi kosong. Karena itu Paulus berkata, “Sekarang tinggal iman, harapan, dan kasih, namun yang paling besar di antaranya adalah kasih.”
Bukan karena iman dan harapan tidak penting. Iman membuat kita berpaut kepada Allah, harapan membuat kita menantikan kepenuhan janji-Nya, sedangkan kasih tidak berkesudahan karena kasih mengambil bagian dalam kehidupan Allah sendiri.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Pandanglah Salib, Jangan Kehilangan Harapan
Kasih inilah yang juga menyembuhkan cara kita memandang sesama. Kasih membuat kita tidak cepat memberi cap, tidak bersukacita karena kesalahan orang lain, sabar menghadapi kelemahan, dan tetap mencari kebaikan tanpa menutup mata terhadap kebenaran.
Sebelum bertanya apa yang salah pada orang lain, bertanyalah terlebih dahulu, apakah cara kita melihat dan memperlakukan sesama sudah lahir dari kasih?
Jalan kasih itu menjadi semakin nyata pada peringatan Santo Kornelius dan Santo Siprianus. Keduanya melayani Gereja pada masa yang penuh tekanan dan akhirnya memberikan hidup sebagai martir.
Kesaksian mereka mengingatkan bahwa iman bukan sekadar sesuatu yang kita akui, melainkan kesetiaan yang harus menjadi kasih sampai akhir. Maka hari ini, berhentilah terlalu cepat memberi label kepada orang lain.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berhentilah Menghitung, Mulailah Mengampuni
Di rumah, dengarkan sebelum menghakimi. Dalam komunitas, pahami sebelum mencurigai. Di tempat kerja, koreksi tanpa merendahkan. Dalam pelayanan, pertahankan kebenaran tanpa kehilangan kasih.
Dunia mempunyai cukup banyak suara yang menuduh, menghakimi, dan memecah belah. Murid Kristus dipanggil menunjukkan jalan yang lebih utama. Maka pilihlah kasih dalam setiap perjumpaan, tetaplah mengasihi meskipun harus berkorban, dan jadikanlah hidup kita kesaksian bahwa iman yang teguh dan harapan yang tidak padam selalu menemukan jalannya dalam kasih.
Saya mengakhiri renungan dengan sebuah pantun:
Burung merpati terbang tinggi,
Hinggap sebentar di pohon jati.
Jangan prasangka menutup hati,
Pandanglah sesama dengan kasih sejati.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kemuridan yang Tidak Terbelah
Petikan BUSA-H #16/09/2026
“Hati yang tertutup selalu menemukan alasan untuk menolak, tetapi hati yang terbuka mampu mengenali sapaan Allah bahkan melalui cara yang tidak kita harapkan.”
“Sebelum mencari kesalahan dalam diri orang lain, periksalah apakah cara kita memandangnya sudah lahir dari kasih.”
“Kasih tidak membuat kita menutup mata terhadap kesalahan, tetapi mengajarkan kita mengatakan kebenaran tanpa kehilangan penghargaan terhadap sesama.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menuntun Tanpa Tersesat
“Iman membuat kita berpaut kepada Allah, harapan membuat kita terus melangkah, dan kasih membuat perjalanan itu menjadi berkat bagi sesama.”
Tuhan memberkati kita#rd.fd@





