Kamis, 08 Oktober 2026. Hari Biasa Pekan XXVII. Galatia 3:1-5; Lukas 11:5-13.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, bayangkan sebuah perahu layar yang sedang melaju karena angin memenuhi layarnya. Anginlah yang mendorongnya maju, sedangkan layar hanya membuka diri untuk menerima kekuatan itu.
Betapa aneh jika di tengah perjalanan para penumpangnya menurunkan layar, lalu mengambil dayung dan berkata bahwa sekarang mereka akan mencapai tujuan dengan kekuatan tangan mereka sendiri. Mereka mungkin masih bergerak, tetapi akan cepat lelah dan perjalanan menjadi jauh lebih berat, sebab mereka meninggalkan kekuatan yang sejak awal telah membawa mereka maju.
Gambaran inilah yang membuat teguran Paulus kepada jemaat di Galatia terasa begitu tajam. Mereka memulai kehidupan baru bukan karena kehebatan mereka menaati hukum Taurat, melainkan karena percaya kepada Kristus dan menerima Roh-Nya. Namun setelah mengalami karya Roh, mereka justru tergoda mencari kesempurnaan dengan mengandalkan kemampuan manusia.
Karena itu Paulus hampir tidak percaya dan bertanya, “Kalian telah mulai dengan Roh, maukah kalian sekarang mengakhirinya dalam daging?” Seolah-olah Paulus berkata, mengapa setelah mengalami angin yang membawa kalian berlayar, kalian justru menurunkan layar dan memilih mendayung dengan kekuatan sendiri?
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Rosario, Misteri yang Merangkum Kehidupan
Kita pun sering melakukan hal yang sama. Kita memulai hari dengan doa, tetapi kemudian menjalani semuanya seolah-olah hanya kesibukan dan kemampuan kitalah yang menentukan. Kita memulai pelayanan dengan kasih, tetapi perlahan membiarkan iri hati, keinginan untuk dipuji, persaingan, dan kepentingan diri mengambil tempat di dalamnya.
Tanpa disadari, kita masih terus bekerja dan melayani, tetapi batin mulai kehilangan sukacita dan menjadi lelah. Bukan karena Tuhan berhenti menghembuskan Roh-Nya, melainkan karena kita perlahan menurunkan layar yang dahulu kita bentangkan kepada-Nya.
Dan ketika kita menyadari bahwa kita tidak sanggup mengarungi kehidupan hanya dengan kekuatan sendiri, Yesus mengajak kita kembali membuka diri kepada kekuatan yang datang dari Bapa.
Dalam Injil, Ia berkata, “Mintalah, maka kamu akan diberi. Carilah, maka kamu akan mendapat. Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Namun puncak perkataan Yesus justru terdapat pada bagian terakhir, “Bapamu yang di surga akan memberikan Roh Kudus kepada siapa pun yang meminta kepada-Nya.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Sibuk untuk Tuhan sampai Lupa Bersama Tuhan
Di sinilah Injil bertemu begitu indah dengan teguran Paulus. Paulus bertanya mengapa orang yang telah memulai dengan Roh kemudian memilih mengandalkan kekuatan sendiri, sedangkan Yesus menunjukkan dari mana kekuatan itu harus terus kita terima.
Kita sering datang kepada Tuhan meminta agar masalah segera selesai, penyakit disembuhkan, pekerjaan berhasil, atau kesulitan disingkirkan. Semua itu boleh kita mohonkan. Tetapi Yesus mengajak kita meminta sesuatu yang bahkan lebih dalam, yakni Roh Kudus sendiri.
Sebab kadang-kadang Tuhan tidak segera menenangkan gelombang di sekitar kita, tetapi Ia memberikan Roh-Nya agar kita mempunyai kekuatan untuk tetap berlayar di tengah gelombang itu.
Karena itu, ketika perjalanan hidup mulai melelahkan, mungkin yang pertama-tama perlu kita periksa bukan seberapa besar gelombang yang sedang kita hadapi, melainkan apakah layar kehidupan kita masih terbentang kepada Roh Allah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menemukan Kesukaan Allah di Wajah Sesama yang Terluka
Mulailah hari dengan meminta Roh Kudus sebelum tenggelam dalam berbagai urusan. Mintalah terang-Nya sebelum mengambil keputusan, kesabaran-Nya ketika menghadapi orang yang sulit, keberanian-Nya ketika harus memilih yang benar, dan kekuatan-Nya ketika kita ingin menyerah.
Jangan berhenti meminta hanya karena Tuhan belum menjawab seperti yang kita harapkan, sebab Yesus meyakinkan kita bahwa Bapa tidak akan memberikan batu kepada anak yang meminta roti.
Kita sering berdoa agar Tuhan segera mengubah keadaan di sekitar kita, padahal mungkin jawaban pertama-Nya adalah mengubah sesuatu di dalam diri kita.
Maka jangan habiskan tenaga hanya untuk mendayung sendirian. Bentangkan kembali layar kehidupanmu, mintalah Roh Kudus, dan biarkan Tuhan membawa hidupmu ke arah yang tidak sanggup engkau capai hanya dengan kekuatanmu sendiri.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Sia-siakan Kebun Anggur Tuhan
Petikan BUSA-H #08/10/2026
”Kita sering menyalahkan gelombang karena hidup terasa berat, padahal mungkin kita hanya terlalu lama mendayung sendiri setelah menurunkan layar yang seharusnya terbuka kepada Roh Allah.”
”Jangan mengira Tuhan berhenti bekerja hanya karena hidupmu sedang berat, sebab angin Roh tetap berhembus bahkan ketika perahumu sedang dihantam gelombang.”
”Kadang Tuhan tidak segera mengecilkan gelombang di hadapan kita, tetapi membesarkan keberanian di dalam diri kita agar gelombang itu tidak menentukan ke mana hidup kita akan pergi.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ketika Hidup Tak Dimengerti, Kasih Tuhan Tetap Pasti
”Kelelahan terdalam bukan selalu karena perjalanan terlalu jauh, tetapi karena kita terlal u lama berusaha mencapai tujuan dengan kekuatan sendiri ketika Tuhan sedang menawarkan kekuatan-Nya.”
Tuhan memberkati kita#rd.fd@






