Beralih Tanam Bawang, Petani di Magepanda Punya Tabungan

Fasilitator Program CSR Astra Desa Astra Sejahtera (DSA), Yovany Francis Yuki bersama petani di lokasi penanam bawang di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT, Kamis 8 Okober 2026. (dewadet.com/eginius moa).

MAUMERE,dewadet.com-Menanam padi sawah sudah berlangsung turun-temurun dilakukan oleh kebanyakan petani di areal persawahan di Kecamatan Magepanda,25 Km arah utara di Jalan Trans Utara Pulau Flores, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dari setiap musim tanam, produktivitas padi fluktuatif. Bila curah hujan baik dan minim serangan hama, produktivitas akan baik. Tapi pada musim-musim tertentu, produktivitas padi anjlok bikin petani harus kerja ekstra lagi.

Bersamaan itu, intervensi para petani pendatang dari Bima, Bugis dan  kaum keturunan lumayan masif. Lahan-lahan petani yang dianggap potensial dikontrak ditanami bawang dan holtikura lainnya. Ironisnya, petani pemilik lahan justeru menjadi buruh tani harian, bekerja kembali pada lahan yang dikontrakannya.

Realitas itu mendorong Fasilitator Program CSR Astra Desa Astra Sejahtera (DSA), Yovany Francis Yuki melakukan sesuatu terobosan. Berdiskusi dengan tim Panah Merah, Penyuluh Pertanian Lapang (PPL), pemerintah desa dan para petani.  Targetnya, mengalihkan petani tidak hanya tanam padi sekali semusim tapi juga bawang.

Baca juga:Sekolah Lapang Kakao, Kembalinya Primadona Petani Desa Bloro dari Tanaman Terserang Hama

“Saya tanya kepada Pak Ali dari Pana Merah, lokasi mana yang cocok tanaman bawang. Dia tunjuk beberapa tempat di Magepanda,” kata Vonny Francis Yuki, kepada wartawan Kamis petang, 8 Oktober 2026.

Kerja kolaborasi dimulai dengan depmlot. Penanaman di lahan percontohan berhasil mengedukasi para petani.

DSA menyediakan rumah semai, bibit dan mulsa. Panah Merah melakukan pendampingan sejak pengolahan lahan, penanaman, perawatan, panen sampai pasca panen. Sedangkan pemerintah desa mengalokasikan sedikit dana, dan PPL melakukan pendampingan kepada petani.

Panen dari demplot memberi pengaruh kepada para petani yang melibatkan diri menanam bawang. Meski tak dipungkiri masih banyak petani yang tidak mau tanam bawang, ada yang ragu-ragu, bahkan ada yang tidak mau tahu. Pokoknya tanam padi.

Baca juga:Wabah Busuk Batang dan Buah Kakao, Gondo Faustinus Munculkan Rehabilitasi dan Hilirisasi Kakao Mengubah Desa Bloro

Pada tahun pertama, 2025 dilakukan penanam bawang pada lahan seluas 2.000 meter persegi. Varietas bawang yang bagus dan panen yang banyak mendatangkan pendapatan yang besar dibanding panen padi.

“Kami akhirnya bikin Komunitas Petani Bawang, karena anggotanya menyebar. Anggota komunitas ini  setiap musim hujan tanam padi, dan musim panas mau tanam bawang,” urai Vonny Francis.

Pada tahun  kedua program tanam bawang di musim panas telah melibatkan 13 orang petani pada seluas total 2 Ha yang tersebar pada lahan lahan para petani anggota komunitas. Menurut rencana, panen bawang program kolabrasi dilakukan minggu depan.

“Pengakuan para petani yang sudah jual bawang, mereka bisa punya tabungan. Pada bulan-bulan tertentu ketika ada pesta, harga bawang sangat menguntungkan mereka. Mutu bawang mereka lebih bagus, siung besar dan warna merah dibanding bawang yang dibawah dari luar Sikka suing kecil dan warna pudar,” kata Vonny Francis. *

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan