Jari Tangan dan Rambut Noni Dijadikan Pesugihan Diungkap Ayah dan Ibu
MAUMERE,dewadet.com-Kematian Stefania Trisanti Noni (14) memasuki babak baru. Ibunda Noni, Maria Yohana Nona, dan ayahanda Herman Yoseph mengungkapkan bahwa sebagian rambut dan jari tangan anaknya yang hilang serta ditemukannya kain merah, beras dan uang logam di lokasi penemuan jasad Noni, 20 Februari 2026 diduga dijadikan sebagai pesugihan.
“Bagian tubuh anak saya yang hilang dijadikan pesugihan. Tanyakan sama mereka (terdakwa) yang ada di dalam (ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Maumere,” teriak Maria dalam orasi di Teras PN Maumere, Kamis siang 21 Mei 2026.
Ayah Noni, Herman Yosepg menimpali “apa maksud dari itu semua (uang logam, beras dan kain merah)?. Di tempat ditemukan jasad anak saya ada uang logam, kain merah dan beras. Itu apa artinya? tanya kepada mereka (terdakwa atau pelaku),” katanya lagi.
“Penjahat kamu ayomi, penjahat kamu lindungi. Tapi orang baik kamu biarkan,” Herman mengecam putusan 10 tahun untuk anak terdakwa Fransiskus Rofinus Gewar alias SGR yang telah divonis 13 Mei 2026.
Baca juga:Remaja Putri SMP MBC Ohe Dipaksa Hubungan Badan, Dibunuh dan Disembunyikan di Kali
Sementara tua adat dari 10 suku di Romanduru, Kecamatan Hewokloang, Gregoris Goris, kepada wartawan mengatakan bahan-bahan ritual adat berupa beras, uang logam, dan kain merah di lokasi penemuan jasad Noni, digunakan oleh dukun agar kematian Noni tidak bisa diungkap.
Baik Maria Yosefian Nona maupun Herman mengecam keras para pelaku maupun aparat kepolisian dan majelis hakim PN Maumere dalam aksi damai didukung 10 suku adat dari Kecamatan Hewokloang, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IFTK Ledalero, GMNI Cabang Sikka, dan TRuK-F.
Ayah dan ibu korban ini terus menyampaikan tuntutan kepada Polres Sikka agar menemukan bagian anggota tubuh, jari tangan, rambut, pakaian, dan handphone Noni.
Menurut ayah dan ibu korban, para pelaku tahu dimana lokasi anggota tubuh yang hilang tersebut disembunyikan. Namun poliisi tidak maksimal bekerja maksimal.
Aksi damai di PN Maumere, Kamis siang tadi berlangsung alot. Elemen massa semula minta kepada polisi dan pihak PN Maumere agar palang besi gerbang pintu PN dibuka sehingga mereka bisa masuk melakukan ritual di depan teras gedung dua lantai itu.
Permintaan berulang kali itu terkesan tidak diindahkan. Negosiasi beberapa kali mandek. Gabungan masa sekitar 100-an orang mendorong palang besi sampai bengkok dan terlepas dari pengaitnya. Ratusan orang merangsek ke dalam halaman kantor.
“Kami tidak masuk dalam ruang kantor. Kami hanya minta di teras gedung saja supaya bisa bikin ritual adat. Kalau tadi dibukakan palang besi tidak rusak,” kata orator dari GMNI Cabang Maumere.
Tua adat Gregorius Goris akhirnya melakukan ritual adat di pinggir teras gedung itu.
Baca juga:Pembunuh Noni Divonis 10 Tahun Penjara
Kematian Noni, masih penuh misteri meski terdakwa anak Fransiskus Rofinus Gewar sudah divonis 10 tahun penjara. Noni menghilang hari Jumat sore, 17 Februari 2026. Tiga hari kemudian, remaja putri kelas II SMP MBC Ohe di Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur ditemukan meniggal.
Jasad mulai membusuk berada di pinggir kali Desa Ribut, Kecamatan Hewkloang. *





