BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Antara Maria dan Yudas: Memurnikan Hati Tanpa Topeng
Senin, 30 Maret 2026. Hari Senin dalam Pekan Suci. Kitab Yesaya 42:1-7; Yohanes 12:1-11.
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara yang terkasih, selamat memasuki Pekan Suci yang hening dan sarat makna. Berbagai gambaran tentang Hamba Yahwe tersingkap dengan jelas pada hari-hari ini.
Dalam nubuat Yesaya, sosok Hamba Yahwe tampil bukan sebagai figur yang fulgar, melainkan pribadi yang setia, lembut, dan penuh belas kasih. Ia tidak mematahkan buluh yang terkulai dan tidak memadamkan sumbu yang pudar.
Di sini tampak jelas wajah Yesus sebagai kehadiran yang tidak menghancurkan yang rapuh, tetapi justru merawat dan menghidupkan kembali.
Di tengah dunia yang bising, keras, dan sering menghakimi, kita boleh bertanya: apakah cara kita hidup mencerminkan kelembutan Allah atau justru menambah luka bagi sesama?
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Memerlukannya
Injil menghadirkan kontras yang tajam. Maria mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal sebagai tindakan kasih yang total, tulus, dan profetis. Ia memahami sesuatu yang belum dipahami oleh yang lain, bahwa kasih sejati tidak selalu tunduk pada perhitungan untung dan rugi.
Sebaliknya, Yudas bersuara dengan logika yang tampak masuk akal ketika membela orang miskin, namun terselubung motivasi mencuri untuk kepentingan diri.
Tak dapat kita pungkiri sekian sering kita memberi alasan yang tampak mulia untuk melakukan kebaikan tetapi dibungkus dengan niat buruk demi kepentingan pribadi.
Paus Fransiskus mengingatkan bahwa kemunafikan adalah bahasa para pencuri dan koruptor, sehingga jangan gunakan bahasa itu. Mari murnikan motivasi hati kita dengan bahasa kasih yang jujur.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Satu Mati untuk Semua: Bukan Karena Kalah Tetapi Karena Kasih
Saudari dan saudara, kasih yang jujur ada pada Maria yang mencintai dengan prioritas dan memberi secara total kepada Tuhan. Ia tidak menunda, tidak menghitung, dan tidak setengah hati, melainkan memberikan yang terbaik.
Kalau kita jujur, dalam kehidupan sehari-hari, sering kali Tuhan justru menerima sisa dari waktu, perhatian, dan hati kita. Kita sibuk, kita hemat, dan kita rasional, namun pertanyaannya: apakah kita masih mampu memberikan kasih yang total kepada Tuhan?
Santo Agustinus mengatakan agar kita mencintai dan melakukan apa yang kita kehendaki dengan tulus, dengan cinta sejati supaya nyata, berani, dan rela berkorban. Kasih seperti inilah yang menjadi dasar pelayanan kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan tersisih.
Di hari Pekan Suci ini kita diingatkan bahwa sumber segala pelayanan adalah Kristus sendiri. Kita mengasihi karena Ia lebih dahulu mengasihi kita. Jika kasih kepada orang miskin menjadi opsi kita, maka haruslah berakar pada kasih kepada Kristus, sehingga tidak berubah menjadi sekadar aktivitas sosial atau bahkan alat pencitraan. Kasih yang berakar pada Kristus menjadi tulus, setia, dan membawa keselamatan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kebenaran Selalu Mengganggu: Bertahan atau Menyerah
Maka pesan hari ini sederhana namun menuntut, jangan biarkan hati terjebak dalam kepalsuan yang tampak rapi. Belajarlah dari kelembutan Sang Hamba Yahwe dan keberanian kasih Maria. Beranilah mencintai dengan jujur, memberi dengan tulus, dan berjalan bersama Kristus menuju salib, karena di sanalah kasih menemukan kepenuhannya.
Petikan BUSA-H untuk kita:
”Saat motivasi dimurnikan oleh kasih, setiap tindakan kecil menjadi jalan menuju terang dan keselamatan.”
”Lebih baik memberi sedikit dengan hati yang jujur, daripada memberi banyak dengan hati yang bertopeng.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Janji Tuhan dan Rapuhnya Kesetiaan Kita
”Kasih yang palsu pandai berbicara, tetapi kasih yang sejati berani berkorban.”
”Di hadapan salib, topeng jatuh, yang tersisa hanyalah hati yang sungguh mengasihi.”
Tuhan memberkati kita.#rd.fd@





