Jumat, 07 Agustus 2026. Hari Biasa Pekan XVIII. Nubuat Nahum 1:15; 2:2; 3:1-3, 6-7; Matius 16:24-28

Oleh: RD. Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, “keberhasilan terbesar dalam hidup bukanlah memperoleh sebanyak mungkin, melainkan tetap memiliki hati yang setia kepada Allah ketika memiliki banyak ataupun sedikit.”

Begitulah pergulatan yang dihadapi banyak orang. Semua orang rela bekerja keras, mengejar cita-cita, membangun keluarga yang harmonis, mengembangkan usaha, dan melakukan banyak tugas untuk mengumpulkan lebih banyak.

Semua itu baik dan perlu. Namun, tanpa disadari, kita dapat begitu sibuk mengejar apa yang bersifat sementara hingga kehilangan apa yang paling berharga, yakni hidup yang abadi yang berakar pada Allah.

Bacaan Kitab Suci mengingatkan bahwa yang menentukan nilai hidup bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya pengaruh, melainkan kesetiaan kepada kehendak Tuhan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tabor Bukan Tujuan Akhir

Nabi Nahum memperlihatkan bahwa Niniwe yang tampak begitu kuat akhirnya runtuh karena kesombongan, kekerasan, dan ketidakadilan. Sebaliknya, bagi Yehuda Tuhan mengumumkan kabar damai. Damai sejati ternyata bukan lahir dari kekuatan manusia, melainkan dari hidup yang tetap berpaut kepada Allah.

Dari peringatan Nabi Nahum itulah Injil mengantar kita kepada perkataan Yesus yang sangat menggugah, ” Apa gunanya bagi seseorang jika ia memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”

Pertanyaan ini bukan sekadar berbicara tentang kehidupan setelah kematian, melainkan tentang arah hidup yang sedang kita pilih. Yesus tidak melarang orang bekerja, memiliki, atau berhasil, tetapi mengingatkan agar semua itu tidak menggantikan Tuhan sebagai pusat kehidupan.

Itulah sebabnya Yesus terlebih dahulu berkata, ” Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, lalu mengikut Aku.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih yang Tidak Pernah Menyerah

Menyangkal diri berarti menempatkan kehendak Allah di atas kepentingan diri sendiri, sedangkan memikul salib berarti tetap setia melakukan yang benar meskipun menuntut pengorbanan.

Betapa sering orang tergoda mengorbankan kejujuran demi keuntungan, mengabaikan keluarga demi keinginan sendiri, atau meninggalkan doa dan ekaristi demi kesibukan.

Semua itu tampak memberi keuntungan sesaat, tetapi perlahan mengikis kehidupan batin yang terarah kepada keabadian. Karena itu yang harus menjadi perjuangan kita adalah menyimpan harta yang tidak pernah dapat dirampas oleh siapa pun. Sebab pada akhirnya, setiap kita akan mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan Allah.

Saudari dan saudara terkasih, marilah kita memeriksa kembali apa yang sedang menjadi pusat kehidupan kita. Jangan sampai kita memperoleh banyak hal, tetapi kehilangan damai, kasih, kejujuran, dan kedekatan dengan Tuhan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Saat Allah Menjernihkan Hati

Sebaliknya, peliharalah hati yang setia melalui doa, kejujuran dalam bekerja, kasih dalam keluarga, dan kesediaan memikul salib setiap hari dengan penuh iman.

Ingatlah, keberhasilan yang sejati bukanlah memiliki segala sesuatu, melainkan tetap menjadi milik Kristus dalam segala keadaan.

Sebab orang yang menyerahkan hidupnya kepada Tuhan mungkin tidak selalu memiliki apa yang diinginkannya, tetapi ia tidak akan pernah kehilangan apa yang paling dibutuhkannya, yakni kasih Allah yang menyelamatkan, menopang, dan mengantar kepada kehidupan yang kekal.

Petikan BUSA-H #07/08/2026 

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Biarkan Keraguan Menenggelamkan Iman

”Keberhasilan terbesar bukanlah memperoleh sebanyak mungkin, melainkan tetap menjadi milik Kristus ketika memiliki banyak ataupun sedikit.”

”Apa gunanya memperoleh segala sesuatu apabila hati kehilangan damai, kasih, dan kedekatan dengan Allah yang menjadi sumber kehidupan kekal.”

”Orang yang setia menempatkan kehendak Allah di atas segala kepentingan sedang mengumpulkan harta yang tidak pernah dapat dirampas oleh siapa pun.”

”Kasih kepada Kristus tidak selalu membuat hidup menjadi lebih mudah, tetapi selalu membuat hidup memiliki arah yang benar menuju kehidupan yang kekal.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan