BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Hidup dalam Kehendak Allah
Selasa, 27 Januari 2026. Hari Biasa Pekan III. 2 Samuel 6:12b-15.17-19; Markus 3:31-35.
Oleh; Rd. Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara yang terkasih. Kita adalah orang beriman, namun tidak jarang iman direduksi menjadi rutinitas yang aman dan rutin. Banyak orang ingin dekat dengan Tuhan, tetapi enggan mengekspresikan imannya secara utuh dan total dalam kesaksian hidup yang nyata.
Di tengah realitas seperti ini, Daud menampilkan iman yang hidup dan berani, menari dengan segenap hati di hadapan Tabut Tuhan, sementara Yesus menegaskan bahwa kedekatan sejati dengan-Nya tidak diukur dari relasi lahiriah, melainkan dari ketaatan pada kehendak Allah.
Daud mengangkut Tabut Tuhan dengan sorak-sorai dan bunyi sangkakala, sebuah gambaran iman yang hidup, gembira, dan tanpa topeng. Ia tidak malu menari dan merendahkan diri di hadapan Tuhan, sebab yang ia rayakan bukan dirinya, melainkan kehadiran Allah di tengah umat.Setelah itu, Daud mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan, tanda bahwa sukacita sejati selalu berujung pada penyerahan diri.
Iman bukan sekadar perayaan lahiriah, melainkan relasi yang mendorong manusia memberikan yang terbaik kepada Allah dan berbagi berkat dengan sesama. Daud lalu membagikan roti, daging, dan kue kismis kepada seluruh rakyat, karena perjumpaan dengan Tuhan tidak pernah berhenti pada altar, tetapi mengalir ke kehidupan bersama.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Diutus Tanpa Bekal, Bersaksi dengan Keberanian
Injil meneguhkan makna iman yang sama kuatnya. Ketika Yesus menunjuk kepada orang-orang yang mendengarkan Dia dan berkata bahwa merekalah ibu dan saudara-saudara-Nya, Ia sedang membongkar cara pandang lama tentang kedekatan dengan Allah.
Hubungan darah bukan jaminan, status religius bukan ukuran, bahkan kedekatan fisik pun tidak cukup. Yang menjadikan seseorang bagian dari keluarga Allah adalah kesediaan melakukan kehendak-Nya. Iman bukan soal berada dekat secara lahiriah, melainkan hidup selaras dengan kehendak Bapa dalam setiap pilihan dan tindakan hidup setiap hari.
Melakukan kehendak Allah artinya menghadirkan kasih di dalam komunitas biara dengan berani menanggalkan ego, menerima perbedaan karakter, dan tetap melayani dengan hati yang utuh meski tidak selalu dimengerti; di dalam kehidupan keluarga, memilih kesabaran daripada amarah, kesetiaan daripada pelarian, dan dialog daripada saling menyalahkan; di tempat kerja, menjunjung kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan meski harus berhadapan dengan tekanan; dan di lingkungan masyarakat, hadir sebagai pembawa damai, menolak sikap acuh tak acuh, serta berani membela yang lemah.
Saudari dan saudara terkasih, Sabda Tuhan hari ini menggerakkan kita untuk memiliki iman yang utuh. Iman yang merayakan kehadiran Allah dengan hati yang gembira dan iman yang mewujudkan kasih Allah melalui ketaatan yang nyata.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Cinta yang Disalahpahami, Kesetiaan yang Teruji
Marilah kita berani menari seperti Daud dalam kesetiaan dan melangkah sebagai saudara, saudari dan ibu Yesus dalam ketaatan pada kehendak Allah, agar hidup kita sungguh menjadi ruang kehadiran Allah bagi banyak orang.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Iman yang sejati tidak hanya berani merayakan Tuhan di altar, tetapi juga setia melakukan kehendak-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari.”
”Ketika iman berhenti pada rutinitas, hidup menjadi kosong; tetapi ketika iman dihidupi dalam ketaatan dan kasih, hidup kita menjadi ruang kehadiran Allah yang menyelamatkan.”
Tuhan memberkati kita.





