Kamis, 16 Oktober 2025. Hari Biasa Pekan XXVIII. Roma 3:21-30a; Lukas 11:47-54.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI  dan saudara terkasih dalam Kristus. Kehidupan saat ini membuat kita mudah bermegah atas apa yang kita capai, seperti jabatan, status sosial, popularitas, bahkan kesalehan. Sikap ini membuat kita mudah lupa bahwa keberhasilan atau keselamatan bukanlah hasil dari usaha manusia, melainkan anugerah Allah yang diterima dalam iman.

Seperti dikatakan Rasul Paulus, “Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” (Rm 3:28). Artinya, keselamatan bukan hadiah untuk yang paling patuh pada aturan, tetapi bagi yang paling percaya kepada kasih Allah yang memerdekakan.

Rasul Paulus menyingkapkan kebenaran yang revolusioner, yaitu keadilan Allah tidak diukur dari kepatuhan lahiriah, tetapi dari relasi kasih yang hidup antara manusia dan Allah. Oleh karena itu, kebenaran tidak dinilai berdasarkan “penampilan religius,” melainkan sikap percaya kepada Allah dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kasih-Nya.

Ini berarti bahwa iman sejati bukanlah sekadar menjalankan kewajiban rohani, tetapi kesediaan untuk mengakui bahwa tanpa rahmat, kita tidak mampu berbuat apa-apa. Maka, bermegah dalam iman berarti bermegah dalam kerendahan hati, karena kita hidup bukan dari kekuatan sendiri, melainkan dari belas kasih Allah yang tidak pernah gagal.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Salib: Jalan Rendah Hati di Tengah Dunia yang Cepat Menghakimi

Sementara itu, Injil Lukas menyingkap sisi lain dari pergumulan manusia beriman: keinginan untuk memerangkap kebenaran dengan pikiran sempit. Orang Farisi dan ahli Taurat berusaha menjebak Yesus dengan kata-kata-Nya (Luk 11:53–54). Mereka mewakili mentalitas yang masih hidup sampai hari ini, yakni mentalitas yang lebih sibuk mencari kesalahan orang lain daripada menemukan kebenaran Allah dalam diri sesama.

Betapa sering kita seperti mereka: mengintai kelemahan sesama, menguji ketulusan orang lain, dan lupa menyalakan kasih yang memahami sebelum menilai, serta melihat wajah Allah yang hadir dalam diri sesama.

Untuk itu, kita diajak meneladani Yesus yang tetap berdiri teguh dalam kasih dan kebenaran. Ia tidak terjebak dalam provokasi, karena hidup-Nya berakar pada relasi yang murni dan utuh dengan Bapa.

Di sinilah letak kebaruan sabda hari ini: bahwa iman sejati tidak gentar ketika diuji, sebab iman sejati tidak bertumpu pada logika manusia, melainkan pada kesetiaan Allah yang tak pernah ingkar janji.
Maka, saudari dan saudara yang dikasihi Tuhan, marilah kita belajar berhenti bermegah atas kesalehan diri, dan mulai bermegah atas kasih Allah yang membenarkan kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Bersihkanlah Hati, Bukan Sekadar Penampilan

Dalam iman yang sejati, kita tidak lagi sibuk membela diri, tetapi menyerahkan diri kepada Allah. Kita tidak lagi hidup untuk membuktikan bahwa kita benar, tetapi untuk menunjukkan bahwa Allah itu setia. Ingatlah, ketika kasih mengalahkan kesombongan akan melahirkan iman yang damai dalam jiwa.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Ketika kita berhenti bermegah atas kesalehan diri, di sanalah Allah mulai dimuliakan melalui hidup kita.”

“Kesombongan dalam hidup beriman menutup jalan rahmat, tetapi kerendahan hati membuka pintu pembenaran oleh kasih Allah.”

Tuhan memberkati kita.

Editor: Eugenius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan