Kamis, 17 September 2026. Hari Biasa Pekan XXIV. 1 Korintus 15:1-11; Lukas 7:36-50.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, ada saatnya kita merasa bahwa kita harus menjadi baik dahulu supaya pantas datang kepada Tuhan. Kita malu dengan masa lalu, kecewa pada kelemahan sendiri, atau diam-diam berpikir bahwa dosa tertentu membuat kita tidak layak lagi mendekat.

Perempuan dalam Injil hari ini justru melakukan yang sebaliknya. Ia datang kepada Yesus dengan seluruh hidupnya, dengan air mata, luka, dan masa lalunya. Sementara Simon merasa cukup baik sehingga dapat berdiri pada jarak yang aman dan menilai perempuan itu, perempuan itu tahu bahwa ia membutuhkan belas kasih.

Di sinilah Injil membalik cara pandang kita. Yang paling dekat dengan Tuhan bukan selalu orang yang merasa dirinya paling benar, melainkan orang yang berani datang dengan hati yang membutuhkan belas kasih.

Yesus tidak menyangkal dosanya, tetapi Ia juga tidak membiarkan dosa menjadi kata terakhir tentang hidup perempuan itu. Kata terakhir Yesus adalah pengampunan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Biarkan Prasangka Menutupi Hati

Ketika seseorang sungguh mengalami dirinya diampuni, biasanya lahir dalam hatinya rasa syukur dan kerendahan hati. Ia tidak lagi sibuk membenarkan diri atau menghakimi orang lain, tetapi terdorong untuk memperbaiki hubungan, berdamai, dan meneruskan kepada sesama belas kasih yang lebih dahulu ia terima.

Saudari dan saudara terkasih, di hadapan belas kasih Tuhan, kisah perempuan itu sebenarnya juga menjadi kisah kita. Sering kali persoalannya bukan karena Tuhan kurang mengampuni, tetapi karena kita kurang menyadari betapa banyak kita sendiri telah menerima pengampunan.

Karena itu perkataan Yesus terasa begitu tajam, orang yang sedikit diampuni, sedikit pula ia berbuat kasih. Bukan berarti ada orang yang hanya sedikit membutuhkan rahmat.

Bisa jadi kita seperti Simon, begitu terbiasa dengan Tuhan sehingga kehilangan rasa takjub akan kasih-Nya. Kita datang ke gereja, berdoa, menerima sakramen, bahkan melayani, tetapi hati tetap mudah menghakimi.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tetap Berdiri di Dekat Salib

Kita tahu kesalahan pasangan, anak, tetangga, rekan kerja, bahkan sesama umat, tetapi lupa berapa kali Tuhan telah bersabar terhadap kita. Paulus memahami hal ini ketika berkata bahwa karena kasih karunia Allah ia menjadi sebagaimana adanya. Paulus mempunyai masa lalu yang tidak dapat dibanggakan, tetapi rahmat Tuhan tidak membuatnya terpenjara dalam rasa bersalah.

Rahmat justru mengubah masa lalunya menjadi alasan untuk mengasihi dan bekerja lebih sungguh. Sebab rahmat sejati bukan izin untuk tetap hidup dengan cara yang sama. Rahmat adalah kasih Allah yang menyentuh, mengubah, dan memberi kita keberanian untuk menjalani hidup dengan cara yang baru.

Saudari dan saudara terkasih, pengalaman akan belas kasih Tuhan mengubah cara kita memandang diri sendiri dan sesama. Kita tidak lagi merasa perlu berdiri seperti Simon, menjaga jarak sambil menilai siapa yang pantas dan siapa yang tidak pantas berada dekat dengan Tuhan.

Kita justru belajar berdiri bersama perempuan itu, sebagai orang-orang yang sadar bahwa hidup ini ditopang oleh belas kasih. Masa lalu mungkin tidak dapat dihapus, luka mungkin masih meninggalkan bekas, dan kelemahan mungkin masih harus kita perjuangkan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Pandanglah Salib, Jangan Kehilangan Harapan

Namun semua itu tidak lebih besar daripada kasih karunia Allah. Perempuan itu datang membawa air mata dan pulang membawa damai. Paulus membawa sejarah hidup yang kelam, tetapi rahmat mengubahnya menjadi seorang pewarta Injil.

Tuhan yang sama juga bekerja dalam hidup kita. Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk mengasihi kita. Ia mengasihi kita, dan justru karena kasih itulah kita perlahan diubah.

Semakin dalam seseorang mengalami dirinya dikasihi dan diampuni Tuhan, semakin luas pula hatinya untuk mengasihi. Sebab kasih yang kita berikan kepada sesama adalah rahmat yang lebih dahulu kita terima dari Tuhan.

Sayang mengakhiri renungan ini dengan sebuah pantun: 

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berhentilah Menghitung, Mulailah Mengampuni

Embun bening jatuh di taman,

Mentari pagi membawa terang.
Rahmat Tuhan memberi pengampunan,
Hati diubah menebarkan kasih sayang.

Petikan BUSA-H #17/09/2026

”Kita tidak harus menjadi sempurna untuk dikasihi Tuhan, sebab justru dalam segala kelemahan kita, kasih dan rahmat-Nya bekerja mengubah kita menjadi manusia yang baru.”

”Masa lalu mungkin tidak dapat dihapus dan luka masih meninggalkan bekas, tetapi rahmat Tuhan selalu lebih besar daripada apa pun yang pernah terjadi dalam hidup kita.”

”Yang paling dekat dengan Tuhan bukanlah orang yang merasa dirinya paling benar, melainkan orang yang berani datang dengan hati yang membutuhkan belas kasih.”

”Semakin dalam kita menyadari bahwa kita telah dikasihi dan diampuni Tuhan, semakin luas hati kita untuk mengasihi, sebab kasih yang kita berikan adalah rahmat yang lebih dahulu kita terima.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan