Senin, 10 November 2025.  Peringatan St. Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja. Kitab Kebijaksanaan 1:1-7; Lukas 17:1-6.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARA -saudari terkasih dalam Kristus. Seorang guru pernah mendengar seorang anak kecil berusia tujuh tahun memarahi temannya dengan kata yang tidak senonoh. Sang guru menegurnya, “Itu kata yang sangat buruk. Dari mana kamu mempelajarinya?” Anak itu menjawab polos, “Dari video.” “Dan mengapa kamu menonton video itu?” tanya sang guru lagi. Anak itu menjawab, “Ayahku sering menontonnya.”

Kita sering mengeluh tentang perilaku anak-anak zaman ini, tetapi lupa bahwa mereka sedang belajar dari kita. Setiap kata, setiap tindakan, setiap sikap kita menjadi pelajaran hidup bagi orang lain, terutama bagi mereka yang lemah dan polos.

Yesus dalam Injil hari ini (Luk 17:1–6) memberikan peringatan yang sangat tegas: “Celakalah orang yang menyesatkan! Lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya dan ia dilemparkan ke laut, daripada menyesatkan seorang yang kecil ini.”

Yesus tidak sedang mengancam, tetapi menggugah hati nurani kita. Ia ingin mengatakan: pengaruh hidup kita tidak pernah netral, selalu membangun atau merusak. Maka, setiap kita dipanggil bukan sekadar untuk tidak menyesatkan, tetapi untuk menjadi teladan iman yang menumbuhkan kasih, harapan, dan kejujuran.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kita adalah Rumah Allah yang Hidup

Bacaan pertama hari ini (Kebijaksanaan 1:1–7) menegaskan: “ Cintailah keadilan, hai kamu yang menguasai bumi, pikirkanlah Tuhan dengan tulus hati.” Roh Tuhan, kata penulis Kitab Kebijaksanaan, memenuhi seluruh bumi dan mengenal setiap suara yang tersembunyi.

Artinya, tidak ada satu pun niat atau tindakan kita yang luput dari penglihatan-Nya. Di tengah kehidupan yang penuh pengaruh buruk, kita dipanggil untuk mencintai kebajikan, untuk berpikir jujur, berbicara benar, dan bertindak dengan hati yang bersih. Itulah wujud iman yang sejati.

St. Leo Agung, yang kita peringati hari ini, pernah berkata: “Hai pengikut Kristus, sadarlah akan martabatmu! Engkau telah menjadi tubuh Kristus, maka hiduplah seperti Kristus.” Ia mengingatkan bahwa setiap orang beriman adalah wajah Kristus di hadapan sesama. Hidup kita harus menjadi “Injil yang terbuka” yang dapat dibaca oleh siapa pun, bahkan oleh mereka yang belum mengenal Tuhan.

Saudara-saudari terkasih. Kita menyesali rusaknya moral, namun lupa bahwa setiap kata kasar, setiap sikap tidak jujur, setiap kemarahan kecil yang kita biarkan menjadi batu sandungan bagi yang lain. Maka, marilah kita mulai dari diri sendiri: dari rumah, dari pekerjaan, dari komunitas kecil kita. Jadilah teladan kecil yang memantulkan terang Kristus.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Relasi yang Memuliakan Allah

Paus Fransiskus pernah berkata, “Kesaksian hidup lebih kuat daripada khotbah terpanjang.” Dan benar: iman yang tulus tidak memerlukan panggung, hanya hati yang setia. Iman sejati tidak diukur dari banyaknya kata yang diucapkan, tetapi dari kesetiaan hidup yang memancarkan kasih, kejujuran, dan kebaikan yang nyata dalam tindakan sehari-hari.

Petikan Butiran Sabda hari ini:

”Kesaksian hidup yang tulus lebih mengubah hati daripada seribu kata indah.”

”Berhati-hatilah, sebab melalui hidupmu, seseorang sedang belajar mengenal Tuhan.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan