Minggu, 14 September 2025. Pesta Pemuliaan Salib Suci. Kitab Bilangan 21:4-9; Filipi 2:6-11;Lukas 6:43-49.
Oleh: RD. Fidelis Dua
Saudari dan saudara terkasih dalam Kristus. Salib sebuah tanda yang sederhana: dua bilah kayu yang bersilang. Namun, dalam iman kita, salib bukan sekadar benda atau ornamen. Salib adalah ungkapan cinta yang paling sempurna, cinta yang melampaui logika, cinta yang bertahan di tengah penderitaan, cinta yang sanggup mengubah kematian menjadi kehidupan.
Tidak ada lambang lain dalam sejarah manusia yang begitu paradoksal: alat hukuman yang kejam, namun berubah menjadi sumber keselamatan. Salib adalah wajah kasih Allah yang paling nyata.
Hari ini, Gereja mengajak kita merenungkan misteri pemuliaan salib. Tetapi, apa arti salib bagi kita yang hidup di zaman modern ini, zaman yang sering alergi terhadap penderitaan, lebih suka jalan pintas, dan mengukur nilai hidup dari kesuksesan lahiriah?
Jawabannya dapat kita lihat dari pengalaman bangsa Israel di padang gurun (Bilangan 21:4-9). Ketika mereka bersungut-sungut melawan Allah, mereka dipagut ular berbisa. Menariknya, Allah tidak serta-merta melenyapkan ular-ular itu. Sebaliknya, Ia memerintahkan Musa membuat ular tembaga yang ditinggikan di tiang. Setiap orang yang memandangnya dengan iman, diselamatkan. Bukan ular tembaga itu yang menyelamatkan, melainkan ketaatan pada firman Allah yang menghadirkan kasih dan kuasa-Nya.
Baca Juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Buah Kasih dari Hati yang Tulus
Inilah pesan teologis yang sangat realistis bagi hidup kita: Allah tidak selalu menghapus penderitaan dari jalan kita. Luka, masalah, bahkan “ular-ular berbisa” zaman ini, seperti kemarahan, iri hati, keserakahan, dan berbagai cobaan tetap ada.
Tetapi Allah memberikan salib sebagai tanda kasih-Nya, agar siapa saja yang memandang Kristus yang ditinggikan dengan iman, ia memperoleh hidup. Keselamatan bukan datang dari melarikan diri dari penderitaan, tetapi dari keberanian menatap salib dan percaya bahwa di balik penderitaan, ada kuasa kasih Allah yang memulihkan.
Saudari dan saudara terkasih dalam Kristus. Bangsa Israel di padang gurun diselamatkan bukan karena ular tembaga itu, melainkan karena iman mereka ketika menatap tanda kasih Allah. Demikian pula kita: salib Kristus adalah tanda kasih Allah yang tertinggi.
Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi (2:6-11) menyingkapkan makna terdalam dari salib itu. Yesus, meski setara dengan Allah, rela merendahkan diri, taat sampai mati di kayu salib. Inilah puncak kerendahan hati dan ketaatan. Dalam kerendahan dan ketaatan itulah Allah meninggikan Dia dan menganugerahkan nama di atas segala nama.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Dari Kelemahan Lahir Kesaksian
Artinya, salib bukan sekadar simbol penderitaan, tetapi jalan menuju pemuliaan. Salib mengajarkan bahwa kemuliaan sejati lahir bukan dari kesombongan atau keangkuhan, melainkan dari kerendahan hati, ketaatan, dan kasih yang total. Salib mengajarkan kita hukum paradoks kasih Allah: yang mau turun akan diangkat, yang rela kehilangan akan mendapat, yang taat sampai akhir akan dimuliakan.
Saudari dan saudara terkasih dalam Kristus. Selanjutnya Injil Yohanes (3:14-17) menegaskan kembali gambaran itu dengan bahasa yang tegas: “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.”
Salib bukan alat hukuman, melainkan jalan keselamatan. Allah tidak mengutus Anak-Nya untuk menghakimi dunia, tetapi untuk menyelamatkannya. Inilah realitas iman kita: di balik salib ada kasih, di balik luka ada hidup, di balik duka ada harapan.
Maka, saudari dan saudara. Salib yang kita renungkan hari ini mengajak kita menatap hidup dengan cara yang baru. Dunia mungkin alergi pada penderitaan dan hanya mengejar kesuksesan lahiriah, tetapi kita diajar untuk berani menatap salib: bukan sebagai kutuk, melainkan sebagai tanda kasih yang menyelamatkan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Membalut Luka dengan Pakaian Kasih
Siapa yang memandang Kristus yang ditinggikan dengan iman, hidupnya akan dipenuhi pengharapan. Sebab dengan salib, Kristus mengubah duka menjadi harapan, dan penderitaan menjadi jalan menuju kemuliaan.
Saudari-saudara. Bukankah kita juga kerap seperti bangsa Israel mudah bersungut-sungut, kecewa, putus asa saat hidup tak sesuai harapan? Kita mencari keselamatan instan: kekayaan, kuasa, dan popularitas. Namun, semua itu hanyalah fatamorgana yang fana.
Sebab itu, Salib Kristus yang kita muliakan hari ini mengingatkan kita bahwa jalan keselamatan bukanlah dengan lari dari penderitaan, melainkan dengan berani menatap Kristus yang ditinggikan. Menatap salib berarti belajar mencintai tanpa pamrih, mengampuni tanpa syarat, dan tetap setia meski disakiti.
Di keluarga, salib hadir ketika kita bertahan merawat orang tua yang sakit. Di pekerjaan, salib hadir ketika kita memilih jujur meski dicemooh. Di masyarakat, salib hadir ketika kita melayani dengan tulus, bukan mencari keuntungan pribadi.
Baca jugaBUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Hidup yang Berakar dalam Kristus
Saudari-saudara terkasih. Salib bukan beban yang menghancurkan, melainkan jalan yang menghidupkan. Salib bukan tanda akhir, tetapi pintu menuju kebangkitan. Maka, jangan hanya menggantungkan salib di dada, tetapi hiduplah dengan semangat salib dalam tindakan nyata.
Belajarlah mencintai seperti Kristus mencintai, merendahkan diri seperti Kristus merendahkan diri, dan mengampuni seperti Kristus mengampuni.
Dengan demikian, Salib menjadi undangan bagi kita untuk percaya meski jalan hidup terasa gelap, dan menjadi janji bahwa penderitaan tidak pernah sia-sia bila dijalani bersama Kristus. Maka marilah kita bertanya sejenak: ketika dunia menawarkan banyak jalan pintas, beranikah kita tetap setia pada jalan salib, jalan yang berat, tetapi satu-satunya jalan menuju kehidupan sejati?
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kelahiran Maria Awal Perjumpaan Baru Allah dengan Umat-Nya
“Salib bukan beban yang menekan, melainkan undangan untuk mencintai dengan lebih murni tanpa syarat.”
“Di balik luka salib, kita menemukan wajah kasih Allah yang menyembuhkan segala sakit dan duka sepanjang zaman.”
Tuhan memberkati kita.






