Hasil Riset, 60 Lebih Persen Warga Maumere dan Nagekeo Hutang ke Koperasi Harian
MAUMERE,dewadet.com- Riset yang dilakukan Romo Dr. Wilfrid Valiance dari Keuskupan Maumere menemukan 66,20 persen responden di Maumere, Kabupaten Sikka dan 64,5 persen responden di Kabupaten Nagekeo berhutang pada koperasi harian.
Hasil riset ini terungkap dalam seminar sehari pada Rabu 8 Juli 2026 di Aula Henrich Puskopdit Swadaya Utama Maumere. Kegiatan yang juga menampilkan tokoh koperasi internasional Robby Tulus diinisiasi oleh Puskopdit Swadaya Utama Maumere dihadiri pengurus dan manajemen Kopdit dari Kabupaten Sikka dan Flores Timur, minus Lembata dalam wilayah kerja Puskopdit Swadaya Utama Maumere.
Romo Wilfrid, juga dikenal konsultan transformasi sosial yang mencetuskan teori Soft Movement atau Gerakan Lunak, sebuah pendekatan perubahan tanpa konfrontasi membeberkan hasil menggembirakan 82,56 persen responden telah menjadi anggota Credit Union (CU).
Baca juga:Robby Tulus: KDKMP Konsepnya Bagus Tapi Tidak Ada Kajian
Menurutnya, dominasi persetujuan 82,56 persen menunjukkan bahwa koperasi kredit (Kopdit) telah berhasil mempromosikan diri sebagai pilar ekonomi yang paling dipercaya.
“Tapi CU yang diikuti baru memberikan arahan untuk simpan pinjam, belum secara efektif memberikan pendampingan dan pengembangan usaha ekonomi,” ujar Romo Wilfrid.
CU Fungsi Sirkulasi Keuangan
Hasil riset juga menemjukan 69,28 persen responden membenarkan gerakan CU saat ini baru sebatas menjalankan fungsi sirkulasi keuangan tradisional (simpan pinjam). Namun belum secara efektif memberikan pendampingan usaha yang konkrit kepada anggota.
Baca juga:Robby Tulus Ingatkan Kembali ke Marwah Koperasi
“Terjadi distori fungsi koperasi. Lembaga yang sejatinya didirikan untuk membebaskan umat dari jerat kemiskinan melalui usaha produktif, baru menjadi tempat penampung tabungan dan penyaluran kredit yang umumnya konsumtif sehingga berdampak kredit macet,” tegas Romo Wilfrid.
Dikatakannya, suara 69,28 persen responden mengonfirmasi adanya pergeseran orientasi, cendrung lebih fokus pada pengejaran target likuiditas, pertumbuhan aset sambil melupakan misi utama sebagai sekolah kehidupan ekonomi.
Hasil riset di Maumere menunjukkan 66, 20 persen responden sering meminjam uang pada koperasi harian Amarta, GMIT, Melkar, Komida atau sejenisnya. Padahal pada pertanyaan sebelumnya 82,86 persen responden mengklaim sudah menjadi anggota CU.
Irisan data ini memperlihatkan celah pasar keuangan mikro yang dibuka CU (mekanismen pinjaman yang terlalalu birokratis) ditutup oleh koperasi harian yang mempraktekan model Grameen Bank (prosedur pencairan yang instan tanpa agunan fisik dan penjemputan bola langsung ke rumah).
Baca juga:Kenapa Kopdit Obor Mas Kokoh Sampai Saat Ini? Puskopdit Maumere Beberkan Alasanya
“Skor 66,20 persen juga mencerminkan tarik menarik tekanan ekonomi dan perilaku pragmatis mental hutang. Ada celah hutang ambil dulu, soal bayar dikejar-kejar petugas koperasi harian urusan nanti,” tegas Romo Wilfrid.
Sementara di Nagekeo, Romo Wilfrid membeberkan 64,5 persen responden mengaku setuju atau sangat setuju bahwa cukup banyak warga terjebak utang. Kondisi ini memperlihatkan bahwa masalah ekonomi merupakan fenomen nyata dan meluas di lingkungan umat.*





