Sie, Memanggil Kambing Hilang di Gunung Gai Kabupaten Sikka Meraih Piala Citra FFI 2025

Yosef Levi (sutradra) dan Elsyn Puka (produser) Film Sie menerima penghargaan dalam Piala Citra 2025 di Jakarta. (istimewa).

MAUMERE,Dewadet.com-Yosef Levi, pria dari Kampung Nelle Urung di Kecamatan Nelle, 6 Km arah selatan Kota Maumere, Kabupaten Sikka tak pernah membayangkan, Sie film dokumenter pendek yang disutradarainya meraih Piala Citra untuk Nominasi Film Dokumenter Pendek Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2025.

“Kami sebenarnya mendaftar saja ke panitia mengikuti seleksi, dan film ini masuk kategori 20  besar, kemudian dinilai lagi oleh tim juri masuk lima besar,” kata Yosef dihubungi Minggu siang 23 November 2025 ke Jakarta.

Karakater dan pemeran film ini merupakan orang-orang terdekat. Ayah kandungnya, Nong Titus, tantanya, Veronika Nona, juga ibu kandung Maria Yosefina.

Semenjak lahir sampai usai senja, Veronika Nona, satu-satunya orang yang tinggal di utara Gunung Gai. Ia merawat dan menjaga tanaman dari pencuri. Veronika baru meninggalkan Gunung Gai di usia tuanya. Dia pulang ke kampung tahun 2023.

Baca juga:Ria Rago” Film Kawin Paksa di Flores dan Niat Gubernur NTT Bangun Monumen Film di Ndona

Menggantikan peran Veronika adalah saudara laki-lakinya, Nong Titus. Ia terpaksa meninggalkan istrinya yang sakit untuk hidup sendirian di kebun.

Suatu ketika, kata Yosef, Nong Titus pulang menjenguk istrinya. Ketika kembal ke kebun, tiga ekor kambingnya hilang. Yosef menemani ayahnya berkeliling hutan mencari kambing yang hilang sambil berteriak Sie. Cara penduduk setempat memanggil kambing.

Dua kali,Yosef menemani ayahnya mencari tiga ekor kambing tak berhasil menemukan. Yosef menyerah, kembali ke pondok untuk istirahat. Sedangkan Nong Titus melanjutkan pencarian.

“Saya capek pulang ke pondok. Bapa cari ketiga kali sendirian akhirnya temukan tiga ekor kambing. Bapa katakan kambing disembunyikan makluk gaib,” kisah Yosef tentang Sie memanggil kambing hilang.

Baca juga:Wisatawan Prancis Terpikat Tarian Daerah dan Tenun Ikat di Festival Jelajah Maumere

Semula, Yosef hanya mau membuat dokumentasi atau arsip untuk keluarga yang sudah menjadi generasi tua. Kisah dari sang ayah, Mama Maria Yosefina, dan tanta Veronilka.

“Sebenarnya hanya mau buat untuk arsip keluarga. Cerita dari generasi tua. Cerita kambing hilang menginsipirasi saya membuat film dokumenter pendek,” kata Yosef.

Sebelum mendaftar di FFI 2025, film diproduser Elsyan Puka, meraih predikat Dokumenter Terbaik Festival Film Flobamora 2025. Kemudian Dokumenter Terbaik kategori Karyanagari di Kota Baru Haritage Film Festival Jogja 2025.

Sie juga lolos seleksi dari 1.000 lebih fllm didaftar di ajang Yamagata International Documentary Film Festival untuk program New Asian Curents. Yamagata, salah satu festival film dokumnter tertua di dunia. Sie  juga diputar di Jakarta Film Week tahun 2025. *

Penulis: Eginius Moa

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan