MAUMERE, dewadet.com-Sepeda motor bebek merek Honda Supra Fit pabrikan lama terpakir di halaman samping Kantor Polsek Alok di Jalan El Tari, Kota Maumere, Pulau Flores, Kamis siang 19 Juni 2026.

Hironimus Taji Werang (43) mendekati sepeda motor tersebut. Tangan kirinya meraih sepeda motor menghidupkan mesin. Tangan sebelah kanan menopang menahan stir kanan lalu membawanya ke depan Kantor Polsek.

Sekilas Hiro, sapaan anggota Polsek Alok berpangkat Aipda tampak seperti kebanyakan kita-kita yang normal. Padahal tangan kanannya tangan palsu yang sudah dua kali berganti.

Perubahan fisik anggota polisi asal Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur itu bermula dari kecelakaan lalu lintas di Lewolaga, Kabupaten Flores Timur pada bulan Agustus 2008. Di hari itu, Hiro berangkat dari Maumere menuju Larantuka mengantar sanak keluarga mengunakan sepeda motor. Naas menghadangnya di tengah perjalanan.

Baca Juga:Bhabinkamtibmas Egidius Funan; Suasana Baru Setiap Hari

Ia tak ingat persis kejadiannya. Yang masih diingatnya bahwa beberapa waktu setelah kecelakaan itu, sang sopir truk menyerahkan diri ke Polsek Boru.

Dua tahun semenjak musibah itu, ayah dua anak dari pernikahannya dengan Dorce Daeng Making nyaris patah arang. Berbagai pengobatan alternatif yang ditempuh tak bisa menyembuhkan tangan kanannya. Bulan Januari 2011, Hiro memutuskan berobat ke Surabaya. Tangan kanan diamputasi dan  dipasang tangan palsu.

Dengan kondisi fisik yang berbeda, dia kembali ke Maumere melanjutkan tugas sebagai anggota Polres Sikka. Beberapa orang sahabat seprofesi, istri dan kedua anak menyemangatinya. Dia menyibukan diri tetap bekerja semampunya agar tidak dianggap sebagai orang cacat.

Pergi dan pulang kantor harus diantar. Kemanapun Hiro selalu bergantung kepada kebaikan hati teman dan sanak keluarga. Keadaan yang diakui Hiro merepotkan orang lain.

Baca JugaAnjing Liar asal Provinsi Sulawesi Selatan Dimusnahkan Bhabinkamtibmas Palue

Suatu ketika dia berangkat ke bengkel sepeda motor minta tukang bengkel memindahkan gas sepeda motor dari stir kanan ke kiri. Selama seminggu lebih, Hiro belajar mengendarai sepeda motor menyesuaikan diri dengan tangan kiri.

Hiro berani mengendarai sepeda motor berangkat dari rumah ke kantor. Bertambah hari, ia menjadi terbiasa hingga saatnya  menerima tanggungjawab menjalankan tugas Bhabinkamtibmas. Tiga wilayah, Kelurahan Kota Uneng sebagai wilayah binaan, Wolomarang wilayah pantauan dan Kelurahan Wailiti sebagai sentuhan. “Saya bisa muat beras 50 Kg,” Hiro bangga dengan kemampuanya.

Meski sebelah tangannya palsu, Hiro tetap semangat melaksanakan semua tugas dan tanggung sebagai Bhabintkamtibmas. Warga masyarakat di tiga kelurahan juga tidak mempersoalkan keadaanya.

“Mereka terima saya bukan dari kekurangan saya, tetapi dari kinerja saya. Masyarakat yakin, saya juga tidak mau cengeng dengan keadaan ini. Saya tidak merasa minder,” tegas Hiro.

Baca Juga: Aiptu Johanis Beatrik Dahklory; Puas, Petani Mampu Beli Beras dan Anak Muda Punya Uang Jualan Sayur

Menikmati tugas sebagai ujung tombak Polri di masyarakat selalu dirasakan Hiro. Kesukaan itu semakin lengkap, sebab kapan saja bisa bersua, bersosialisasi dan lebih dekat dengan warga.

Setiap hari bagi Hiro selalu menyenangkan. Di setiap kesempatan itu, dia   mendapatkan banyak hal berbeda dalam relasi sosial kemasyarakatan. Usaha warga mencari nafkah dan cara hidup masyarakat telah melengkapi ilmu kehidupan.

Namun ada juga saat menyakitkan yang dialami Hiro, manakala dia belum mampu memenuhi tuntutan mendesak masyarakat. Keaadan itu bisa menciptakan relasinya menjadi tidak nyaman, mungkin saja ditolak.

Kadangkala dalam kesendirian selepas kerja, terbesit kehidupan rumah tangga, istri dan dua anak yang membutuhkan biaya untuk masa depan mereka. Tapi di setiap kesempatan itu selalu muncul semangat baru untuk terus bangkit.

Baca Juga: Tanam Sayur, Tenun Ikat dan Ternak Hasilkan Puluhan Juta Rupiah Kas Kelompok, Buah Tangan Bripka Egidius Funan

“Saya percaya bahwa setiap cobaan yang datang dari Tuhan tidak melebihi kekuatan saya. Saya harus bangkit kembali. Tuhan sudah kasih saya kepercayaan,” kata Hiro.

Wakapolsek Alok, Ipda Laurensius Laka, mengatakan sosok Hiro tak pernah mengeluh menjalani tugas dengan kondisi fisik yang kurang sempurna. Dia ulet melaksanakan setiap pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Kegiatan apapun di kelurahan tetap diiikutinyaa

“Kalaupun dia lepas piket di Polsek tapi ketika ada tugas yang lain, dia tetap datang ke kantor. Itu yang saya alami selama kebersamaan dengan  Hiro,” imbuh Laurensius. *

 

Penulis: Eginius Moa

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan