Senin, 21 Juli 2025, Hari Biasa Pekan XVI. Kitab Keluaran 14:5-18; Matius 12:38-42
Oleh: RD. Fidelis Dua
DI sebuah ruang tunggu rumah sakit, ada seorang ibu muda terduduk gelisah. Anak semata wayangnya sedang menjalani operasi kritis. Ia sudah menelepon suami, kerabat, dan imam untuk menyampaikan kondisi kritis anaknya. Sambil menangis, ia berdoa dalam hati: “Tuhan, kalau Engkau ada, berikan aku tanda…”
Saudari dan saudara terkasih dalam Kristus. Banyak dari kita pernah berada di titik seperti ibu muda di atas saat semua kemampuan, koneksi, dan kekuatan sudah tak sanggup menolong, dan kita hanya bisa menunggu, berharap, dan bertanya: di manakah Tuhan?
Bacaan dari Kitab Keluaran hari ini menempatkan kita dalam situasi serupa dengan kisah Bangsa Israel yang berada di ujung jalan. Di depan mereka Laut Teberau, di belakang pasukan Firaun yang mengamuk. Mereka terjebak, tanpa jalan keluar.
Ketakutan berubah menjadi tuduhan terhadap Musa, bahkan terhadap Tuhan. Namun justru di tengah situasi paling buntu itu, Tuhan menampakkan kemuliaan-Nya: bukan dengan hujan tanda spektakuler, tetapi dengan tindakan pembebasan yang nyata.
Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ketika Tangan Bekerja, Hati pun Harus Mendengarkan
Tuhan tidak menjawab dengan suara guntur dari langit, tetapi dengan membuka jalan di tengah laut. Dalam keheningan itu, Musa berkata: “Tuhan akan berperang untuk kalian, dan kalian tinggal diam saja.”
Injil hari ini juga berbicara tentang permintaan tanda. Orang-orang Farisi menuntut Yesus membuktikan keilahian-Nya dengan tanda ajaib. Tetapi Yesus menolak memberi pertunjukan.
Sebaliknya, Ia menyinggung “tanda Yunus” , yakni tanda pertobatan, tanda wafat dan kebangkitan. Bagi Yesus, tanda yang sejati bukanlah tontonan, tetapi transformasi berupa hati yang berubah, hidup yang dibarui.
Saudari dan saudara terkasih dalam Kristus, ada keterkaitan yang erat baik dalam pengalaman Israel di Laut Teberau maupun dalam kisah Yesus dan orang Farisi, bahwasannya yang menjadi sorotan bukanlah jenis tanda yang dicari manusia, melainkan bagaimana Tuhan bertindak dengan cara-Nya sendiri.
Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Saat Malam Tuhan Menyapa, Kasih-Nya Menyala
Ketika kita menuntut Tuhan bertindak menurut cara kita, kita menutup diri dari karya keselamatan-Nya yang lebih dalam. Sebaliknya, ketika kita percaya bahkan di tengah kebuntuan, di situlah Tuhan membuka jalan yang tak kita bayangkan.
Saudari dan saudara terkasih. Dalam dunia yang menuntut bukti cepat, hasil instan, dan keajaiban visual, Tuhan justru mengundang kita untuk percaya sebelum melihat.
Tuhan lebih suka hati yang berharap daripada mata yang curiga. Tanda-Nya bukan sekadar mukjizat lahiriah, tapi keselamatan yang hadir dalam keheningan, dalam kesetiaan, dan dalam jalan yang tak selalu mudah. Maka hari ini, saat kita menghadapi persoalan hidup, masalah rumah tangga, tekanan pekerjaan, kelelahan rohani, bahkan duka dan rasa kehilangan, jangan buru-buru menuntut tanda. Ingatlah kata Musa: “Tinggallah diam.” Dan biarkan Tuhan yang berperang untukmu.
Tuhan tidak selalu datang dengan kilat menyambar, tapi Ia selalu datang dengan jalan-Nya sendiri, meski tak selalu kita pahami, namun selalu pasti menuju kehidupan yang lebih baik. Percayalah dan jangan menuntut, kita pasti selamat.
Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian):Darah di Pintu, Belas Kasih di Hati
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Tuhan tidak selalu memberi tanda dalam pertunjukkan yang heboh, tetapi Ia selalu hadir dalam keheningan yang penuh kuasa dan keajaiban.”
”Iman sejati bukan menunggu tanda untuk percaya, tetapi percaya bahwa kehadiran Tuhan sendirilah tandanya yang pasti menyelematkan.”
Tuhan memberkati kita.






