Senin, 18 Agustus 2025.  Hari Biasa Pekan XX.  Kitab Hakim-Hakim 2:11-19; Matius 19:16-22.

Oleh: RD. Fidelis Dua

SAUDARA dan saudara terkasih. “ Orang bijak tidak mencari harta dunia, tetapi menempatkan hatinya pada kebaikan yang abadi.”

Ungkapan menekankan pentingnya menempatkan Tuhan di pusat hidup kita, karena hanya dengan hati yang tertambat pada-Nya, setiap langkah kita menemukan arah, makna, dan sukacita sejati.

Bacaan hari ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kesetiaan kepada Tuhan dan pengelolaan hidup yang bijak menuntun kita untuk hidup penuh iman, integritas, dan pengorbanan.

Dalam bacaan pertama dari Kitab Hakim-Hakim, kita menyaksikan bangsa Israel yang berulang kali meninggalkan Tuhan dan menyembah dewa-dewa asing. Mereka terjerumus dalam kekacauan dan penderitaan. Tetapi Tuhan dalam rahmat-Nya, tetap mengangkat hakim untuk menuntun mereka kembali kepada jalan kebenaran.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Seperti Anak-Anak: Menjadi Tulus dan Sederhana

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kesetiaan kepada Tuhan bukan sekadar tradisi atau ritual, tetapi hidup yang dijalani dengan hati yang murni dan keputusan yang bertanggung jawab. Setiap penyimpangan membawa konsekuensi, dan setiap pertobatan membuka jalan bagi rahmat dan pembaharuan. Kesetiaan kepada Tuhan tercermin dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga, sekolah, maupun pelayanan sosial.

Seorang orang tua tidak hanya membawa anak ke gereja karena tradisi, tetapi menanamkan kasih, kesabaran, dan doa dalam keseharian; jika lalai, pertobatan dan perbaikan mengembalikan keharmonisan keluarga.

Seorang guru atau siswa menunaikan tugas dengan sepenuh hati, bukan sekadar kewajiban formal; ketika mengabaikan tanggung jawab atau mencontek, pertobatan dan komitmen baru menghadirkan kejujuran, kualitas, dan keberkahan dalam prestasi.

Demikian pula dalam pelayanan sosial. Memberi bantuan dengan hati tulus bukan demi pujian; kesalahan atau egoisme menjadi pelajaran untuk melayani lebih tulus, menebar rahmat bagi sesama. Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kesetiaan dalam Jejak Tuhan

Dengan demikian, hidup yang setia kepada Tuhan adalah pilihan untuk bertindak dengan hati murni, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa setiap kesalahan dapat diperbaiki, sehingga rahmat dan pembaharuan hadir nyata dalam kehidupan.

Dalam Injil, Yesus bertemu seorang pemuda kaya yang bertanya tentang kehidupan kekal. Yesus mengingatkannya bahwa memiliki harta dan kesenangan dunia tidak menjamin kebahagiaan sejati; yang paling penting adalah meninggalkan keterikatan duniawi dan mengikuti-Nya dengan sepenuh hati.

Peringatan Yesus ini menjadi peringatan bagi kita pula bahwa hidup beriman menuntut keberanian untuk melepaskan ego, materi, dan kepentingan diri demi mengejar kehendak Tuhan. Iman yang sejati bukan sekadar percaya, tetapi hidup yang dibentuk oleh pilihan, pengorbanan, dan ketulusan hati.

Seorang guru yang rela melepaskan urusan pribadi atau hiburan demi mendampingi murid yang kesulitan belajar; seorang murid yang menolak mencontek agar tetap jujur dan bertanggung jawab; seseorang yang selalu menyisihkan waktu dan materi untuk membantu tetangga miskin atau lansia tanpa pamrih.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Melangkah dengan Iman, Mengampuni dengan Hati

Semua tindakan ini menunjukkan keberanian melepaskan kepentingan diri demi melakukan kehendak Tuhan, menjadikan iman hidup nyata melalui pilihan, pengorbanan, dan ketulusan hati.

Saudari dna saudara terkasih. Seperti bangsa Israel, kita bisa tersesat dan tergoda, tetapi rahmat Tuhan selalu membuka jalan kembali bagi yang bersedia bertobat. Seperti pemuda kaya, kita dipanggil untuk mengevaluasi prioritas hidup, menaruh kepercayaan pada Tuhan, dan mengikuti-Nya dengan sepenuh hati.

Marilah kita meneguhkan hati untuk hidup setia dan bertanggung jawab, menempatkan Tuhan sebagai pilihan utama, dan membiarkan diri kita dibimbing oleh kasih dan hikmat-Nya. Dengan demikian, setiap langkah kita menjadi saksi iman, setiap pengorbanan menumbuhkan kerendahan hati, dan setiap keputusan mencerminkan pengabdian yang tulus.

Semoga hidup kita menjadi ladang berkat bagi diri sendiri, keluarga, dan komunitas, menebarkan cahaya dan harapan seperti yang Tuhan kehendaki.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Melangkah dengan Iman dan Kebersamaan

Petikan Sabda Tuhan hari ini:

“Kesetiaan kepada Tuhan tidak diukur dari rutinitas ritualitas, tetapi perjalanan hati yang menuntun kita untuk bertindak dengan tanggung jawab, pilihan bijak, dan keputusan yang membebaskan.”

“Hidup beriman menuntut keberanian untuk melepaskan ego diri lalu menaruh hati pada Allah, dan membiarkan kasih-Nya menuntun setiap langkah menuju sukacita sejati.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan