BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Maria: Bintang Harapan dan Cahaya Kebangkitan
Minggu, 10 Agustus 2025. Hari Raya SP Maria Diangkat ke Surga. Kitab Wahyu 11:19a; 12:1-6a.10ab; 1 Korintus 15:20-26; Lukas 1:39-56.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARA-saudari terkasih. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian dari tantangan pribadi, keluarga, hingga kondisi sosial yang kerap menyulitkan, Maria hadir bagi kita sebagai sosok yang diselubungi cahaya ilahi, diangkat ke surga sebagai bukti nyata kuasa Allah yang setia menepati janji-Nya.
Dalam konteks inilah, Paus Fransiskus pernah menyatakan, “Maria adalah tanda harapan dan kepastian janji Allah bagi kita semua.”
Pernyataan ini sangat relevan untuk kita renungkan di masa kini, ketika pergumulan hidup seolah meredupkan cahaya harapan dan perjuangan terasa berat tak tertanggungkan. Maka, dalam terang harapan yang dibawa Maria, sang bintang pagi yang tak pernah padam, kita menyadari bahwa ia bukan sekadar lambang janji Allah yang terpancar di cakrawala dunia yang gelap, tetapi juga ibu penuh kasih yang dengan teguh membimbing kita menuju Kristus, sumber kehidupan dan kemenangan atas segala penderitaan.
Demikian pula, Paus Benediktus XVI menegaskan, “Maria adalah ibu yang mengarahkan umat manusia kepada Kristus, harapan kita yang bangkit dan hidup.”
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian); Beriman Bukan Besar Kecil, Tetapi Komitmen
Gambaran Maria dalam Kitab Wahyu sebagai perempuan yang menanggung penderitaan, namun tetap teguh dalam iman dan harapan sangat relevan bagi kita hari ini.
Ia bukan sekadar sosok dari masa lalu, melainkan model kekuatan rohani yang menguatkan kita yang tengah berjuang menghadapi luka dan kesulitan hidup, baik secara pribadi maupun sosial.
Maria mengajarkan kita bahwa di tengah derita sekalipun, iman dan harapan kepada Allah yang setia tidak pernah pudar, melainkan menjadi sumber kekuatan dan penghiburan yang kokoh.
Saudari dan saudara, puteri dan putera Maria yang terkasih. Gambaran perempuan penuh penderitaan yang melahirkan Anak laki-laki dalam Kitab Wahyu mengajak kita untuk merenungkan bahwa Maria bukan sekadar sosok sejarah, melainkan teladan hidup nyata yang mengajarkan kita berjuang dengan iman teguh, menanggung suka dan duka sambil terus percaya pada janji kebangkitan yang membawa harapan dan keselamatan bagi kita semua.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Buku Cinta yang Menuntun Hidup
Dalam bacaan pertama, Kitab Wahyu menyajikan gambaran simbolis tentang perempuan yang sedang mengandung, penuh penderitaan, namun melahirkan Anak laki-laki yang akan menggembalakan bangsa dengan gada besi, yang kita ketahui sebagai Kristus, Sang Juruselamat.
Maria hadir sebagai perempuan ini, mengalami sukacita dan kesedihan yang mendalam dalam karya keselamatan Allah. Ia bukan hanya sosok dari masa lalu, melainkan teladan bagi kita semua, yang berjuang dengan iman dalam menghadapi berbagai kesulitan dan senantiasa memegang teguh janji kebangkitan.
Bacaan kedua dari surat Paulus kepada Jemaat Korintus menegaskan bahwa Kristus adalah buah sulung kebangkitan yang membuka jalan bagi kita semua menuju kehidupan baru.
Maria diangkat ke surga bukan hanya sebagai penghormatan semata, tetapi sebagai tanda bahwa kita semua dipanggil untuk mengalami kebangkitan dan kehidupan kekal bersama Kristus.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman dalam Tekanan: Antara Batu dan Salib
Oleh karena itu, di tengah kelelahan dan putus asa yang kerap menghampiri dalam pergumulan duniawi, kita diingatkan untuk tetap berharap dan percaya bahwa kehidupan baru yang penuh sukacita dan damai telah menanti setiap jiwa yang setia kepada-Nya.
Begitulah pula, yang kita dengar melalui nyanyian syukur Maria dalam Magnificat, seperti yang tercatat dalam Injil Lukas. Dalam doa penuh syukur itu, kita diingatkan bahwa di tengah gelapnya dunia dan kerasnya tantangan hidup, kuasa Allah yang Mahakuasa selalu membalikkan keadaan, mengangkat yang rendah hati, dan menguatkan jiwa-jiwa rapuh agar terus teguh berharap serta bersandar pada-Nya, teristimewa saat menghadapi ketidakadilan, kesulitan ekonomi, dan rasa tak berdaya.
Saudari dan saudara. Marilah kita meneladani Maria, perempuan penuh iman yang dalam penderitaan melahirkan Juruselamat dunia, yang kini diangkat ke surga sebagai tanda nyata panggilan suci bagi kita semua untuk berpegang teguh pada janji kebangkitan.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Dipanggil untuk Diubah Rupa Bersama Kristus
Dalam kuasa Allah yang tak terbatas, yang menguatkan dan membalikkan segala keadaan kita diajak untuk menjalani hidup dengan sukacita yang tak pudar, keteguhan hati yang tak tergoyahkan, serta iman yang menyala-nyala di tengah gelombang tantangan hidup setiap hari.
Perayaan hari ini mengajak kita untuk menghidupi teladan Maria: iman yang teguh, harapan yang kuat, dan pengabdian total kepada Allah yang Mahakuasa.
Percayalah seperti Maria. Kita pun dipanggil untuk mengalami kebangkitan dalam kehidupan sehari-hari, menjadi saksi kasih dan pengharapan yang memancar bagi sesama. Dalam suka dan duka, marilah kita selalu meyakini bahwa Allah bekerja melalui hati yang rendah dan jiwa yang terbuka.
Semoga keberanian untuk menyerahkan segala pergumulan kepada Tuhan tumbuh dan menguat dalam diri kita, sehingga dengan keyakinan penuh, kita pun akan diangkat ke dalam kehidupan kekal bersama Kristus, buah sulung kebangkitan yang abadi.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Musa dan Petrus: Dua Wajah Iman yang Sejati
Marilah kita melangkah maju dengan keyakinan bahwa setiap langkah kecil dalam iman, setiap doa yang tulus, dan setiap kasih yang kita bagikan adalah benih kehidupan kekal yang tumbuh dalam dunia ini. Seperti Maria, kita hidup sebagai cahaya harapan yang tak pernah padam, membawa damai dan sukacita bagi diri sendiri dan orang lain sampai tiba saatnya kita bersatu dalam pelukan kasih Allah yang kekal di surga.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Iman yang teguh seperti Maria bukan hanya menuntun kita melewati gelombang kehidupan, tetapi juga menyalakan cahaya harapan yang tak pernah padam dalam jiwa.”
“Ketika kita menyerahkan setiap pergumulan kepada Allah, kita menanam benih kehidupan kekal yang akan berbuah damai dan sukacita abadi.”
Tuhan memberkati kita.





