Senin, 22 September 2025. Hari Biasa Pekan XXV. Kitab Ezra 1:1-6; Lukas 8:16-18

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI-saudara terkasih. Di sekitar kita banyak suara yang kita dengar. Dari layar gawai, media sosial, obrolan di saat bertemu, berita di televisi, hingga bisikan hati kita sendiri, semuanya berebut perhatian.

Namun, di tengah hiruk pikuk itu, kita bertanya: pesan mana yang sungguh layak untuk kita dengarkan? Ada pesan yang menipu, ada suara yang melemahkan, ada kabar yang menakutkan. Tetapi ada juga suara yang menguatkan, menyalakan harapan, dan membawa terang di tengah kegelapan hidup. Itulah suara Sabda Allah.

Kitab Ezra hari ini menggambarkan momen besar: bangsa Israel yang lama hidup dalam pembuangan akhirnya diberi kesempatan kembali ke Yerusalem. Allah menggerakkan hati Raja Koresh, seorang raja kafir, untuk membuka jalan pemulihan.

Betapa indahnya karya Allah! Ia bisa memakai siapa saja, bahkan orang yang tidak mengenal-Nya, untuk menghadirkan harapan bagi umat-Nya. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Di tengah kegelapan, Ia selalu menyediakan jalan pulang, jalan pemulihan, jalan harapan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Allah atau Mamon: Pilihan yang Tak Bisa Diduakan

Sementara itu, Injil Lukas menegaskan sesuatu yang sangat personal: “Tidak ada orang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menaruhnya di bawah tempat tidur.”

Yesus mengingatkan bahwa Sabda Allah adalah terang. Terang itu tidak boleh disembunyikan, tetapi harus diletakkan di atas kaki dian agar semua orang melihat. Namun Yesus juga menambahkan peringatan: “Perhatikanlah cara kamu mendengar!”

Artinya, bukan sekadar banyaknya kata yang masuk telinga kita yang penting, tetapi sikap hati kita dalam mendengarkan. Mendengarkan Sabda Allah menuntut keterbukaan, kerendahan hati, dan keberanian untuk menindaklanjutinya dalam hidup sehari-hari.

Saudari-saudara terkasih.  Di zaman sekarang kita bisa mendengar banyak pesan yang mengklaim memberi “jalan keluar”: motivasi instan, janji-janji palsu, bahkan kabar yang hanya menebar ketakutan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Martir Korea: Kesetiaan yang Berbuah Kekelan

Tetapi Yesus mengingatkan, suara Tuhan selalu dapat dikenali karena Ia membawa terang, harapan, dan kehidupan. Jika pesan yang kita dengar membuat kita semakin dekat dengan kasih, semakin tekun dalam iman, semakin peduli pada sesama, itulah suara Tuhan. Jika pesan itu justru menjerumuskan kita pada ketakutan, egoisme, atau keserakahan, tulah suara dunia yang menutup cahaya.

Maka marilah kita refleksikan: bagaimana cara kita mendengar? Apakah kita hanya mendengar sebentar lalu melupakannya? Apakah kita memilih-milih hanya pesan yang enak di telinga tetapi menolak pesan yang menegur hati kita? Atau kita mendengar dengan iman, lalu menjadikannya langkah nyata dalam hidup?

Saudari-saudara, Sabda Allah hari ini mengajarkan dua hal yang menggugah. Pertama, seperti Israel yang dipulangkan oleh Allah melalui Raja Koresh, kita pun percaya bahwa di balik kegelapan, Allah sanggup membuka jalan pemulihan.

Kedua, seperti pelita yang harus ditaruh di atas kaki dian, kita diajak mendengarkan dengan hati dan mewartakan terang itu kepada sesama. Maka, di tengah dunia yang penuh suara, marilah kita memilih suara yang memberi hidup: suara Tuhan dalam Sabda-Nya. Dengarkanlah dengan hati yang terbuka, ikutilah dengan langkah yang nyata, dan wartakanlah dengan penuh sukacita. Sebab hanya dengan itu, kita akan berjalan dalam terang harapan yang sejati.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Rasa Cukup: Harta Sejati Orang Beriman

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Di tengah ribuan suara yang memanggil telinga kita, hanya suara Allah yang sanggup menyalakan harapan dan membawa kita pulang dari kegelapan.”

“Mendengarkan Sabda bukan sekadar menerima kata, tetapi menyalakan terang di hati, agar hidup kita sendiri menjadi pelita bagi sesama.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan