Minggu, 19 Oktober 2025. Hari Minggu Biasa XXIX, Hari Minggu Misi. Keluaran 17:8-13; 2Timotius 3:14-4:2 dan Lukas 18:1-8.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI-saudara terkasih dalam Kristus.  Di tengah kehidupan yang serba cepat dan instan, manusia semakin sulit menunggu. Segalanya ingin serba langsung ada hasil, ada jawaban, bahkan ada mukjizat.

Mentalitas instan ini merasuki hampir semua dimensi hidup, termasuk kehidupan rohani. Banyak orang berdoa seperti menekan tombol mesin otomatis: berharap hasilnya segera muncul, masalah cepat selesai, dan pekerjaan atau pelayanan segera berbuah.

Namun, ketika doa tak langsung dijawab, hati menjadi goyah, iman menjadi rapuh, dan pengharapan pun meredup. Padahal, berdoa bukan soal kecepatan Tuhan menjawab, melainkan kesetiaan kita untuk tetap percaya ketika jawaban belum datang.

Di sinilah doa menemukan makna terdalamnya bukan sekadar permintaan yang menunggu jawaban, melainkan tenaga rohani yang menggerakkan misi dan menopang pengharapan. Sebab, seperti pernah diingatkan oleh mendiang Paus Fransiskus, “Doa tanpa misi adalah steril, dan misi tanpa doa adalah hampa.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menulis Injil dengan Tinta Kehidupan: Kesetiaan yang Tak Lekang oleh Zaman

Doa yang sejati selalu berbuah dalam tindakan; iman yang tulus selalu bertahan dalam perjalanan; dan pengharapan yang hidup selalu menuntun kita untuk bertindak dalam kasih. Itulah wajah seorang misionaris pengharapan — pribadi yang tidak menyerah pada tantangan, tetapi justru menemukan kekuatan dalam doa yang tekun, dalam perjuangan yang sabar, dan dalam kasih yang nyata di tengah sesama.

Hari ini, ketiga bacaan Kitab Suci menyingkapkan kepada kita tiga wajah misi yang tak terpisahkan: dari Musa, kita belajar bahwa doa yang terangkat menopang perjuangan umat; dari Paulus, kita diingatkan untuk bertekun dalam Sabda agar setiap perbuatan lahir dari kebenaran; dan dari janda dalam Injil, kita melihat bahwa ketekunan dalam doa adalah bentuk pengharapan yang tak pernah padam.

Maka, pada Hari Minggu Misi Sedunia ini, kita diajak untuk memaknai kembali panggilan kita sebagai misionaris pengharapan di antara segala suku bangsa: mereka yang berdoa dengan setia, bertahan dalam iman, dan bertindak dalam kasih agar dunia yang letih kembali menemukan terang Kristus yang memberi hidup dan harapan.

Saudari-saudara terkasih dalam Kristus. Dalam bacaan pertama, kita melihat Musa yang mengangkat tangan di atas bukit sementara Yosua berjuang di medan perang. Ketika tangannya terangkat, Israel menang; ketika turun, musuh menguasai.Maka Harun dan Hur menopang tangan Musa sampai matahari terbenam.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Iman Bukan Upah, Melainkan Anugerah-Bukan Transaksi Tetapi Transformasi

Ini bukan sekadar kisah peperangan, tetapi lukisan indah tentang kerja sama dalam misi Gereja. Doa Musa menjadi kekuatan rohani yang menopang perjuangan umat, tetapi doa itu menjadi efektif karena ada orang lain yang ikut menopangnya.

Kisah ini berbicara tentang solidaritas iman bahwa tidak ada misi yang berhasil jika dijalankan sendiri. Seorang misionaris, guru, atau pelayan umat semuanya membutuhkan “Harun dan Hur”: orang-orang yang menopang dengan doa, dukungan, dan kasih. Musa mengajarkan bahwa misi bukanlah perlombaan individual, tetapi persekutuan kasih yang saling menopang agar tangan iman tetap terangkat, bahkan ketika tenaga mulai lemah.

Dalam bacaan kedua, Paulus menasihati Timotius: “Bertekunlah dalam apa yang telah engkau pelajari… beritakanlah Sabda, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya.”

Nasihat ini menyingkapkan wajah misi yang sejati — misi yang setia, bukan sensasional. Paulus tahu bahwa pewartaan iman tidak selalu diterima, bahkan sering ditolak. Namun, ia mengingatkan Timotius untuk tetap bertekun, karena Sabda Allah adalah sumber kekuatan, bukan sekadar alat pengaruh.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Bermegah dalam Iman, Bukan dalam Diri

Seorang pewarta sejati tidak hanya fasih berbicara, tetapi juga hidup dari Sabda yang diwartakan. Misi Gereja lahir dari pribadi-pribadi yang “diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik,” mereka yang membiarkan Sabda mengubah dirinya sebelum mengubah dunia.  Tanpa kesetiaan pada Sabda, misi bisa kehilangan arah di tengah hiruk-pikuk zaman yang mengagungkan popularitas dan hasil instan.

Lalu dalam Injil, Yesus menghadirkan seorang janda yang terus-menerus memohon keadilan kepada hakim yang lalim. Ia tidak berhenti meski tampaknya tak ada harapan.

Yesus menegaskan, “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang berseru kepada-Nya siang dan malam?” Dalam janda itu, terlihat wajah Gereja yang lemah tetapi tidak menyerah; kecil tetapi tekun; miskin tetapi berani.

Doa yang tak putus bukan sekadar pengulangan kata-kata, melainkan tanda iman yang percaya bahwa Allah tetap bekerja bahkan ketika hasilnya belum tampak. Inilah semangat misi yang sejati: ketekunan dalam kasih, kesabaran dalam perjuangan, dan keberanian untuk tetap berharap ketika banyak orang mulai menyerah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Salib: Jalan Rendah Hati di Tengah Dunia yang Cepat Menghakimi

Saudara-saudari, Hari Minggu Misi mengingatkan kita bahwa setiap orang beriman adalah misionaris pengharapan bukan hanya mereka yang diutus ke tanah jauh, tetapi juga kita yang diutus ke tempat kerja, ke rumah tangga, ke komunitas, untuk menghadirkan wajah Allah di tengah sesama yang letih dan kehilangan arah.

Misi kita bukan sekadar berkata tentang keselamatan, tetapi menjadi wajah Allah bagi sesama. Ketika kita meneguhkan yang rapuh, memaafkan yang bersalah, dan bekerja dengan jujur, kita sedang mengangkat tangan seperti Musa.

Ketika kita berani membela kebenaran, kita sedang meneladani Timotius. Dan ketika kita terus berdoa dengan sabar meski belum tampak hasil, kita sedang berjalan bersama janda menanti pertolongan Tuhan datang tepat pada waktunya.

Dalam Pesan Hari Misi Sedunia 2025 yang bertema “Misionaris Pengharapan di antara Segala Suku Bangsa,” Paus Fransiskus menegaskan bahwa setiap murid Kristus dipanggil menjadi pembawa dan pembangun pengharapan di tengah dunia yang dinaungi oleh bayang-bayang kegelapan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Bersihkanlah Hati, Bukan Sekadar Penampilan

Beliau menulis bahwa Tahun Yubileum ini adalah “masa rahmat bagi setiap orang bersama Allah yang setia, yang telah melahirkan kita kembali di dalam Kristus yang bangkit kepada suatu pengharapan yang hidup” (bdk. 1 Ptr 1:3-4).

Sebagai Gereja yang diutus, kita diajak untuk membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus, dibakar oleh semangat kasih, dan menjadi terang pengharapan bagi sesama yang sering kehilangan arah hidup. Kita hadir lewat doa, kerja, dan kesaksian hidup untuk menjadi tanda bahwa Allah masih setia berjalan bersama umat-Nya.

Saudara-saudari terkasih, misi bukan hanya tugas, melainkan napas kehidupan iman kita. Musa mengajarkan kita untuk berdoa bersama. Paulus mengingatkan kita untuk bertekun dalam Sabda. Dan Yesus menunjukkan bahwa iman yang teguh akan selalu menemukan keadilan Allah.

Maka, pada Hari Minggu Misi ini, marilah kita memperbarui semangat panggilan kita: Berdoalah tanpa lelah.Wartakanlah tanpa takut. Hiduplah dengan kasih yang tak lemah. Karena banyak orang saat ini tidak hanya butuh pewarta yang pandai berbicara, tetapi saksi yang tak henti menunjukkan jalan keselamatan. Dan semoga melalui hidup kita, orang lain dapat berkata: “Kerajaan Allah sungguh sudah dekat di antara kita.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Tanda yang Menggerakkan Hati

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Doa yang sejati tidak hanya memohon mujizat, tetapi menjadi tenaga yang menggerakkan hati untuk bertahan dalam iman dan bertindak dalam kasih.”

“Menjadi misionaris pengharapan berarti berani tetap berdoa ketika jawaban belum datang, setia bertahan ketika jalan terasa panjang, dan tulus bertindak agar dunia kembali percaya bahwa Allah masih setia berjalan bersama manusia.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan