Senin, 13 Oktober 2025. Hari Biasa Pekan XXVIII. Roma 11:1-7; Lukas 11:29-32.

Oleh: Rd. Fidelis Dua.

SAUDARI-saudara terkasih dalam Kristus. Kehidupan kita saat ini dipenuhi oleh tanda: tanda di jalan, tanda di layar ponsel, tanda di media sosial, bahkan tanda pada tubuh fisik kita sendiri. Kita membaca dan mengikuti tanda-tanda itu dengan cepat, namun ironisnya, semakin banyak orang justru kehilangan arah hidup rohaninya.

Mendiang Paus Fransiskus pernah berkata, “Manusia modern pandai membaca layar, tetapi buta membaca hati.” Artinya, di tengah derasnya arus informasi dan simbol, manusia sering gagal membaca kehadiran Allah dalam hidupnya.

Kita menuntut tanda dari Tuhan, seperti kesuksesan, kesehatan, atau mukjizat namun lupa bahwa tanda terbesar sudah hadir di tengah kita, yakni Kristus sendiri, Sang Sabda yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita.

Injil hari ini menegur keras generasi yang hanya mau percaya bila ada tanda. Yesus berkata, “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus.” (Luk 11:29).

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Syukur yang Menyembuhkan Jalan Menuju Keselamatan

Yunus adalah nabi yang pernah lari dari panggilan Tuhan, namun akhirnya bertobat dan menjadi tanda pertobatan bagi orang Niniwe. Yesus jauh lebih besar dari Yunus. Ia adalah tanda kasih Allah yang hidup, bukan sekadar mukjizat sesaat, melainkan kehadiran yang menyelamatkan.

Tuhan tidak memberi tanda untuk memuaskan rasa ingin tahu kita, tetapi untuk membangunkan hati kita agar bertobat dan percaya. Setiap salib yang kita pikul, setiap luka yang kita bawa, bisa menjadi tanda Yunus masa kini, yaitu tanda yang mengantar kita dari kesombongan menuju pertobatan, dari keputusasaan menuju harapan.

Dalam suratnya kepada Jemaat di Roma, Paulus bersaksi bahwa “dengan perantaraan Kristus, kami menerima kasih karunia dan panggilan untuk menuntun semua bangsa supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.” (Rom 11:1–7).

Inilah panggilan kita juga bukan hanya menuntut tanda dari Tuhan, tetapi menjadi tanda Tuhan bagi sesama dan dunia. Kita dipanggil bukan untuk sekadar percaya, tetapi untuk menjadi saksi yang membuat orang lain percaya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Mendengarkan Tuhan di Tengah Gemuruh Dunia

Saudari-saudara, dunia kini tidak kekurangan tanda, tetapi kekurangan hati yang mampu membacanya. Tanda kasih Allah hadir setiap saat dalam senyum seorang ibu, dalam kesetiaan seorang ayah, dalam tangan-tangan yang melayani tanpa pamrih, dalam dedikasi para guru, dan dalam persembahan diri sesama yang rela berbagi.

Maka, jangan lagi menunggu tanda dari langit; jadilah tanda kasih itu sendiri. Biarlah hidup kita menjadi “Yunus baru” yang membuat dunia percaya bahwa Allah masih bekerja dalam diam, dan kasih-Nya masih lebih besar dari segala kegelapan.

Petikan Butiran Sabda Hari Ini:

“Tanda kasih Allah sesungguhnya tidak datang dari langit, tetapi lahir dalam kebaikan kecil yang kita terima dan kita bagikan setiap hari.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ketika Hati Tak Lagi Mampu Membedakan yang Kudus dari yang Jahat

“Setiap kali kita berbuat baik, Allah menulis tanda kasih-Nya di hati sesama kita.”

Tuhan memberkati kita.

Editor: Eugenius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan