BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Belajar Mendengarkan agar Sabda Berbuah
Rabu, 14 Januari 2026. Hari Biasa Pekan I. Kitab Pertama Samuel 3:1-10.19-20; Markus 1:29-39.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
Saudari dan saudara terkasih, kehidupan kita dipenuhi hiruk pikuk suara yang datang dari segala arah dan saling bersahutan. Tidak selalu mudah membedakan mana suara yang menenangkan dan mana yang sungguh menuntun.
Banyak orang ingin bersuara tentang kebenaran, kejujuran, keadilan, solidaritas, persaudaraan, dan cinta kasih. Tetapi tidak sedikit pula suara yang lahir dari asal omong, membully, memfitnah, menyebarkan hoaks, dan meruntuhkan martabat sesama.
Di tengah kebisingan seperti ini, kita patut bertanya dengan jujur, suara manakah yang sungguh layak kita dengarkan dan kita taati, suara yang hanya menggema sesaat atau suara yang membawa kesejukan, pemulihan, dan keselamatan hidup?
Dalam bacaan pertama kita disadarkan bahwa di tengah banyaknya suara, ada satu suara yang tidak datang dengan gemuruh, tetapi dengan panggilan yang personal.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Doa yang Didengar dan Hidup yang Diutus
Samuel yang masih muda belajar mengenali suara Tuhan perlahan-lahan. Ia tidak langsung mengerti, tetapi ia bersedia diajar, dan akhirnya berkata: ”Bersabdalah ya Tuhan hamba-Mu mendengarkan.”
Sikap ini bukan sekadar kata-kata, melainkan sikap hati yang terbuka dan setia. Kitab Suci menegaskan bahwa tidak satu pun dari sabda Tuhan dibiarkannya gugur. Artinya Samuel tidak hanya mendengar, tetapi menyimpan, menghidupi, dan membiarkan sabda itu membentuk hidupnya.
Dalam pengalaman kita sehari-hari, Tuhan pun sering berbicara melalui hal-hal sederhana, melalui nasihat, koreksi, peneguhan, dan suara hati. Namun persoalannya bukan apakah Tuhan bersabda, melainkan apakah kita memberi ruang untuk mendengarkan Sabda Tuhan?
Ciri orang yang sungguh mendengarkan suara Tuhan ialah diam dan merenung, ada kesediaan untuk taat, dan keberanian untuk membiarkan hidupnya diubah oleh sabda yang didengarnya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian): Mengikuti Tuhan Tanpa Menggenggam Jala
Jika pada diri Samuel sabda Tuhan didengarkan dan disimpan dalam hati, dalam Injil Markus sabda itu menjadi hidup dan bertindak dalam diri Yesus. Ia bukan hanya mendengar, tetapi menanggapi dengan kepedulian yang nyata.
Ketika keadaan mertua Simon disampaikan kepada-Nya, Yesus segera datang, memegang tangannya, dan membangunkan dia. Pendengaran yang penuh kasih melahirkan sentuhan yang memulihkan dan mengubah. Perempuan itu tidak berhenti pada pemulihan, ia bangkit dan melayani.
Di sinilah kita melihat bahwa mendengarkan dengan sungguh selalu menggerakkan tindakan yang menyelamatkan. Setiap perjumpaan dengan Tuhan yang sejati tidak berakhir pada diri sendiri, tetapi selalu berbuah dalam pelayanan.
Karena itu Yesus terus melangkah, pergi ke banyak tempat, memberitakan Injil dan mengusir kuasa jahat. Sabda yang diwartakan dan tindakan yang dilakukan berjalan bersama. Inilah kuasa Injil yang menghidupkan, membebaskan, dan mengutus.
Saudari dan saudara terkasih, mendengarkan Tuhan menuntun kita pada ketaatan seperti Samuel, dan mengalami sentuhan Tuhan mendorong kita pada pelayanan seperti perempuan yang disembuhkan.
Dalam keluarga, di tempat kerja, dan di tengah komunitas, kita sering menantikan Tuhan bertindak, padahal Tuhan juga menantikan kesiapsediaan kita untuk memberi ruang bagi sabda-Nya dan membiarkan hidup kita menjadi alat karya-Nya.
Melalui doa yang setia, keheningan yang jujur, dan kesediaan untuk melayani tanpa menunda, kita menjawab panggilan itu secara nyata.
Ingatlah, Tuhan tidak pernah berhenti bersabda dan berkarya. Ketika kita mendengarkan dengan hati yang terbuka dan melangkah dengan kasih yang konkret, tidak satu pun sabda-Nya akan gugur sia-sia, dan hidup kita akan dipakai Tuhan untuk menghadirkan pemulihan, harapan, dan kabar gembira bagi banyak orang.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian): Sukacita Orang yang Tidak Merebut, Tetapi Menerima
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Di tengah bisingnya dunia, hanya hati yang berani diam mampu mendengar suara Tuhan yang menghidupkan.”
”Ketika Sabda sungguh didengarkan dan ditaati, hidup tidak lagi berputar pada diri sendiri, tetapi berubah menjadi saluran kasih yang memulihkan dan menyelamatkan.”
Tuhan memberkati kita.





