Kamis, 19 Maret 2026. Hari Raya Santo Yusuf, Suami Santa Perawan Maria. 2 Samuel 7:4-5a.12-14a.16; Roma 4:13.16-18.22; Matius 1:16.18-21.24a.

Oleh: Rd.Fidelis Dua

SAUDARU-saudara terkasih, ada satu hal yang langsung terasa ketika kita mengenal Santo Yusuf. Ia hadir dalam Injil, tetapi tidak satu kata pun tercatat keluar dari mulutnya.

Ketika Tuhan berbicara, ia tidak banyak bertanya. Ia langsung taat dan melakukan seperti yang diperintahkan Tuhan. Ia setia tanpa perlu terlihat. Ia taat tanpa mencari pengakuan.

Yusuf menunjukkan cara hidup yang berbeda, terlebih di zaman sekarang ketika banyak orang ingin tampil, berbicara, dan diakui. Yusuf adalah sosok yang sering terlewat, namun justru memegang peran penting dalam rencana Allah. Hidupnya tidak menonjol dan tidak spektakuler.

Namun justru di situlah kabar baik bagi kita yang merayakan pestanya hari ini, bahwa Allah bekerja melalui pribadi yang sederhana. Ia berkarya lewat orang-orang yang mungkin tidak dilihat, tetapi tetap setia. Dan kesetiaan yang tersembunyi itu ternyata menjadi jalan nyata bagi digenapinya janji besar Allah dalam sejarah keselamatan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Allah Terus Bekerja, Maka Kita Pun Tak  Boleh Lelah

Dalam bacaan pertama dari Kitab Samuel, Allah menjanjikan kepada Daud bahwa keturunannya akan kokoh untuk selamanya. Janji itu bukan sekadar tentang garis keturunan, melainkan tentang karya keselamatan Allah bagi manusia.

Dalam Injil Matius, Yusuf menjadi penghubung antara janji itu dan Yesus. Secara hukum, Yesus masuk dalam garis keturunan Daud melalui Yusuf. Yusuf memang bukan ayah biologis Yesus, tetapi ia mengambil tanggung jawab penuh. Ia memberi tempat agar janji Allah sungguh hadir di dunia.

Di sini kita melihat sesuatu yang sangat penting, bahwa peran besar dalam karya Allah tidak selalu harus tampak di depan mata. Yusuf tidak berkhotbah. Ia tidak membuat mukjizat. Ia tidak memimpin banyak orang. Namun ia melakukan satu hal yang tidak mudah, ia percaya lalu bertindak.

Iman yang percaya dan bertindak itulah yang menghubungkan kita dengan teladan para bapa iman yang lebih dahulu berjalan dalam harapan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Terlalu Lama di Kolam yang Sama

Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma mengingatkan kita pada Abraham yang tetap berharap meski seolah tidak ada harapan. Sikap itu juga tampak dalam diri Yusuf. Bayangkan situasinya. Tunangannya hamil sebelum mereka hidup bersama. Secara manusiawi hal ini membingungkan dan bisa memalukan.

Namun ketika malaikat Tuhan datang dalam mimpi dan menjelaskan rencana Allah, Yusuf tidak berdebat panjang. Ia tidak meminta tanda tambahan. Ia bangun, lalu melakukan apa yang diperintahkan.

Dan Injil hari ini merangkum seluruh sikap iman itu dalam satu kalimat yang sederhana namun sangat dalam.

Injil menegaskan bahwa Yusuf melakukan seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan. Kalimat ini singkat, tetapi sangat mendalam. Tidak ada drama. Tidak ada penjelasan panjang. Hanya ketaatan yang nyata.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Selalu Memberi yang Baru

Saudari-saudara terkasih, kekudusan Yusuf tidak terletak pada hal-hal besar yang terlihat. Kekuatannya justru ada pada kesediaannya untuk tidak menguasai keadaan. Ia tidak mencoba mengontrol Maria. Ia tidak menuntut untuk memahami semuanya. Ia menerima bahwa hidupnya menjadi bagian dari rencana yang lebih besar.

Kita sering ingin memegang kendali penuh atas situasi, bahkan atas orang lain. Kita ingin mengatur dan menguasai, seolah segala sesuatu harus berjalan sesuai kehendak kita. Tanpa disadari, sikap itu justru melukai relasi dan membuat hati kita gelisah ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Yusuf mengajarkan arah yang berbeda. Hidup beriman bukan soal menguasai, tetapi mempercayakan diri.

Paus Fransiskus dalam Surat Apostolik Patris Corde menyebut Yusuf sebagai pribadi dengan “hati seorang bapa.” Hati seorang bapa tidak hanya melindungi, tetapi juga memberi ruang. Yusuf memberi ruang bagi Allah untuk berkarya, bahkan ketika itu mengubah seluruh rencana hidupnya. Ia menerima Maria karena percaya kepada Allah. Ia membesarkan Yesus sebagai titipan, bukan sebagai milik yang harus dikuasai. Ia merawat tanpa memiliki dan mencintai tanpa mengendalikan.

Sikap ini sangat dekat dengan hidup kita sehari-hari. Banyak konflik muncul karena kita ingin menguasai. Kita ingin mengatur pasangan, anak, pekerjaan, bahkan Tuhan. Kita sulit menerima hal yang tidak sesuai rencana kita. Yusuf mengajak kita belajar satu hal yang sederhana tetapi berat. Tetap setia di tengah ketidakpastian. Ia tidak tahu seluruh jalan hidupnya. Ia hanya tahu langkah berikutnya, lalu ia melangkah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dunia Tidak Berubah Tanpa Perubahan Hati

Saudari-saudara terkasih, mungkin kita tidak dipanggil untuk hal besar di mata dunia. Namun kita semua dipanggil untuk setia dalam hal kecil. Menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Menjadi pekerja yang jujur. Menjadi pasangan yang setia. Menjadi anak yang menghormati orang tua. Hal-hal ini tampak biasa, tetapi di sanalah Allah bekerja.

Hari ini Santo Yusuf mengingatkan kita bahwa hidup yang berarti bukan hidup yang paling terlihat, tetapi hidup yang paling setia. Maka mari kita bertanya dalam hati. Di bagian mana saya masih ingin mengontrol segalanya? Di mana saya sulit percaya pada Tuhan? Dan apakah saya berani bangun dan melakukan kehendak-Nya meski belum memahami semuanya?

Saudari dan saudara terkasih, bayangkan seorang tukang kayu di bengkel kecil yang mungkin pernah kita lihat. Ia tidak dikenal banyak orang. Ia bekerja setiap hari dengan tekun. Meja dan kursi yang ia buat mungkin tidak pernah diberi label namanya.

Namun dari tangannya, banyak orang bisa duduk, makan, dan hidup dengan lebih baik. Begitulah Yusuf dan begitulah kita dipanggil. Bukan untuk terkenal dan menguasai, tetapi untuk setia, karena dari kesetiaan yang sederhana, Tuhan menyentuh dunia ini yang kadang tidak menentu.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Kesombongan Melainkan Kerendahan Hati

Petikan BUSA-H untuk kita:

”Tidak semua panggilan Tuhan membutuhkan suara, kadang hanya butuh hati yang mau taat.”

”Saat kita berhenti mengendalikan segalanya, di situlah Tuhan mulai berkarya dengan bebas dalam hidup kita.”

”Kesetiaan dalam hal kecil adalah fondasi bagi karya besar Allah yang sering tak kita sadari.”

“Hidup yang berbuah bukan menguasai segalanya, melainkan percaya dan setia dalam hal-hal sederhana.”

Tuhan memberkati kita.#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan