BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan tentang Siapa Kita, Tetapi Siapa yang Kita Wartakan
Kamis, 30 April 2026. Hari Biasa Pekan IV Paskah. Kisah Para Rasul 13:13-25; Yohanes 13:16-20
Oleh: Rd.Fidelis Dua
“AIR beriak tanda tak dalam.” Peribahasa ini mengingatkan kita bahwa tidak semua yang tampak hebat sungguh memiliki kedalaman.
Saudari dan saudara terkasih, di zaman ini manusia berlomba-lomba meraih prestasi, pengakuan, dan posisi tertinggi. Kita ingin menjadi yang terbaik, dihargai, dan diakui, bahkan kadang tanpa sadar mengorbankan relasi dan kejujuran. Ambisi yang tidak terarah bisa membuat hati menjadi gelisah, relasi menjadi tegang, dan hidup kehilangan makna sejati.
Dalam bacaan pertama, Paulus diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan yang membangun dan menghibur umat, dan ia mengarahkan semuanya pada karya Allah yang setia. Ia menegaskan bahwa Allah telah membangkitkan Juruselamat, yaitu Yesus, sebagai pemenuhan janji keselamatan.
Ini menunjukkan bahwa pusat pewartaan bukanlah manusia, melainkan Allah yang berkarya dalam sejarah. Bagi kita, ini menjadi pengingat bahwa hidup dan pelayanan bukan untuk mencari nama atau kemuliaan diri, tetapi untuk menghadirkan karya keselamatan Allah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Gereja yang Terus Dipanggil dalam Terang
Ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, kita belajar untuk rendah hati dan setia menjalankan peran yang dipercayakan kepada kita.
Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa seorang hamba tidak lebih tinggi dari tuannya, dan seorang utusan tidak lebih besar dari dia yang mengutusnya.
Sabda ini menantang kecenderungan manusia yang ingin menonjolkan diri dan mencari kepentingan pribadi. Yesus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada posisi atau pengakuan, tetapi pada kesetiaan menjalankan kehendak Tuhan.
Ketika kita menerima dan menjalankan perutusan dengan tulus, kita sebenarnya sedang mengambil bagian dalam karya Allah sendiri. Maka, menjadi murid Kristus berarti hidup dalam kerendahan hati, tidak mencari diri sendiri, tetapi setia menjadi saluran kasih dan kebenaran.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Teguh, Berani Bersaksi Tanpa Keraguan
Karena itu, saudari dan saudara terkasih, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk menata kembali orientasi hidup kita. Dari bacaan pertama, kita belajar bahwa Allah adalah pusat dan sumber segala karya keselamatan; dari Injil kita diingatkan untuk hidup sebagai hamba yang setia dan utusan yang rendah hati.
Maka, marilah kita tidak terjebak dalam ambisi yang memisahkan, tetapi membiarkan Kristus tinggal dalam hati kita. Sebab ketika kita hidup dalam Dia, kita tidak kekurangan apa pun, dan hidup kita pun menjadi berkat yang membangun, menghibur, dan menghadirkan kasih Allah bagi sesama.
Petikan BUSA-H untuk kita:
”Ambisi yang mengejar kemuliaan diri akan mengosongkan hati, tetapi kerendahan hati yang melayani akan memenuhi hidup dengan makna yang dalam.”
”Ketika kita berhenti mencari pengakuan diri dan mulai setia menjalankan tugas, di situlah hidup kita menjadi bagian dari karya Allah yang besar.”
”Hidup yang berakar dalam Tuhan tidak perlu terlihat hebat, sebab dalam diamnya ia bertumbuh, memberi, dan menghadirkan kasih yang sejati.”
Tuhan memberkati kita.#rd.fd@
Editor: Eginius Moa





