Jumat, 2 Januari 2026. Peringatan Wajib. St. Basilius Agung dan St. Gregorius dari Nazianze Uskup dan Pujangga Gereja/Hari Jumat Pertama (Masa Natal). Surat Pertama Rasul Yohanes 2:22-28; Yohanes 1:19-28

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI dan saudara terkasih, St. Basilius Agung dan St. Gregorius dari Nazianze hidup pada masa Gereja diguncang kebingungan iman dan pertarungan gagasan. Mereka adalah sahabat, pemikir, gembala, dan pendoa. Mereka tidak hanya menulis tentang Allah, tetapi menyerahkan seluruh hidup untuk membela kebenaran bahwa Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia.

Basilius memilih hidup asketis dan memperjuangkan keadilan bagi kaum miskin. Gregorius memilih kesunyian dan kejujuran hati, bahkan rela mundur dari jabatan demi kemurnian iman. Keduanya mengajarkan bahwa iman bukan sekadar kata-kata yang benar, melainkan kesetiaan yang diperjuangkan di tengah tekanan zaman.

Di sinilah kisah mereka bersentuhan dengan kehidupan kita saat ini yang kerap goyah oleh arus opini, ambisi, dan ketakutan untuk tampil berbeda.

Kesaksian hidup St. Basilius dan St. Gregorius itulah yang menemukan gema rohaninya dalam seruan Rasul Yohanes, bahwa iman sejati hanya bertahan bila Sabda yang mula-mula diterima tetap tinggal dan hidup di dalam hati.  Yohanes menegaskan dengan seruan yang hangat “ Apa yang telah kamu dengar harus tetap tinggal di dalam dirimu.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Memulai Tahun Bersama Maria, Ruang Kehadiran Allah 

Iman bukan barang baru yang terus diganti sesuai selera zaman, melainkan Sabda yang diterima dan dijaga dalam kesetiaan. Yohanes berbicara tentang Kristus yang sejati di tengah penyangkalan dan kepalsuan. Banyak orang berbicara tentang Allah, namun tidak hidup dari Allah. Di sinilah tantangan iman dewasa ini. Kita mudah mengetahui banyak hal tentang Yesus, tetapi perlahan kehilangan keintiman dengan Yesus.

Paus Benediktus XVI pernah mengingatkan bahwa iman Kristen bukan hasil keputusan etis atau gagasan besar, melainkan perjumpaan dengan Pribadi yang memberi hidup dan arah baru setiap waktu. Ketika Sabda tidak lagi tinggal dalam hati, iman berubah menjadi kebiasaan-kebiasaan kosong, seperti berdoa tetapi tidak fokus, merayakan Ekaristi namun hati tetap hampa, dan menjalani hidup sehari-hari tanpa membiarkan Kristus sungguh membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak.

Injil Yohanes menghadirkan Yohanes Pembaptis yang berdiri dengan kerendahan hati yang menggugah. “Aku membaptis dengan air, tetapi di tengah tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal.” Yohanes tahu siapa dirinya dan siapa bukan dirinya. Ia tidak mencuri pusat perhatian, tidak menggeser Kristus ke pinggir. Ia menunjuk, lalu mundur. Bahkan membuka tali kasut Yesus pun ia merasa tidak layak.

Inilah spiritualitas Natal yang sejati. Allah hadir dengan diam, sederhana, dan rendah hati, sementara manusia sering sibuk membangun citra diri. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa iman kita semakin bertumbuh ketika kita berani mengecilkan diri kita agar Kristus semakin besar.

Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah–Harian) Dari Akhir Menuju Awal di Dalam Firman

St. Basilius dan St. Gregorius menghidupi semangat ini. Mereka tidak mencari kenyamanan, melainkan kebenaran. Mereka tidak menyesuaikan iman dengan zaman, tetapi membimbing zaman kepada terang iman. Di tengah dunia yang haus pengakuan, mereka mengajarkan bahwa menjadi saksi tidak harus menjadi pusat. Menjadi murid yang setia tidak harus selalu dipuji.

Seorang ayah yang setia bekerja dengan jujur, seorang ibu yang sabar merawat keluarga, seorang pendidik yang tetap menanamkan nilai di tengah kelelahan, kaum terpanggil yang setia melayani tanpa mencari pujian, itulah ruang tempat Sabda tinggal dan bekerja; di situlah Kristus akan menjadi semakin besar.

Saudari dan saudara terkasih, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita kembali ke inti hidup iman yang benar, yakni iman yang tidak redup oleh kebisingan dunia. Kristus sudah berdiri di tengah kehidupan kita. Karena itu, marilah kita beriman dengan akal yang terang, hati yang rendah, dan hidup yang setia, dengan membiarkan setiap Sabda yang kita dengar sungguh tinggal dan berbuah dalam hati.

Semoga Hati Kudus Tuhan Yesus selalu membaharui kerinduan kita akan kebenaran, meneguhkan langkah kita dalam kesetiaan, dan menuntun hidup kita agar menjadi kesaksian kasih-Nya di tengah dunia.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hanna dan Seni Menunggu Allah di Tengah Dunia yang Bergegas

Petikan Butiran Sabda Tuhan hari ini:

”Iman sejati tidak lahir dari banyaknya kata tentang Allah, melainkan dari Sabda yang setia tinggal dan membentuk seluruh hidup.”

”Ketika kita berani mengecilkan diri, Kristus menemukan ruang untuk menjadi besar dan dunia menemukan terang melalui diri kita.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan