Jumat, 22 Mei 2026. Hari Biasa Pekan VII Paskah. Novena Roh Kudus hari Kedelapan
Kisah Para Rasul 25:13-21; Yohanes 21:15-19.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara yang terkasih. Ada satu ungkapan menarik dari Santo Agustinus: “Ukuran kasih adalah mengasihi tanpa ukuran.” Artinya, kasih sejati tidak diukur dari seberapa banyak yang kita terima, melainkan dari seberapa tulus kita memberi diri bagi orang lain.

Kasih bukan sekadar kata yang diucapkan dengan mudah atau sekadar ungkapan perasaan, kesukaan, dan kenyamanan sesaat terhadap seseorang atau sesuatu. Kasih memang dapat mengungkapkan kedekatan dan keintiman, tetapi lebih dari itu, kasih adalah kekuatan yang lahir dari hati yang rela berkorban.

Dalam kehidupan saat ini, tidak sedikit orang berkata, “Aku mencintai Tuhan,” tetapi masih sulit mengampuni, melayani, dan berkorban bagi sesama. Ada pula yang berkata, “Aku mencintaimu,” tetapi kasih itu masih dikuasai ego dan kepentingan diri sendiri. Padahal kasih sejati selalu menuntut kesetiaan, tanggung jawab, dan pengorbanan total.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kasih kepada Tuhan bukan sekadar kata-kata indah di bibir, melainkan sebuah komitmen hidup yang nyata dan mendalam.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Teguh dalam Iman, Tetap Satu dalam Kasih

Kasih yang sejati menuntut keteguhan iman kepada Kristus, terutama ketika kita harus menghadapi penolakan, tantangan, dan kesulitan hidup.

Dalam Kisah Para Rasul, Festus menjelaskan kepada Raja Agripa mengenai perkara Paulus. Menariknya, persoalan yang diperdebatkan bukan tentang pelanggaran hukum atau kesalahan manusiawi, melainkan tentang Yesus yang telah wafat dan yang diyakini Paulus hidup kembali. Paulus mempertahankan dengan teguh imannya akan Kristus yang bangkit.

Di sinilah letak kekuatan iman Paulus: ia tidak membangun hidupnya di atas pendapat manusia, melainkan pada kebenaran Kristus.

Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk berani mempertahankan nilai-nilai Injil dalam hidup sehari-hari. Sebab hanya iman yang teguh kepada Kristus akan memampukan kita untuk mengasihi dengan tulus, setia, dan tanpa syarat apapun rintangannya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dijaga oleh Sabda, Diutus dalam Kebenaran

Keteguhan iman kepada Kristus pada akhirnya harus berbuah dalam kasih yang nyata melalui kesetiaan dan pengorbanan. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus bertanya kepada Petrus sebanyak tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?”

Pertanyaan itu bukan sekadar pengulangan, melainkan sebuah pemulihan bagi Petrus yang sebelumnya tiga kali menyangkal Yesus. Melalui pertanyaan itu, Yesus ingin Petrus memahami bahwa kasih bukan hanya perasaan sesaat, melainkan komitmen yang menuntut kesetiaan dan pengorbanan.

Sebab setiap jawaban Petrus selalu diikuti dengan perutusan: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Artinya, mengasihi Tuhan tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan melalui kepedulian kepada sesama, hadir bagi yang lemah, menguatkan yang putus asa, dan melayani tanpa mencari pujian. Sebab orang yang sungguh mengasihi Kristus akan membiarkan kasih itu hidup dan nyata dalam setiap tindakannya.

Saudari dan saudara yang terkasih, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk membangun iman yang teguh dan kasih yang nyata dalam tindakan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Dari Langit Kemuliaan Menuju Bumi Kesaksian

Dunia saat ini membutuhkan lebih banyak orang yang tidak hanya pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi juga berani menghadirkan Tuhan melalui hidupnya.

Dalam perjalanan Novena Roh Kudus hari kedelapan ini, marilah kita memohon agar Roh Kudus memurnikan hati kita sehingga kasih kepada Tuhan diwujudkan secara tulus melalui kesetiaan dan pengorbanan bagi sesama.

Roh Kudus juga meneguhkan kita agar berani menjawab pertanyaan Yesus: “Apakah engkau mengasihi Aku?” bukan hanya dengan jawaban ’ya’, tetapi dengan kehidupan yang memancarkan pelayanan, pengampunan, dan kesetiaan sampai akhir.

Sebab kasih sejati bukanlah permainan perasaan sesaat, melainkan keputusan untuk tetap setia mengasihi, bahkan ketika hal itu menuntut pengorbanan.

Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Dituntun Roh di Tengah Jalan Hidup yang Tak Selalu Jelas

Petikan BUSA-H untuk kita

”Bibir dapat dengan mudah mengatakan “aku mengasihi”, tetapi hanya hati yang tulus mampu membuktikannya.”

”Kasih yang lahir dari Tuhan tidak berhenti di kata-kata, tetapi berjalan dalam pengorbanan.”

”Ketika iman menjadi kuat, kasih tidak lagi mencari dirinya sendiri, melainkan rela menjadi berkat bagi sesama.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Percikan Harapan di Tengah Kegelapan

”Kasih bukan perasaan yang datang dan pergi; kasih adalah keputusan untuk tetap setia, bahkan ketika pengorbanan menjadi jalannya.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan