BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Iman Bukan Upah, Melainkan Anugerah-Bukan Transaksi Tetapi Transformasi
Jumat, 17 Oktober 2025. Peringatan Wajib dari Ignasius dari Antiokhia, Uskup dan Martir
Roma 4:1-8; Lukas 12:1-7.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARI dan saudara terkasih dalam Kristus. Kita hidup di tengah budaya prestasi, di mana nilai seseorang sering diukur dari hasil kerja, jabatan, atau pencapaian yang tampak, seolah-olah keberhasilan adalah ukuran harga diri.
Hidup pun menjadi perlombaan tanpa henti demi mengejar upah yang tinggi, tabungan yang besar, dan investasi yang menjanjikan, seolah nilai hidup diukur dari seberapa banyak yang dimiliki.
Namun Sabda Tuhan hari ini menegur cara pandang itu. Rasul Paulus menegaskan bahwa keselamatan bukanlah hak upah dari pekerjaan manusia, melainkan anugerah kasih Allah yang diterima dalam iman:
“Kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran” (Rm 4:5).
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Bermegah dalam Iman, Bukan dalam Diri
Rasul Paulus ingin menegaskan kebaruan yang radikal bahwa iman sejati bukanlah hasil usaha moral atau ketaatan hukum, melainkan sikap hati yang percaya penuh kepada belas kasih Allah.
Iman seperti ini melahirkan kebebasan batin bukan lagi hidup dari ketakutan untuk “cukup baik di hadapan Allah,” melainkan dari keyakinan bahwa Allah telah lebih dulu mencintai kita meski kita tidak layak. Di sinilah letak keindahan iman Kristen: ia bukan transaksi, tetapi transformasi.
Yesus dalam Injil Lukas hari ini melanjutkan semangat yang sama dengan menyingkap kepalsuan hati manusia: “Tiada sesuatu pun yang tertutup yang takkan dibuka, dan tiada sesuatu pun yang tersembunyi yang takkan diketahui” (Luk 12:2).
Firman ini bukan ancaman, melainkan ajakan untuk hidup dalam kejujuran iman. Dunia mungkin menilai dari apa yang tampak, tetapi Allah menilai dari apa yang tersembunyi dalam hati. Kejujuran rohani menjadi tanda iman yang otentik, iman yang tidak bersembunyi di balik kesalehan palsu, tetapi berani tampil apa adanya di hadapan Allah dan sesama.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Salib: Jalan Rendah Hati di Tengah Dunia yang Cepat Menghakimi
St. Ignasius dari Antiokhia menjadi teladan dari iman yang demikian. Dalam penderitaannya menuju kemartiran, ia tidak bermegah atas jasanya sebagai uskup, tetapi menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada kasih Kristus. Ia percaya bahwa membiarkan dirinya “dikonsumsi oleh kasih Kristus” adalah bentuk iman paling murni.
Kesaksiannya menggugah kita yang hidup di zaman yang mudah beriman di bibir, tetapi ragu dalam tindakan; yang berani bersaksi di ruang aman, namun diam dalam kesulitan. Baginya, iman yang sejati tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupi sampai tuntas, bahkan hingga darah sekalipun.
Saudari dan saudara yang terkasih. Iman yang sejati tidak takut kehilangan, karena tahu bahwa Allah tidak pernah melupakan. Seperti sabda Yesus: “Jangan takut, kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit” (Luk 12:7).
Inilah kekuatan yang meneguhkan setiap murid Kristus: iman yang sederhana, jujur, dan berani, yang tidak mencari upah dunia, melainkan kasih yang kekal.
Bacajuga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Bersihkanlah Hati, Bukan Sekadar Penampilan
Maka, di hari peringatan St. Ignasius dari Antiokhia ini, marilah kita belajar beriman bukan demi dilihat, tetapi demi mengasihi; bukan demi mendapat imbalan, tetapi demi menjadi saksi kebenaran. Sebab iman tanpa kejujuran hanyalah topeng, tetapi iman yang tulus melahirkan keberanian untuk hidup dan mati bagi Kristus.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Ketika kita berhenti mencari upah atas iman, di situlah kita menemukan Kristus yang menjadi segala anugerah.”
“Kejujuran iman lahir dari hati yang berani tampil apa adanya di hadapan Allah.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Tanda yang Menggerakkan Hati
“Kesetiaan kepada Kristus tidak diukur dari banyaknya kata yang diucap, tetapi dari keberanian untuk tetap percaya ketika semuanya harus diserahkan.”
Tuhan memberkati kita.
Editor: Eugenius Moa





