Sabtu, 24 Januari 2026. Peringatan Wajib St. Fransiskus de Sales, Uskup dan Pujangga Gereja.
Kitab Kedua Samuel 1:1-4.11-12.19.23-27; Markus 3:20-21.

Oleh: Rd.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, hidup bersama sering diwarnai relasi yang dalam sekaligus rapuh. Ada persahabatan yang menguatkan jiwa seperti kasih Daud kepada Yonatan, namun ada pula saat ketika niat baik disalahpahami bahkan oleh orang-orang terdekat.

Di satu sisi kita merindukan cinta yang tulus dan setia, di sisi lain kita mengalami penolakan dan kecurigaan ketika memilih setia pada cinta sejati. Realitas inilah yang digemakan oleh Sabda Tuhan hari ini.

Dalam bacaan pertama, ratapan Daud atas Yonatan mengungkapkan cinta yang murni, setia, dan penuh penghormatan. Kasih ini tidak lahir dari kepentingan, melainkan dari hati yang penuh kesetiaan. Sementara itu, Injil menampilkan Yesus yang begitu total dalam karya-Nya sampai orang-orang terdekat mengira Ia telah kehilangan kewarasan.

Yesus tetap melangkah setia meski disalahpahami, tidak membela diri dengan amarah, dan tidak membalas prasangka dengan kata-kata keras. Di sinilah kita belajar bahwa kasih sejati dan kesetiaan selalu menuntut keteguhan hati bukan ketegaran hati.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kita Dipanggil Bukan Karena Mampu, Tetapi Karena Dibentuk 

Teladan ini kita temukan dalam diri St. Fransiskus de Sales, uskup dan pujangga Gereja yang dikenal akan kelembutan dan kebijaksanaan rohaninya. Ia pernah berkata: ”Aku telah membuat perjanjian dengan lidahku, untuk tidak berbicara ketika hatiku gelisah.”

Ungkapan ini bukan tanda kelemahan, melainkan buah kedewasaan rohani. St. Fransiskus de Sales mengajarkan bahwa kasih sejati diungkapkan bukan dengan kata-kata yang meluap, melainkan dengan ketenangan hati yang dijiwai Roh Tuhan. Ia memilih kesabaran, kelembutan, dan keheningan sebagai jalan pewartaan yang menyentuh dan mengubah banyak orang.

Saudari dan saudara terkasih, mari kita belajar mencintai dengan setia seperti Daud, melayani dengan tulus seperti Yesus, dan berbicara dengan bijak seperti St. Fransiskus de Sales. Di tengah relasi yang mudah retak, marilah kita menjaga hati agar tetap tenang, lidah agar tetap bijaksana, dan hidup agar tetap setia pada cinta yang murni.

Dari sanalah iman kita menjadi kesaksian yang meneguhkan, bukan karena kerasnya suara kita, melainkan karena lembutnya kasih yang kita hidupi.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mengelola Emosi dalam Terang Kasih Kristus

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Kasih sejati tidak selalu dipahami, tetapi selalu setia; tidak selalu dibela dengan kata-kata, tetapi dibuktikan dengan keteguhan hati.”

”Ketika hati tenang dan lidah dijaga, Tuhan bekerja diam-diam mengubah relasi yang rapuh menjadi kesaksian kasih yang hidup.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan