Rabu, 19 November 2025.  Hari Biasa Pekan XXXIII. Kitab Kedua Makabe 7:1.20-31; Lukas 19:11-28.

OlehL Rd.Fidelis Dua

Saudara-saudari terkasih, ada kalanya seseorang baru menyadari nilai sesuatu ketika ia kehilangan pegangan hidupnya. Seorang pendaki gunung pernah berkata, “Yang paling menentukan bukanlah puncak yang kutuju, melainkan tali kecil yang kupegang sepanjang jalan.” Tali itu sederhana, tipis, nyaris tak tampak penting. Tetapi justru tali itulah yang menyelamatkan hidupnya.

Betapa sering dalam hidup ini, yang memampukan kita tetap berdiri teguh ternyata bukanlah hal-hal besar melainkan kesetiaan pada hal kecil yang sering kita anggap sepele. Dan, di sinilah firman hari ini mengetuk relung hati kita.

Kitab Makabe menampilkan seorang ibu yang menjadi ikon keberanian. Ia tidak hanya memberikan hidup kepada anak-anaknya, tetapi juga memberikan arah kepada hidup mereka. Saat menyaksikan satu per satu putranya disiksa dan dieksekusi, ia berkata: “Aku tidak tahu bagaimana kamu muncul ke dunia, tetapi Sang Pencipta semesta menyayangi kamu dan akan memulihkan kamu.”

Ini bukan sekadar kata-kata penghiburan. Ini adalah deklarasi integritas iman bahwa kesetiaan tanpa pengorbanan hanyalah gagasan, bukan kehidupan yang bertumbuh. Sang ibu Makabe memperlihatkan bahwa kepercayaan kepada Allah memperoleh wujudnya dalam kesetiaan yang tetap bertahan meski tubuh hancur dan harapan tampak lenyap.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kehilangan Menjadi Jalan Pulang kepada Tuhan

Ia menunjukkan bahwa iman bukan teori, keteguhan bukan ucapan, dan kesetiaan selalu memiliki harga.

Yesus menceritakan seorang raja yang mempercayakan mina kepada para hambanya. Bukan jumlahnya yang penting, tetapi kepercayaan kecil yang diberikan. Yesus menyatakan: “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”

Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak mencari mereka yang spektakuler, melainkan mereka yang dapat diandalkan. Bahwa kualitas rohani seseorang tampak bukan ketika dia berdoa paling keras, tetapi ketika dalam tugas-tugas kecil, pelayanan yang tak terlihat, tanggung jawab sederhana, kesetiaan sehari-hari, ia tetap jujur dan bertekun.

Seperti dikatakan mendiang Paus Fransiskus: “Kesetiaan itu bertumbuh dari langkah-langkah kecil yang diulang setiap hari.” Kesetiaan bukanlah peristiwa besar, ia adalah ritme hidup.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Iman yang Tidak Mau Dibungkam

Saudari dan saudara yang terkasih, ada dua pilar karakter dalam ritme kehidupan kita, yakni kepercayaan dan kesetiaan. Kepercayaan adalah hadiah; kesetiaan adalah tanggapan.

Ketika Allah mempercayakan sesuatu kepada kita berupa waktu, relasi, pelayanan, kemampuan, itu bukan untuk disimpan, tetapi untuk dikembangkan. Sebaliknya, ketika kita setia pada kepercayaan itu, kita sedang mengatakan kepada Allah: “ Aku percaya bahwa Engkau setia lebih dahulu kepadaku.”

Makabe menunjukkan kesetiaan yang berani. Injil menunjukkan kesetiaan yang bertanggung jawab. Dua-duanya membentuk karakter. Maka patut kita diajak bertanya: Apakah Allah dapat memercayai saya? Apakah orang-orang di sekitar dapat mengandalkan saya?

Semuanya mungkin bisa kita tetap setia pada hal kecil, karena di situlah integritas dibangun. Mengembangkan apa yang dipercayakan, bukan menguburnya dalam ketakutan. Berani mengorbankan kenyamanan, karena iman sejati menuntut keberanian.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Membangun Damai di Tengah Dunia yang Runtuh

Saudara-saudari terkasih, kesetiaan para martir Makabe adalah nyala api yang tidak padam. Kesetiaan para hamba dalam Injil adalah cermin tanggung jawab rohani. Dan kesetiaan kita saat ini dalam tugas, pelayanan, keluarga, panggilan hidup akan menjadi jawaban kepada Allah yang terlebih dahulu setia.

Marilah kita memegang “tali kecil” yang Allah percayakan itu, dan membiarkan kesetiaan kita dalam hal kecil maupun besar menjadi jalan pulang kepada-Nya.

Petikan Butiran Sabda Allah hari:

“Kesetiaan bukanlah kemegahan tindakan, tetapi ketekunan pada hal-hal kecil yang terus dilakukan ketika tidak ada yang melihat.”

“Kepercayaan adalah anugerah yang diberikan Allah; kesetiaan adalah jawaban sunyi yang membentuk karakter kita dari hari ke hari.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan