Ibu Rumah Tangga Tak Sanggup Cicil Hutang dan Lunasi Uang Sekolah, Dapur SPPG Wailiti Ditutup
MAUMERE,dewadet.com-Dua bulan sudah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wailiti di Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dihentikan sementara operasionalnya oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Pemberhentian itu karena masalah instalasi pengolahan air limbah (IPAL). BGN mengharuskan perbaikan total IPAL sebelum operasional kembali.
Pemilik dapur merespon perbaikan. IPAL manual digantikan dengan IPAL modern buatan pabrik. Bahkan kini menjadi satu-satunya IPAL terbaik dari semua dapur SPPG yang ada di Sikka menurut penilaian Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka.
Berhenti mengelola Makan Bergizi Gratis (MBG) menghentikan pula semua aktivitas. Para relawan di semua unit istirahat sementara menunggu perbaikan dilakukan sampai asap dapur kembali mengepul.
Baca juga:Hanya Satu dari 17 SPPG di Sikka Punya Ipal Modern, Pisahkan Limbah Air dan Lemak
Ciutin (45) ibu rumah tangga, salah satu dari 48 orang relawan yang turut diberhentikan. Para relawan umumnya kaum ibu rumah tangga, janda juga mahasiswa.
“Kami bukan pekerja tetap. Tidak menggunakan sistem kontrak, melainkan langsung dipanggil dan direkrut saat program MBG ini pertama kali dibuka,” kenang Ciutin masa awal kerja tujuh bulan lalu.
Hanya menyandang hanya relawan, perhatian terhadap keberadaan mereka lumayan baik. Selain honor, mereka juga mendapat perlindungan dari BPJS Ketenagakerjaan.
“Sebagian besar dari kami adalah ibu rumah tangga yang tidak punya pekerjaan tetap, ada beberapa ibu janda dan anak kuliah. Jika ada relawan yang berhalangan hadir, posisi mereka bisa digantikan oleh orang lain,” kisah Ciutin.
Baca juga:Janda dan Ibu RT Dapur MBG Mengadu ke Kejari Sikka, Kasi Intel: Sudah Pulbaket
Di bulan April 2026, lanjut Ciutin muncul masalah pada IPAL. Semua relawan berhenti sementara sambil menunggu selesai perbaikian.
Namun, meski IPAL telah selesai perbaikan, tak jelas kapan waktunya SPPG tersebut mulai beroperasi lagi.
“Setiap kali kami datang tanya, kepada Kepala SPBG jawabannya selalu sama: Nanti lagi, minggu depan lagi, atau Senin depan lagi, sabar saja. Begitu terus tanpa ada kepastian,” kata Ciutin.
Lain lagi Isna (25). Semenjak dapur libur masak, ia kembali merasakan kesulitan mencari uang. Keadaan rumah tangga bertambah sulit, karena suami belum punya kerja tetap.
Baca juga:Dapur MBG Tak Mengepul, Pemilik Terima Transfer Rp 500 Juta Tak Berani Gunakan
“Semula rumah tangga kami terbantu karena kami menerima upah setiap dua minggu sekali. Selama bekerja di sana, uang untuk bayar angsuran di koperasi harian dan mingguan kami lancar, sehingga beban hidup kami berkurang jauh,” kenang Isna.
Ketika masih punya penghasilan, diakui Isna, utang di koperasi harian atau mingguan bisa langsung lunas. Bahkan petugas koperasi sampai datang ke dapur hanya ingin tahu relawan terima honor.
“Teman-teman relawan yang tinggal di kos juga bisa bayar kos tepat waktu dari uang itu, dan yang kuliah pun bisa membayar uang kuliah,” kata Isna.
Semenjak dapur ditutup, Isna dan beberapa relawan kembali terpuruk. Mereka kembali berutang ke koperasi harian dan Koperasi Meka’ar.
Baca juga:Instruksi Kejagung ke Kejati Laporkan Masalah MBG
“Kami kembali gali lubang tutup lubang. Kami bingung karena tagihan menumpuk, salah satu dari kami bahkan punya tunggakan uang sekolah anak Rp 180.000,” katanya.
Baik Ciutun maupun Isna, keduanya menaruh harapan SPPG Wailiti kembali melayani MBG.
“Kami ingin kembali bekerja di dapur supaya bisa membiayai sekolah anak-anak yang mau wisuda dan memenuhi kebutuhan rumah tangga lagi,” harap Isna.
“Kalau ditanya bagaimana jadinya jika dapur ini ditutup selamanya? Jangan sampai itu terjadi! Kami tidak mau dapur ini ditutup karena ini adalah dapur yang paling bagus dan sangat membantu kehidupan kami,” ujarnya. *





