Lukisan Jenderal Ahmad Yani di Museum Ledalero, Terpaut Sehari Sebelum Dibunuh G30S/PKI

Lukisan Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani dipajang di ruang depan Museum Bikon Bewut Ledalero. (dewadet.com/eginius moa).

MAUMERE, dewadet.com-Sebuah lukisan berukuran besar dibingkai kayu dipajang di ruangan depan Museum Bikon Bewut, Kampus Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK, dulu bernama STFK) Ledelero di Desa Nita, Kecamatan Nita, 8 Km sebelah barat Kota Maumere, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur  (NTT).

Sosok pria dalam balutan seragam biru Tentara Nasional Inonesia (TNI) AD tak asing bagi kebanyakan orang adalah Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani. Satu dari 10 orang perwira tinggi TNI AD yang dibunuh oleh gerombolan tentara yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dikemudian dikenal dengan Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI.

Sosok Pak Yani, ketika itu masih menyandang jenderal bintang tiga (Letjen) menjabat Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi.

Tanggal 25 September 1965, lima hari sebelum ajal menjemput dibunuh PKI dan jasadnya dibuang ke sumur tua Lubang Buaya Halim Perdana Kusuma, Pak Yani menjejakan kaki di Kampus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Katolik (STFK) Ledalero.

Pak Yani, datang menyampaikan ceramah kepada para pastor dan frater. Beberapa orang perwira tinggi TNI AD, turutserta mendampinginya tak lepas dari situasi negara. Gerakan PKI ingin melakukan kudeta dan mengubah dasar negara Pancasila.

Baca juga:60 Tahun Lalu Jenderal Ahmad Yani Ceramah di STFK Ledalero, Lima Hari Sebelum Dibunuh PKI

Bosko Beding, salah satu dari para frater yang mengikuti ceramahnya, kemudian melukis kembali wajah sang jenderal dari foto-foto Pak Yani yang sementara ceramah.

“Frater Bosko punya bakat melukis. Siang hari tanggal 30 September 2025, dia lukis wajah Pak Yani. Di bagian bawa lukisan ditulis Letnan Jenderal Ahmad Yani. Tengah malam dari radio tersiar kabar bahwa Pak Yani dibunuh,” kisah Endi Paji, pengelola Museum Bikon Blewut, 30 September 2025 di Ledalero.

Frater Bosko Beding, yang kemudian mengetahui kabar Pak Yani telah meninggal mengubah pangkat Letjen menjadi menjadi  Djend Anumerta TNI dibawah foto. Pangkat dinaikan setingkat untuk menghormati pengorbanan jiwa pahlawan revolusi.

Lukisan yang ikonik telah berusia 60 tahun dipajang di museum . Setiap pengunjjung yang datang ke museum itu seolah ‘disapa’ sang jenderal.  Bernilainya lukisan ini, empat kali utusan dari Museum Tradisi ABRI di Jakarta  datang ke Ledalero minta membawan lukisan ini ke sana. Pengelola Museum Bikon Bewut enggan melepas lukisan ini.

Baca juga:Hari Lahir Pancasila Sempat Dilarang Diperingati di Masa Pemerintahan Orde Baru

Putri mendiang Pak Yani, kata Endi Paji, juga dua kali mengunjungi Museum Bikon Bewut. Kedatanganya hanya untuk melihat kembali wajah ayahnya yang pernah hadir di lembaga pendidikan tinggi yang mendidik para calon imam Katolik. Putri Pak Yani, tak bermaksud minta lukisan ini.

“Putrinya menangis melihat lukisan wajah ayahnya. Ini lukisan yang ikonik bagi museum ini, ada nilai sejarah yang tidak bisa dipindahkan ke tempat yang lain,” pungkas Endi Paji. *

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan