Sepuluh Ribu Rupiah Membayar Nyawa

Ilustrasi kasus bunjuh diri

Oleh RD. Fidel Dua

DI Ngada,
di tanah yang diajari percaya dan bersyukur,
seorang anak sepuluh tahun
mengakhiri pelajaran hidupnya
tanpa wisuda,
tanpa ijazah,
tanpa buku,
tanpa pena.

Harga harapannya
tak lebih dari sepuluh ribu rupiah.
Murah bagi negara,
mahal bagi kemiskinan yang diwariskan turun-temurun.

Ia tak kalah dalam ujian,
ia kalah dalam sistem.
Ia tak bodoh,
ia terlalu jujur melihat kenyataan:
belajar butuh alat,
dan kemiskinan tak memberi pilihan.

Di atas kertas yang mungkin dipinjam,
dengan bahasa ibunya,
ia menulis perpisahan paling dewasa
yang tak pernah diajarkan di sekolah:

“Mama saya pergi dulu.
Jangan menangis.
Jangan mencari.
Jangan merindukan.”

Anak sepuluh tahun
menenangkan ibunya.
Sementara negara
sibuk menenangkan rakyatnya
dengan angka, laporan, dan pidato.

Siapa yang harus ditegur hari ini?
Sekolah yang bicara kewajiban
tanpa memastikan keadilan?
Guru yang lelah dan tak berdaya?
Pejabat yang mengucap “pendidikan gratis”
namun lupa pada buku dan pena?
Atau kita semua
yang terlalu cepat lupa
bahwa kemiskinan bisa membunuh?

Ini bukan sekadar bunuh diri.
Ini eksekusi sunyi
oleh kemiskinan ekstrem
yang dibiarkan hidup berdampingan
dengan baliho anggaran dan janji politik.

Anak itu bukan korban semata.
Ia adalah pahlawan pendidikan.
Dengan nyawanya,
ia menampar wajah dunia pendidikan Indonesia,
menampar negara yang selalu datang
setelah peti mati ditutup.

Wahai Negara,
jika sepuluh ribu rupiah saja
tak bisa kau pastikan hadir di tangan anak-anakmu,
jangan bicara tentang bonus demografi,
jangan khotbahkan mimpi Indonesia Emas.

Karena di Ngada,
seorang anak telah membayar
mahalnya pendidikan
dengan hidupnya sendiri.

Dan sejarah akan bertanya:
bukan mengapa ia mati,
tetapi
di mana engkau
saat ia masih ingin hidup dan belajar?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan