Tragis! Upah Sehari Buruh Darat Pelabuhan Lorens Say Tak Cukup Beli Beras Sekiogram
MAUMERE,dewadet.com-Perjuangan mendapatkan upah borongan yang layak bagi 180 tenaga kerja bongkar muat yang dikenal sebutan buruh darat Pelabuhan Lorens Say Maumere di Kabupaten Sikka, Pulau Flores ibarat teriakan di padang gurun.
Sudah 15 tahun upah borongan kontainer masih bertahan Rp 325.000. Upah tersebut dibagi untuk 30 orang anggota kelompok atau setiap anggota menerima Rp 10.833 untuk setiap kontainer. Distribusi upah itu berlaku merata untuk 180 buriuh darat terbagi dalam enam kelompok kerja.
Fabianus Lansemus, satu dari 180 buruh darat mengisahkan nasib mereka kepada wartawan di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Sikka, Rabu siang 24 Juli 2025.
“Sehari kadang hanya bisa bongkar satu kontainer. Upah borongan Rp 325.000/kontainer dbagi kepada 30 orang, sehingga setiap anggota dapat upah Rp 10.833. Kadang juga sehari tidak dapat kerja,” kisah Fabianus.
Baca juga: Delapan Jam Lebih Ditahan, Polres Sikka Lepas 38 Truk Odol
Fabainus bersama puluhan rekan seprofesi mengadu nasib ke Dinas Nakertrans Sikka. Sebelum ke Dinas Nakertrans, mereka bersua ke DPRD Sikka, tapi gagal bertemu.Tak seorang pun wakil rakyat yang hadir di kantor yang beralamat di Jalan El Tari Kota Maumere.
Harga borongan perkontainer itu berlaku merata untuk semua jenis berang yang dibongkar semisal besi beton, semen dan semua jenis barang terkategori barang berat.
Pekerjaan yang palnig berat dan beresiko membongkar semen. Setiap stapel disusun ke atas 30 sak semen. Untuk menurukan semen, mereka memasang tangga kemudian menurunkan semen secara estafet.
Fabianus melanjutkan, upah borongan yang dikumpulkan setiap hari akan dibayar pada minggu tiga sampai minggu keempat. Setiap bulan uang yang dikumpulkan setiap tenaga kerha berkisar Rp 400.000-Rp 500.000.
Baca juga: Peringatan Hari Buruh; Pekerja Toko, Gudang dan Outsourcing Tak Terakomodir di Organisasi Pekerja
Uang itupun sering telat dibayar. Manajemen Perusahaan di Maumere beralasan upah kerja dikirim dari kantor pusat perusahaan ekspedisi berpusat di Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
“Kami desak ulang-uang baru dibayar,” keluh Fabianus yang sudah 20 tahun kerja di pelabuhan.
Koordinator buruh darat, Mikael Ricardus Sengi, berharap rekomendasi yang disepakati dalam rapat dengar pendapat dengan DPRD Sikka sekira dua minggu lalu bisa ditindaklanjuti.
Salah satu dari lima rekomendasi tersebut menegaskan Dinas Nakertrans Sikka memfasilitasi untuk menjamin kesejahteraan buruh pelabuhan dengan menaikan hak-hak buruh sesuai ketentuan perundangan berlaku.
Baca Juga: Pemilik Rumah Makan Demo ke DPRD, Wabup Sikka: Konsumen Sudah Bayar
Buruh Pilih Upah Borongan
Kepala Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan Dinas Naketrans Sikka, Wilibrorda Du’a Bura mengatakan pemerintah akan memfasilitasi pertemuan buruh darat dengan pemberi kerja.
Di Pelabuhan Lorens Say, kata Wilibrorda beroperasi lima perusahaan ekspedisi bongkar muat yakni PT Meratus, PT Timur Asri Laut, Ruci Mena Logistik, Citra Niaga, dan PT Mitra Internasional.
Ia mengatakan perhitungan tarif kerja buruh darat untuk semua kategori pekerjaan ringan, sedang dan berlaku sama berdasarkan kesepakatan.
“Buruh memilih harga borongan daripada berdasarkan waktu perjam kerja. Perhitunganya 1 per 173 dikali upah sebulan berdasarkan upah minimum kabupaten (2025) Rp 2.328.969, sehingga didapatkan upah perjam Rp 13.500,” kata Wilibrorda.
Baca juga: Dinas Nakertrans Sikka Fasilitasi Petani Olah Singkong dan Kakao
Dia berharap pertemuan antara pemberi kerja dengan buruh difasilitasi pemerintah segera digelar agar para buruh mendapatkan kepastian upahnya. *
Penulis: Eginius Moa
Editor: Eginius Moa



