Suroto Nyalakan Semangat Kopdit Obor Mas Hadapi Ancaman Ideologi Matikan Koperasi Kredit

CEO INKUR, Suroto menyampaikan materi seminar Re-Ideologi Koperasi dalam perayaan HUT ke-53 KSP Kopdit Obor Mas di Aula Puskopdit Swadaya Utama Maumere, Jumat 7 November 2025. (dewadet.com/eginius moa).

MAUMERE,dewadet.com-CEO Inkur Federation, Suroto menyadarkan ancaman terhadap ideologi koperasi kredit saat ini yang bisa menghancurkan dan mematikan semua koperasi di Indonesia.

“Saya bahagia karena re-idelogis menjadi tema penting, karena Kopdit di seluruh Indonesia akan hancur, akan mati bukan karena pengaruh dan serangan dari luar, tetapi dari dalam. Kopdit Obor Mas juga akan hilang dan tidak memiliki relevensi apabila ideologi hilang dari sanubari kita,” tegas Suroto, dalam seminar dalam perayaan HUT ke-53 KSP Kopdit Obor Mas, Jumat-Sabtu, 7-8 November 2025 di Aula Piuskopdit Swadaya Utama Maumere.

Suroto mampu membakar semangat menyelinginya dengan motivasi kepada staf manajemen dalam seminar mengusung tema Pemberdayaan Kelompok Sahabat Obor Mas melalui Re-Ideologi Nilai-Nilai Koperasi dan Community Development.

Sedangkan Misbah Isnaifah, menyampaikan hal praktis “Memperkuat Community Development melalui Community Organizing dalam rangka Pemberdayaan Kelompok Sahabat Obor Mas”. Agustinus Mardikun, dari CU Bunga Tanjung menyampaikan “Sharing Pemberdayaan Kelompok”. Ketua pengurus Kopdit Obor Mas, Markus Menando, anggota pengurus, pengawas, penasehat, General Manajer, Leonardus Frediyanto Moat Lering, dan ratusan karyawan hadir secara langsung dan melalui zoom.

Baca juga:Kopdit Obor Mas, Salah Satu Penopang Utama Puskopdit Swadaya Utama Maumere

Suroto menggarisbawahi apapun perubahan dunia akan menjadi model seperti apapun, tapi jangan sampai mengubah ideologi koperasi. Jika credit union atau koperasi kredit mengalami degradasi, maka koperasi tidak punya relevansi apapun, jati diri, roh atau ideloginya ditinggalkan.

Re-idelogis, kata Suroto merupakan tema nasional yang direkomendasikan dari Ratnas Inkopdit,harus menjadi refekleksi. Sebagai aktivis koperasi, kita sama-sama retret menyampaikan materi kepada anggota di lapangan. Apakah materi yang dibawakan setiap hari ini benar menjadi pemahaman mendasar dengan cara kita beri pelayanan.

Para pendiri Kopdit Obor Mas maupun credit union di NTT telah menyemaikan benih yang harus terus tumbuh dan dikembangkan sampai kapanpun.Ideologi koperasi sangat mendasar, karena ideologi inilah yang menyalakan gerakan credit union.

“Dunia boleh berubah bahkan bisa serba digital, menjadi global bahkan sangat global, tapi kalau tidak ada idelogi koperasi maka punalah gerakan ini. Bila modal yang menentukan maka tidak punya relevansi lagi,” katanya.

Baca juga:53 Tahun Kopdit Obor Mas, Bukan Hanya Usia Tapi Perjuangan Nilai, Gerakan dan Kemanusiaan

Ia mengatakan perjuangan koperasi untuk mendapat pengakuan  melalui badan dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Unesco butuh waktu 250. Koperasi menjadi warisan tak benda,karena punya visi membangun kemanusiaan. Tahun 2025 menjadi tahun koperasi dirayakan diberbagai belahan dunia.

Kata Suroto, dunia mengakui gerakan koperasi sebagai gerakan penciptaan kemanusiaan dan keadilan. Kita yanhg bekerja di CU bukan hanya sebatas mencari uang, tetapi sedang beribadah menuju jalan kasih.

Dia menegaskan bahwa modal koperasi hanya alat bantu, bukan alat penentu.Di koperasi yang menentukan adalah pengurus, pengawas dan anggota, berbeda dengan perusahaan kapitalis, yang menentukan adalah pemilik modal.

“Itulah kebanggaan. Kesetaraan ekonomi. Modal, uang memang penting, tapi menjadi alat tapi bukan budak uang,” tegas Suroto.

Baca juga:Hari ini 53 Tahun Lalu Kopdit Obor Mas, dari 98 Anggota dan Simpanan Rp 105.500

Koperasi, kata Suroto, membangun tatanan adil. Ada kerja sama, rasa saling percaya. Ikatan orang yang saling percaya inilah tumbuh kerjasama. Bergandengan tangan. Bekerja menciptakan keadilan dan   perdamaian.

“CU untuk semua agama, semua umat manusia. Tanpa membedakan agama, suku, ras dan golongan, termasuk orang yang tidak beragama. Seperti di Belanda, banyak orang atheis, tapi mereka menjadi anggota koperasi. Kasih tidak memandang asal-usul dan agamanya” tegas Suroto lagi.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan