Hari ini 53 Tahun Lalu Kopdit Obor Mas, dari 98 Anggota dan Simpanan Rp 105.500
MAUMERE,dewadet.com-Sabtu 4 November 1972 di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau Flores.
Udara sore itu lumayan teduh. Puluhan guru dan pegawai Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kabupaten Sikka, serta para guru dan pegawai dari Kantor Departmen Pendidikan dan Kebudayaan Sikka bertemu di Aula Kantor DPRD Sikka (kini eks Kantor Bupati dan Gedung SCC) di Jalan Ahmad Yani Kota Maumere.
Semula pertemuan itu hendak dilaksanakan di Kantor Dinas P dan K, di depan Gelora Samador. Pertemuan di kantor itu urung dilakukan karena ruangan sempit, tak cukup menampung semua guru dan pegawai dari kedua kantor pemerintahan. Kepala Dinas P dan K, Yosef Doing yang menginisiasi pertemuan itu meminjam aula DPRD Sikka.
Rapat hari itu menurut daftar hadir tertera nama-nama para kepala sekolah dan guru. Hadir juga lima pejabat dari dinas dan departemen pendidikan dan kebudayaan, Remigius Sinantong Parera, Yosep Lavanto Parera, St. Osisi da Lopez, G. B. da Lopez, dan Bartholomeus Tanga. Kelima pejabat ini kemudian menjadi pendiri CU Obor Mas, dan Yosef Doing menjadi ketua pertama.
Total semua guru dan pegawai yang hadir 98 orang. Pertemuan itu menyepakati mendirikan Credit Union (CU) Obor Mas. Waktu itu belum dikenal sebutan koperasi kredit (Kopdit).
Baca juga:Gong Waning dari Tarian Hegong Mengiringi Pemakaman Tokoh Kopdit Obor Mas, Fidelis Vin Coro
Nama Obor Mas dipilih selaras profesi para anggotanya—guru. Guru diibaratkan pemberi cahaya, penunjuk jalan yang tepat bagi perjalanan.
Dikutip dari buku “Terus Menjadi Cahaya, 50 Tahun Kopdit Obor Mas,” terbitan 2022, Editha E.Elthariana, putri Yosef Doing yang kini menjabat Manajer Cabang Utama Sikka, mendengar cerita sang ayah almahrum. Nama yang dipilih seturut cerita lepas ayahnya,Obor Mas itu artinya harus jadi terang, jadi obor untuk masyarakat.
Fidelis Vin Coro (85 tahun) mengikuti perjalanan lahirnya CU Obor Mas ketika itu menjabat Kepala Urusan Kepegawaian Dinas P dan K, tak hanya menjalankan tugas pokok mengurus administrasi kepegawaian para guru, pengangkatan guru baru, kenaikan pangkat, kenaikan gaji, promosi dan urusan pensiun.
Oleh Yosef Doing, ia diberi beban tugas tambahan. Memotivasi, mengajak dan mengarahkan para guru menjadi anggota perdana CU Obor Mas.
Baca juga:GM Kopdit Obor Mas Pidato di Hadapan Profesor Dr. Nur Fadjrih, Ketua STIESIA Surabaya
“Sering sekali para guru sampaikan keluh kesah pekerjaan dan suka-duka hidup di rumah tangga. Keluhan yang paling umum disampaikan yakni kesulitan biaya pendidikan anak, bangun rumah dan biaya kesehatan,” kenang Fidelis, dituangkan dalam buku 50 Tahun Kopdit Obor Mas.
Keadaan tahun 1970-an masih berat, pasca tragedi Gerakan 30 September 1965 yang dikenal dengan peristiwa G30S-PKI. Masa-masa sulit itu pun dirasakan di Maumere. Rakyat terjebak utang pada rentenir. Banyak diantara para guru yang terpaksa meninggalkan pekerjaannya sebagai pendidik karena profesi guru tak memberikan penghidupan yang baik rumah tangga mereka.
Pertemuan perdana pendirian CU Obor Mas terhimpun total simpanan Rp 105.500 dari 98 anggota. Dana ini kemudian mulai digunakan pertama kali untuk pelayanan pinjaman kepada salah seorang guru untuk keperluan biaya pernikahannya.
“Saya masih gadis, belum nikah dengan bapak Bartolomeus Tanga, saya sendiri ikut merasakan susahnya hidup tahun 1970-an itu. Ketika tahu ada Obor Mas, saya ini termasuk salah satu orang yang datang ke sekolah-sekolah di Kota Maumere ajak para guru bergabung menjadi anggota CU Obor Mas. Yang saya ingat juga adalah uang yang terkumpul awal itu dipinjam salah seorang guru di Nelle untuk urusan pernikahannya,” demikan cerita ibu Laurensia Mundus.
Baca juga:Kopdit Obor Mas dan General Manajer Boyong Dua Penghargaan Metro TV
Setelah menikah dengan bapak (baca, Bartolomeus Tanga), salah satu inisiator pendiri CU Obor Mas, Laurensia turut aktif lagi mengajak para guru untuk bergabung menjadi anggota CU Obor Mas.
Anggota perdana, Dominikus Lejo (86 tahun) mengungkapkan tahun-tahun yang sulit, beban ekonomi yang sebetulnya sudah dimulai sejak akhir tahun 1950-an. Puncak dari penderitaan itu adalah meletusnya peristiwa G30S-PKI. Peristiwa ini dampaknya terhadap lesunya ekonomi berlangsung hingga tahun 1970-an di Maumere.
Melewati masa penuh tantangan turut membesarkan CU Obor Mas. 53 Tahun lalu hanya punya 98 anggota dengan modal awal Rp 105.500, kini bertanggotakan 163 ribu lebih dan aset Rp 1,5 triliun. SELAMAT HUT KE-53. *





