Trauma Gempa 1992 Membekas di Warga Nangahale, Terima Kasih Kunjungan Bunda Literasi NTT dan Kabupaten Sikka

Pengungsi Desa Nangahale di Kecamatan Taibura, Kabupaten Sikka, dikunjungi Bunda Literasi Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, dan Bunda LIterasi NTT, Ny. Asti Laka Lena, Minggu 23 Agustus2026. (dok.pemda sikka).

MAUMERE,dewadet.com- Proses pemulihan psikologis dari rasa takut dan cemas atau trauma healing pasca Gempa Flores bermagnitudo 7,7 hari Sabtu 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA kepada pengungsi di Desa Nanghale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Pulau Flores dirasakan sangat bermanfaat bagi para korban.

Perasaan trauma Gempa dan Tsunami Maumere, 12 Desember 1992 masih menghantui kebanyakan warga yang mengalami musibah alam 34 tahun silam.

Kepala Desa Nangahale, Sahanudin menyampaikan terima kasih dengan truma healing diadakan bersamaan kunjungan Bunda Literasi Provinsi NTT, Ny Mindriyati Astiningsih Laka Lena, dan Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, S.H,  ke kamp pengungsian di Dusun Utan Wait, Desa Nangahale hari Minggu, 23 Agustus 2026.

“Terima kasih banyak kegiatan trauma healing, sangat membantu menguatkan psikologi anak anak dan orang tua. Warga Nangahale masih  truma dengan gempa 1992,” kata Salahudin.

Baca juga:Bupati Sikka Luncurkan Gerakan 30 Menit Membaca dan Wisata Literasi–Sains

Ny. Asti Laka Lena, mengatakan kunjungan tersebut merupakan kepedulian dan komitmen pemerintah dan Tim Penggerak PKK memastikan kondisi warga terdampak gempa di pengungsian mendapat perhatian, pendampingan dan dukungan pemerintah.

Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak dan para pelajar yang berada. Literasi dan sains untuk menjaga semangat belajar anak-anak di tengah situasi pascabencana.

Aktivitas edukatif dikemas secara menyenangkan agar anak-anak tetap belajar, bermain, berinteraksi dan memperoleh ruang untuk mengurangi rasa cemas dan trauma akibat gempa bumi.

Kegiatan trauma healing menjadi salah satu pendampingan psikososial untuk membantu anak-anak kembali merasa aman, nyaman, dan berani mengekspresikan perasaan mereka setelah mengalami situasi bencana.

Baca juga:Pengungsi Nangahale Tunggu Perintah Kembali ke Rumah

Ny. Asti Laka Lena menyampaikan kehadirannya untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat terdampak, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak.

Bersama Bunda Literasi Kabupaten Sikka, mereka menyemangati  masyarakat bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi masa tanggap darurat pascagempa.

Ny. Fista Sambuari Kago terus mendorong agar kegiatan literasi dan trauma healing dilakukan secara berkelanjutan di berbagai titik pengungsian di Kabupaten Sikka.

Komentar

4 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan