Sabtu, 2 Agustus 2025. Hari Biasa Pekan XVII  Kitab Imamat 25:1.8-17; Matius 14:1-12.

Oleh: RD.Fidelis Dua

MENDIANG Paus Benediktus XVI pernah menulis: “Kebebasan sejati bukanlah bebas melakukan apa yang kita inginkan, tetapi bebas untuk melakukan apa yang benar.”

Ungkapan ini menjadi jembatan antara dua bacaan hari ini: seruan Allah kepada umat-Nya untuk kembali ke tanah milik mereka dalam Tahun Yobel dalam Kitab Imamat dan keberanian Yohanes Pembaptis untuk tetap berdiri dalam kebenaran di hadapan kuasa duniawi dalam Injil Matius.

Saudari dan saudara terkasih, Dalam bacaan pertama dari Kitab Imamat, Tuhan menetapkan hukum Tahun Yobel: setiap lima puluh tahun, tanah dikembalikan kepada pemilik asal, budak dibebaskan, dan orang miskin dipulihkan. Ini bukan hanya soal keadilan sosial, tetapi juga pemulihan identitas umat sebagai milik Tuhan.

Tuhan mengajarkan bahwa segala kepemilikan adalah titipan, dan tanah sebagai simbol kehidupan dan martabat tidak boleh menjadi alat penindasan. Sabda ini menegur kita yang hidup di dunia penuh kerakusan dan egoisme bahwa kebebasan dan keadilan bukan hanya hak, tapi panggilan untuk saling membebaskan dan memulihkan martabat sesama.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Iman dalam Ritme Ilahi, Kasih dalam Detak Hati Tuhan

Sementara itu, dalam Injil Matius, kita melihat potret kontras: Raja Herodes terjebak dalam kebimbangan moral. Ia tahu Yohanes Pembaptis adalah orang benar, tetapi demi menjaga muka dan gengsi, ia menyerahkan Yohanes kepada kematian. Yohanes berdiri tegak demi kebenaran, bahkan ketika itu harus dibayar dengan nyawanya.

Ini adalah pesan profetik bagi kita semua bahwa menjadi murid Kristus berarti siap bersuara untuk kebenaran, sekalipun tidak populer, sekalipun berisiko. Dalam dunia yang kadang memilih diam demi aman, Yohanes mengajak kita untuk tetap teguh, sebab kesetiaan pada kebenaran adalah bentuk tertinggi kasih kepada Allah.

Saudara-saudari terkasih. Sabda Allah hari ini memanggil kita untuk dua hal: pulang dan berdiri teguh. Pulang berarti kembali pada kasih Allah, pada identitas sejati sebagai anak-anak-Nya yang saling memulihkan, bukan saling memperbudak. Dan, berdiri teguh berarti meneladani Yohanes Pembaptis: berani menyuarakan kebenaran meski harus menanggung salib.

Mari kita jalani hari ini dengan semangat Yobel: membebaskan, memulihkan, dan tetap setia, karena hanya kebenaran yang membebaskan kita sepenuhnya (lih. Yoh 8:32).

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Iman dalam Ritme Ilahi, Kasih dalam Detak Hati Tuhan

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Kebenaran tidak selalu diterima, tetapi selalu membebaskan bagi yang setia menjalaninya.”

“Kita tidak dipanggil untuk nyaman dalam diam, tetapi untuk teguh berdiri demi kasih yang memulihkan dunia.”

Tuhan memberkati kita.

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan