Minggu, 26 Oktober 2025. Hari Minggu Biasa XXX. Kitab Putra Sirakh 35:12-14.16-18; 2 Timotius 4:6-8.16-18; Lukas 18:9-14.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI-saudara terkasih dalam Kristus.  hidup kita saat ini penuh dengan kegaduhan pencitraan. Banyak orang sibuk menampilkan diri di tempat kerja, di rumah, bahkan di altar. Kita hidup di zaman di mana kesalehan sering diukur dari penampilan luar, bukan dari kedalaman hati. Orang mudah mengklaim dirinya benar, lalu memandang rendah yang lain.

Filsuf Søren Kierkegaard pernah berkata, “kebanyakan orang bukan tidak beriman kepada Allah, tetapi mereka percaya pada gambaran tentang diri mereka sendiri yang mereka sebut Allah.”

Kata-kata ini tajam! Kita sering berdoa bukan untuk menyembah, tetapi untuk membenarkan diri; bukan untuk berubah, tetapi untuk memastikan bahwa kitalah yang benar.

Injil hari ini menggambarkan dua orang yang berdoa di Bait Allah: seorang Farisi dan seorang pemungut cukai. Keduanya datang ke tempat suci, tetapi dengan hati yang sangat berbeda.
Farisi berdiri tegak, penuh kepercayaan diri, memuji dirinya atas segala kebaikan yang ia lakukan. Ia memang taat, berpuasa, memberi derma tetapi doa itu berpusat pada dirinya sendiri, bukan pada Allah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Hidup dalam Roh, Berbuah dalam Kasih

Sebaliknya, pemungut cukai berdiri jauh di belakang, tak berani menatap langit. Ia menepuk dada dan berdoa lirih: “Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini.” Dan Yesus berkata dan inilah kejutan Injil: “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan oleh Allah, dan bukan yang itu.”

Mengapa? Karena Allah tidak bisa disuap dengan litani kebaikan diri kita atau tertarik pada daftar prestasi rohani kita, melainkan pada kerendahan hati yang tulus. Kerendahan hati bukan berarti rendah diri, tetapi kejujuran untuk mengakui siapa diri kita di hadapan Allah: lemah, namun dicintai; berdosa, namun diampuni; rapuh, namun berharga. Maka doa sejati bukan tentang berbicara banyak, tetapi soal membuka ruang bagi Allah untuk bekerja di dalam hati.

Bacaan pertama dari Kitab Putra Sirakh menegaskan hal yang sama: “Doa orang miskin menembus awan, dan ia tidak akan tenang sampai mencapai hadapan Yang Mahatinggi.” (Sir 35:17) Artinya, doa yang lahir dari hati yang hancur tidak pernah ditolak. Allah tidak melihat status, jabatan, atau latar belakang seseorang; Ia hanya melihat ketulusan hati. Doa orang yang rendah hati mengguncang surga karena keluar dari kejujuran yang terdalam, bukan dari kesalehan yang dibuat-buat.

Namun, Saudari-saudara terkasih, kerendahan hati tidak berhenti pada kata-kata. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius memberi kesaksian yang kuat: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.” (2Tim 4:7).

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian):Mengenali Zaman, Mengenali Diri

Inilah suara seorang pejuang iman yang rendah hati bukan karena tidak kuat, tetapi karena tahu bahwa semua kekuatannya berasal dari Tuhan. Paulus telah berjuang habis-habisan, namun tidak menyombongkan diri. Ia sadar, yang membuatnya bertahan bukanlah ambisi pribadi, melainkan kasih Allah yang menopang. Kerendahan hati, bagi Paulus, bukan menyerah pada nasib, tetapi menyerahkan hidup pada rahmat.

Mendiang Paus Fransiskus pernah berkata, “Kerendahan hati adalah jalan satu-satunya untuk bertemu Allah, karena Allah tidak ditemukan di puncak gunung kemegahan, tetapi di tanah hati yang rendah.”
Maka, saudari-saudara terkasih, mungkin inilah saatnya kita bertanya: Apakah doa kita masih menjadi tempat perjumpaan dengan Allah, atau sekadar tempat pembuktian diri?

Apakah pelayanan kita sungguh-sungguh lahir dari cinta yang tulus, atau dari keinginan untuk diakui dan kemauan untuk mengumpulkan kebaikan untuk membenarkan diri? Apakah iman kita menundukkan hati, atau justru membuat kita merasa lebih tinggi dari yang lain?

Mari untuk menjawabnya kita belajar dari pemungut cukai hari ini. Ia tidak banyak bicara, tetapi doanya jujur. Ia tidak memiliki keunggulan moral, tetapi ia memiliki kerendahan hati yang membuka hati Allah. Sementara itu, si Farisi memiliki segala kebaikan lahiriah, tetapi kehilangan satu hal yang paling penting, yaitu hati yang butuh Allah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bebas untuk Taat: Menjadi Hamba Kebenaran, Bukan Tawanan Kenyamanan

Kerendahan hati tidak populer, tapi justru di situlah kuasa rohani tersembunyi. Allah tidak bekerja di hati yang penuh dengan diri sendiri, sebab di sana tidak ada ruang bagi-Nya. Tetapi ketika kita menepuk dada dan berkata, “Tuhan, aku butuh Engkau,” saat itulah kasih Allah masuk dan mengubah segalanya.

Saudara-saudari terkasih. Hidup beriman bukan perlombaan untuk menjadi yang paling suci, tetapi perjalanan bersama untuk menjadi semakin rendah hati. Kalau ingin berjalan cepat untuk memenagkan diri, berjalan sendiri.

Tetapi kalau ingin berjalan jauh mencapai surga, berjalanlah bersama-sama dengan rendah hati. Dalam perjalanan bersama itu, setiap doa kita menjadi seperti napas pemungut cukai: sederhana, jujur, dan penuh harapan.

Sebab pada akhirnya, bukan kata-kata indah yang menggetarkan surga, tetapi hati yang hancur dan terbuka yang membuat Allah turun tangan dan menyelamatkan kita. Dan ketika Allah turun tangan, kita pulang ke rumah-Nya sebagai orang yang dibenarkan. Sebab kerendahan hati selalu mengundang rahmat keselamatan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Menyalakan Pelita Iman di Tengah Gelapnya Zaman

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Kerendahan hati bukan tanda kelemahan, tetapi kekuatan sejati yang membuka pintu hati Allah; sebab hanya hati yang kosong dari kesombongan yang dapat dipenuhi oleh kasih-Nya.”

“Doa yang paling menggetarkan surga bukanlah yang paling indah diucapkan, tetapi yang paling jujur dihayati; doa dari hati yang menepuk dada dan berkata, ‘Tuhan, aku butuh Engkau.’”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan