Rabu, 11 Februari 2026. Hari Biasa Pekan V. 1 Raja-Raja 10:1-10; Markus 7:14-23.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARA dan saudari terkasih, tidak semua yang tampak hebat sungguh membawa kebaikan, dan tidak semua yang tampak sederhana berarti miskin nilai. Kita hidup di zaman yang mudah kagum pada kemewahan, prestasi, tampilan luar, dan citra diri.
Kita cepat terpesona oleh yang terlihat indah, cerdas, dan mengagumkan, seakan di sanalah kebenaran dan kebaikan berdiam. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita menembus permukaan itu, sebab hikmat sejati tidak berhenti pada kesan luar, dan kesucian sejati tidak ditentukan oleh apa yang masuk ke tubuh, melainkan oleh apa yang keluar dari hati.
Dalam bacaan pertama, Ratu Syeba datang dari jauh karena mendengar tentang hikmat Salomo. Ia terpesona oleh kebijaksanaan, tata hidup, dan kelimpahan yang ia lihat. Namun yang membuatnya takjub bukan hanya kemegahan istana, melainkan hikmat yang memancar dari cara Salomo memimpin, berbicara, dan hidup.
Hikmat itu bukan sekadar kepintaran otak, melainkan buah dari hati yang takut akan Tuhan. Di sini kita diingatkan bahwa orang beriman dipanggil untuk memancarkan hikmat lewat sikap hidup yang bijaksana, lewat kata yang menyejukkan, lewat keputusan yang adil, dan lewat cara hidup yang membawa damai.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Ramai Ibadahnya, Tapi Bernas Pertobatannya
Dalam hidup sehari- hari, hikmat tampak ketika kita sabar saat terpancing emosi, setia dalam tanggung jawab meski tidak diperhitungkan.
Injil hari ini menggeser perhatian kita dari luar ke dalam. Yesus berkata bahwa bukan apa yang masuk ke dalam diri yang menajiskan manusia, melainkan apa yang keluar dari dalam hati. Dari dalam hati lahir pikiran jahat, iri hati, kesombongan, keserakahan, dusta, hujat, dan kebebalan.
Sabda ini menggugah kita untuk jujur melihat sumber persoalan hidup kita. Banyak konflik dalam keluarga, luka dalam persahabatan, rusaknya relasi di tempat kerja, bukan bermula dari hal besar, tetapi dari hati yang tidak dijaga. Kata yang melukai keluar dari hati yang penuh amarah. Gosip lahir dari hati yang iri. Ketidakjujuran tumbuh dari hati yang serakah. Doa dan ibadah bisa rajin, tetapi jika hati tidak dibersihkan, yang keluar tetap melukai sesama.
Saudara dan saudari terkasih, hikmat Salomo yang mengagumkan lahir dari hati yang tertuju kepada Tuhan, sementara kejahatan yang menajiskan lahir dari hati yang dibiarkan gelap. Yang keluar dari hati menentukan siapa kita sebenarnya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Bait Suci ke Jalanan, Allah yang Menyembuhkan
Orang beriman tidak cukup tampak baik di luar, rapi dalam ritual, fasih dalam kata-kata rohani, tetapi dipanggil untuk membiarkan Tuhan membenahi batin. Membersihkan hati bukan perkara instan. Ia terjadi ketika kita mau diam di hadapan Tuhan, mau mengakui luka dan dosa, mau bertobat setiap hari, dan mau membiarkan Sabda membentuk cara berpikir dan bertindak kita. Ketika hati dibenahi, kata-kata menjadi berkat, tindakan menjadi terang, dan kehadiran kita membawa damai.
Mari, kita lebih jujur menjaga sumber hidup kita, yaitu hati. Jangan hanya sibuk merawat tampilan luar, tetapi rawatlah batin agar bersih dan terbuka bagi rahmat. Mintalah hikmat agar hidup kita memancarkan kebaikan yang lahir dari hati yang dekat dengan Tuhan.
Ketika hati kita dipenuhi kasih, yang keluar dari hidup kita bukan lagi luka, melainkan pengharapan. Bukan lagi kebencian, melainkan pengampunan. Bukan lagi kegelapan, melainkan terang yang menguatkan sesama.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Memberi Rasa dan Cinta
”Kita bisa tampak baik di luar, tetapi hanya hati yang dibenahi Tuhan yang mampu melahirkan kebaikan yang menyembuhkan sesama.”
”Apa yang keluar dari mulut dan tindakan kita adalah gema dari isi hati kita maka jika ingin mengubah dunia di sekitar kita, mulailah dengan membiarkan Tuhan mengubah hati kita.”
Tuhan memberkati kita.






