BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih Sang Gembala Tanpa Batas, Mengapa Hati Kita Masih Terbatas?
Senin, 26 April 2026. Hari Biasa Pekan IV Paskah. Kisah Para Rasul 11:1-18; Yohanes 10:11-18
Oleh: Rd.Fidelis Dua
Pergi ke taman memetik bunga kenanga,
Harumnya lembut memantik kenangan hati,
Jangan menutup nurani karena prasangka,
Habis manis, mengapa kasih tega kaukhianati?
SAUDARI dan saudara terkasih. Dalam kehidupan saat ini, kita hidup di tengah dunia yang mudah memberi label dan batas. Perbedaan sering kali menjadi alasan untuk curiga, menolak, bahkan menyingkirkan.
Kita pun kadang tanpa sadar membangun “tembok-tembok batin” yang membuat hati kita sempit dan tertutup terhadap sesama. Akibatnya, kasih yang seharusnya mempersatukan justru tergantikan oleh sikap eksklusif dan ketakutan akan yang berbeda.
Dalam bacaan pertama, Petrus mengalami pergeseran besar dalam cara pandangnya. Ia menyadari bahwa Allah tidak membatasi kasih-Nya hanya pada satu kelompok, tetapi juga menganugerahkan pertobatan kepada bangsa-bangsa lain.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jadilah Injil yang Hidup: Berakar dalam Kebenaran, Siap Diutus
Pernyataan ini menegaskan bahwa karya keselamatan Allah melampaui batas-batas manusia. Bagi kita, ini menjadi panggilan untuk membuka hati, meninggalkan sikap eksklusif, dan belajar melihat sesama dengan cara pandang Allah bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menerima rahmat dan hidup baru. Iman yang sejati tidak membangun tembok, tetapi membuka jalan bagi kasih yang menyelamatkan.
Dalam Injil, Yesus menegaskan diri-Nya sebagai Gembala yang baik, berbeda dengan seorang upahan yang lari ketika bahaya datang. Gembala sejati tidak meninggalkan domba-dombanya, tetapi tetap setia bahkan sampai mengorbankan diri.
Gambaran ini mengajak kita untuk merenungkan kualitas kasih kita: apakah kita mengasihi dengan setia, atau hanya hadir ketika semuanya mudah dan menguntungkan?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dipanggil untuk tidak menjadi “upahan” dalam relasi yang mudah pergi saat kesulitan datang, melainkan menjadi pribadi yang setia, peduli, dan bertanggung jawab terhadap sesama, seperti Kristus sendiri.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tubuh dan Darah Kristus: Energi Kasih yang Mengubah
Karena itu, saudari dan saudara terkasih, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk memiliki hati yang terbuka dan kasih yang setia. Dari Petrus kita belajar untuk tidak membatasi karya Tuhan dalam hidup orang lain, dan dari Yesus kita belajar untuk mengasihi dengan ketulusan dan pengorbanan.
Marilah kita membangun iman yang inklusif dan relasi yang setia, agar hidup kita menjadi tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan. Sebab ketika kita membuka hati dan setia dalam kasih, di situlah hidup kita menjadi jalan bagi orang lain untuk mengalami Tuhan.
Petikan BUSA-H untuk kita:
”Prasangka menutup mata hati, tetapi kasih membuka jalan bagi kita untuk melihat sesama dengan pandangan Allah yang penuh rahmat.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ketika Iman Menjadi Relasi, Bukan Transaksi
”Kasih sejati tidak pergi ketika terluka, tidak mundur ketika sulit, dan tidak berubah ketika diuji—ia tetap tinggal, setia, dan menghidupkan.”
”Hati yang dikuasai curiga mengerdilkan kasih, tetapi hati yang terbuka memancarkan energi dan menyalakan terang yang menghidupkan.”
Tuhan memberkati kita.#rd.fd@
Editor: Eginius Moa





