Senin, 20 April 2026. Hari Biasa Pekan III Paskah. Kisah Para Rasul 6:8-15; Yohanes 6:22-29

Oleh: Rd.Fidelis Dua

Pergi ke taman memetik melati,
Harumnya lembut menyentuh hati,
Jangan hanya mencari yang terlihat pasti,
Carilah yang kekal yang sering terlewati.

SAUDARI dan saudara terkasih.Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang datang kepada Tuhan karena kebutuhan dan kepentingan tertentu. Sebab itu kita sering terdorong untuk mencari hal-hal yang instan, nyata, dan langsung menguntungkan.

Kita mudah tertarik pada apa yang tampak di depan mata, tetapi kurang memberi ruang bagi nilai-nilai yang lebih dalam dan kekal. Akibatnya, relasi dengan Tuhan menjadi dangkal dan kerap dibangun bukan karena kasih dan iman, melainkan karena kebutuhan dan kepentingan sesaat daripada cinta yang tulus.

Dalam bacaan pertama, kita melihat sosok Stefanus yang penuh rahmat, iman dan kuasa, sehingga tidak seorang pun mampu melawan hikmat dan Roh yang berbicara melalui dia. Ia tetap teguh bersaksi tentang kebenaran, bahkan ketika menghadapi perlawanan dan tuduhan. Wajahnya yang bercahaya memancarkan damai, bagaikan wajah seorang malaikat. Tanda bahwa ia hidup dalam keintiman atau kedalaman relasinya dengan Allah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Ada di Sampingmu, Meski Tak Kau Sadari

Dari sini kita belajar bahwa hidup yang sungguh bersatu dengan Tuhan akan memancarkan damai dan keberanian, bahkan di tengah tekanan dan penderitaan. Ketika seseorang sungguh hidup dalam kebenaran, ia akan memancarkan sukacita dan kekuatan, sekalipun menghadapi tantangan dan penolakan.

Dalam Injil, Yesus menegur orang banyak yang mencari-Nya bukan karena memahami tanda-tanda, tetapi karena mereka telah kenyang oleh roti yang diberikan-Nya. Ia mengarahkan mereka untuk tidak hanya mengejar hal-hal yang fana, tetapi berusaha untuk memperoleh makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.

Ini menjadi pengingat bagi kita untuk memeriksa motivasi iman kita: iman bukan soal mencari keuntungan, tetapi membangun relasi yang tulus dengan Tuhan. Apakah kita mencari Tuhan karena kasih dan kerinduan akan hidup kekal, atau hanya karena keuntungan sementara?

Karena itu, hari ini kita dipanggil untuk meluruskan hati dan arah hidup kita, yakni mencari Tuhan dengan hati yang benar dan motivasi yang murni. Seperti Stefanus, kita diajak untuk hidup dalam relasi yang mendalam dengan Allah dan hidup dalam Roh, sehingga iman kita tidak mudah goyah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Tengah Badai, Tuhan Hadir: Kita Takkan Tercerai-Berai

Dan, seperti yang diajarkan Yesus, kita hendaknya tidak hanya mengejar berkat jasmani, tetapi mengarahkan hidup pada nilai-nilai kekal. Maka, marilah kita membangun iman yang sejati sebagai relasi yang hidup dengan Tuhan, yang tidak mudah goyah oleh keadaan dan bukan sekadar mencari sesuatu yang dangkal, agar hidup kita sungguh berakar dalam kebenaran dan berbuah dalam kehidupan yang kekal.

Petikan BUSA-H untuk kita:

”Iman yang sejati tidak mencari apa yang bisa diterima dari Tuhan, tetapi mencari Tuhan sebagai tujuan hidup itu sendiri.”

”Apa yang fana hanya mengenyangkan sesaat, tetapi hanya Tuhan yang mampu mengisi kekosongan jiwa untuk selamanya.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Setia dalam Iman, Berlimpah dalam Berbagi

”Hati yang sungguh bersatu dengan Tuhan akan tetap tenang dan bercahaya, bahkan di tengah penolakan dan penderitaan.”

Tuhan memberkati kita.#rd.fd@

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan